Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono dan mitranya dari Venezuela, Yvan Gil Pinto, mengadakan pertemuan bilateral penting di sela-sela Sidang Umum PBB ke-80 di New York pada Jumat. Diskusi ini berfokus pada penguatan kerja sama ekonomi antara kedua negara, dengan penekanan khusus pada isu krusial keamanan pangan dan energi. Pertemuan tersebut menegaskan komitmen kedua negara untuk memanfaatkan potensi besar yang dimiliki dalam kolaborasi strategis.
Sugiono menyatakan setelah pertemuan bahwa Indonesia dan Venezuela memiliki potensi besar untuk bekerja sama dalam mencapai keamanan pangan dan energi. Dia juga menyoroti kehadiran perusahaan energi milik negara Indonesia di Venezuela, menunjukkan fondasi yang sudah ada untuk kemitraan yang lebih dalam. Dukungan berkelanjutan dari pemerintah Venezuela diharapkan dapat memperdalam kerja sama di sektor-sektor vital ini.
Pertemuan ini juga menjadi ajang untuk menegaskan kembali komitmen kedua negara terhadap kemitraan yang telah terjalin selama 66 tahun. Kedua menteri sepakat untuk meningkatkan hubungan bilateral melalui konsultasi politik dan mekanisme komisi bersama. Langkah-langkah ini diharapkan dapat memperkuat ikatan diplomatik dan ekonomi yang telah lama terbina.
Advertisement
Advertisement
Menteri Luar Negeri Sugiono secara lugas menyampaikan potensi kolaborasi yang besar antara Indonesia dan Venezuela dalam mewujudkan keamanan pangan dan energi. Kehadiran perusahaan energi milik negara Indonesia di Venezuela menjadi bukti nyata dari komitmen awal ini. Indonesia berharap dapat memperluas jejaknya di sektor energi Venezuela.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Sugiono menekankan pentingnya dukungan penuh dari pemerintah Venezuela. Dukungan ini krusial untuk memperdalam kerja sama di sektor pangan dan energi, yang merupakan pilar utama stabilitas ekonomi. Kedua negara bertekad untuk menciptakan sinergi yang saling menguntungkan.
Selain itu, pertemuan ini mengukuhkan kembali kemitraan yang telah berjalan selama 66 tahun antara Indonesia dan Venezuela. Para menteri sepakat untuk memperkuat hubungan bilateral melalui konsultasi politik rutin dan mekanisme komisi bersama. Inisiatif ini bertujuan untuk memastikan kelangsungan dan peningkatan kerja sama di masa mendatang.
Advertisement
Advertisement
Dalam pertemuan tersebut, Sugiono juga menyoroti pentingnya perlindungan warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Venezuela. Ia menegaskan bahwa perlindungan WNI selalu menjadi prioritas utama dalam diplomasi Indonesia, mengingat Venezuela adalah rumah bagi salah satu komunitas Indonesia terbesar di Amerika Latin. Ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah Indonesia terhadap kesejahteraan warganya di luar negeri.
Sugiono menyampaikan apresiasi atas komitmen Venezuela dalam memastikan keselamatan WNI di sana. Kedua menteri juga sepakat untuk meningkatkan komunikasi tingkat tinggi dan kunjungan timbal balik, termasuk di tingkat kepemimpinan, guna memperdalam kerja sama di masa depan. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat saling pengertian dan kepercayaan antarnegara.
Di luar isu bilateral, kedua belah pihak bertukar pandangan mengenai perkembangan regional. Venezuela menyatakan harapan agar Indonesia dapat memainkan peran yang lebih besar dalam mempromosikan dialog dan diplomasi. Peran ini diharapkan dapat mendukung perdamaian dan stabilitas global serta regional secara berkelanjutan.
Advertisement
Advertisement
Indonesia dan Venezuela telah menjaga hubungan erat sebagai sesama anggota Gerakan Non-Blok. Tahun ini menandai peringatan 66 tahun hubungan diplomatik kedua negara, yang secara resmi terjalin pada 10 Oktober 1959. Sejarah panjang ini menjadi landasan kuat bagi kerja sama yang lebih erat di berbagai bidang.
Kedua negara juga berkomitmen untuk memperluas pertukaran orang ke orang dan meningkatkan kerja sama antar lembaga pemerintah. Selain itu, upaya untuk mendorong keterlibatan bisnis ke bisnis yang lebih kuat juga menjadi fokus utama. Inisiatif ini diharapkan dapat memperkaya dimensi hubungan bilateral.
Venezuela, yang dikenal dengan cadangan minyak terbesar di dunia, pernah menunjukkan solidaritas dengan mengirimkan bantuan kemanusiaan untuk korban gempa Palu di Sulawesi Tengah. Mereka juga membantu mendirikan Politeknik Indonesia-Venezuela di Aceh setelah tsunami 2004. Sementara itu, Indonesia mengoperasikan Sekolah Indonesia di Venezuela, yang berfungsi sebagai pusat promosi budaya dengan menawarkan pelajaran batik dan instrumen tradisional seperti angklung.
Advertisement
Sumber: AntaraNews