Gadis di Jember Bunuh Diri karena Diteror Pinjol, Polisi Selidiki Unsur Pidana

Senin, 23 Agustus 2021 05:59 Reporter : Muhammad Permana
Gadis di Jember Bunuh Diri karena Diteror Pinjol, Polisi Selidiki Unsur Pidana ER saat dievakuasi pada Jumat (20/8). ©2021 Merdeka.com/Istimewa

Merdeka.com - Polisi sudah memastikan motif ERP (23) nekat bunuh diri karena sudah tidak kuat lagi menghadapi teror penagih utang pinjaman online (pinjol). Ironisnya, meski warga Jember itu telah tiada, penagih utang masih saja menghubungi telepon selularnya.

Berdasarkan penyelidikan polisi, ERP diduga kerap mendapat teror yang tidak manusiawi dari para penagih utang pinjol. Teror biasanya dilakukan dengan ancaman akan mempermalukan korban dengan mengumumkan utangnya ke kontak yang ada di ponselnya.

"Para pelaku pinjol yang diduga ilegal ini memang cerdik ya, dan masyarakat masih banyak yang awam. Saat masyarakat meminjam ke pinjol yang diduga ilegal, maka kontak yang ada di ponsel si peminjam bisa diakses oleh pinjol tersebut," tutur Kapolsek Balung AKP Sunarto saat dikonfirmasi merdeka.com, Minggu (22/8).

ER merupakan pegawai honorer di salah satu rumah sakit milik pemerintah. Perempuan lajang ini hanya tinggal berdua dengan ibunya di rumah mereka Desa Balung Lor, Jember. Sementara adiknya sedang kuliah di Malang.

Ibunya menemukan jenazah ER tergantung di rumahnya pada Jumat (20/8) sore. Polisi yang mendapat laporan kasus bunuh diri langsung melakukan olah TKP.

Selain menemukan surat wasiat, polisi juga memeriksa ponsel milik ER. Di dalam gadget itu terdapat riwayat komunikasi yang cukup intens dengan penagih utang pinjol.

Meski ER sudah bunuh diri karena tidak kuat diteror, para penagih utang pinjol yang diduga ilegal itu masih terus menghubunginya. Penagih pinjol itu belum mengetahui jika korbannya sudah tak bernyawa.

"Saat HP ada di tangan kita, memang masih banyak sekali berdering, telepon terus dari si penagih pinjol itu," tutur Sunarto.

Cara-cara penagihan pinjol itu diduga membuat ER tertekan. Sebab, dia diancam akan dipermalukan, yakni dengan menagih ke nomor kontak yang ada di ponsel miliknya.

"Pinjolnya mengancam akan memberitahukan kepada seluruh kontak yang ada di hp si peminjam, jika tidak segera membayar utangnya. Tetapi ibunya juga tidak tahu kalau korban ada masalah dengan pinjol," tutur Sunarto.

Polisi membuka kemungkinan untuk mengusut teror dari pinjol itu. "Sebenarnya, unsur ancaman itu ada beberapa subnya ya, termasuk seperti ini. Si peminjam akhirnya frustasi dan gelap mata," papar Sunarto.

Meski demikian, polisi masih harus mengkaji lebih dalam soal cara mengatasi teror pinjol yang diduga ilegal ini. "Tapi nanti tetap kita akan tetap bahas tentunya dengan pihak ketiga, seperti ahli hukum, untuk dimintai keterangannya berkaitan dengan hal ini. Karena memang faktanya masyarakat dibuat resah dengan pinjol seperti ini," papar Sunarto.

Kasus ini juga sudah dilaporkan ke Polres Jember. "Kami sudah laporkan ke pimpinan kami, Bapak Kapolres, agar dicari solusinya, supaya masyarakat kita tidak gampang pinjam ke pinjol yang tidak jelas ini," pungkas Sunarto.

Sunarto memaparkan, pihaknya juga tengah mempelajari detil ancaman atau teror para penagih utang pinjol kepada ERP. "Jika ada ancaman kekerasan, akan ditindaklanjuti dengan proses hukum. Ini sebagai warning kepada masyarakat," tegasnya.

Polisi sudah mengumpulkan sejumlah barang bukti terkait kasus ini, termasuk menyalin isi chat antara ERP dengan penagih utang dari pinjol. Percakapan itu terekam dalam WhatsApp di ponsel korban.

"Selain lewat telepon, komunikasi pinjol dengan korban juga dilakukan lewat chatting Whatsapp. Chat tersebut sudah kita screenshoot untuk dijadikan salah satu petunjuk alat bukti," tutur mantan personel Brimob Polda Jatim ini.

Polisi belum memeriksa ibu ERP. Perempuan itu masih berduka setelah mendapati putrinya bunuh diri. "Kita berempati. Kemarin memang sempat kita tanya, tapi sedikit, karena kondisinya masih sangat berduka," jelas Sunarto.

Sejauh ini ibu ERP mengaku tidak tahu menahu jika putrinya terjerat utang dengan pinjol yang diduga ilegal. "Pengakuan sementara begitu, tapi kemarin kita hanya bertanya sekilas saja, karena kondisi," tutur Sunarto.

Rencananya polisi baru akan memintai keterangan kepada ibu ERP pada pekan depan. "Tetapi anggota saya nanti yang akan ke rumah korban, bukan dipanggil ke kantor polisi. Karena kita sangat memahami kondisi psikologis dari keluarga korban," tutur Sunarto. [yan]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini