Framing Hoaks Soal Penangkapan Anggota BAIS, TNI: Sangat Melukai Hati Prajurit

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Brigjen Freddy Ardianzah, tidak ada anggotanya yang diciduk dan tidak ada anggota TNI yang memiliki niat jahat.

Muhammad Radityo Priyasmoro
Framing Hoaks Soal Penangkapan Anggota BAIS, TNI: Sangat Melukai Hati Prajurit
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Brigjen Freddy Ardianzah (Ditto Radityo)

Tentara Nasional Indonesia (TNI) membantah kabar yang menyebutkan bahwa anggota Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI ditangkap oleh Brimob dalam aksi unjuk rasa yang berujung ricuh beberapa waktu lalu. Pihak TNI menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar dan menyesatkan.

Menurut Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Brigjen Freddy Ardianzah, tidak ada anggotanya yang diciduk dan tidak ada anggota TNI yang memiliki niat jahat seperti yang diberitakan di media sosial.

"Pada kesempatan kali ini izinkan saya berupaya meluruskan beberapa hal yang kami anggap sebagai hoax," tegas Freddy saat jumpa pers di Mabes TNI Jakarta, Jumat (5/9).

Freddy mengungkap, foto, video dan konten yang ada dijadikan bahan olen media sosial maupun orang-orang tidak bertanggungjawab bertujuan mendiskreditkan TNI. Dia menegaskan, hal itu sangat melukai hati para prajurit yang bertugas tulus ikhlas membantu Polri melindungi rakyat.

"Terus terang saya sampaikan, dampak dari pemberitaan yang meluas terkait dengan TNI dalang kerusuhan, TNI tertangkap-ditangkap Polri, kemudian TNI provokator, itu betul-betul bagi kami statement maupun pemberitaan yang melukai hati para prajurit dan instansi TNI," kecewa Freddy.

Freddy pun menyayangkan foto anggota BAIS bersama Brimob dengan menunjukkan kartu tanda anggota (KTA) menyebar luas. Imbasnya, memicu munculnya framing hoax yang mengadu domba Polri dan TNI di mata rakyat.

"Seyogyanya tidak perlu disampaikan ke media (soal foto) Karena apa? Karena pertama, Mayor SS adalah anggota intelijen (bais), sifat-sifat tugasnya adalah rahasia. Jadi yang perlu saya sampaikan tidak ada penangkapan oleh Polri. Kemudian tidak ada upaya provokator, tugasnya murni tugas negara untuk memantau, pengumpulan data yang dibutuhkan oleh pimpinan untuk menentukan misalnya memperkuat di daerah A, memperkuat di daerah B," kata jenderal TNI bintang satu ini.

Menanggapi hal itu, Karopenmas Polri Brigjen Trunoyudo mengaku, sejauh ini pihaknya masih menyelidiki siapa pihak yang coba mengadu domba Polri dan TNI dari framing hoax tersebut di media sosial.

"Inventarisasi di beberapa polda yang sudah menangani dan kemudian juga melakukan konsolidasi tentu akan melakukan analisa. Khususnya pada konteks penegakan hukum, kemudian dalam proses penyidikan ada gelar perkara. Analisa akan menjadi suatu hasil yang dikonstruksikan melalui proses penegakan hukum," katanya.

Rekomendasi