Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap Rupiah mulai dikeluhkan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Salah satunya adalah Patris, sebuah toko baju online yang menaungi sekitar 10 UMKM.
Patris, yang berdiri sejak 2020 dengan total pekerja mencapai 300 orang, menyampaikan kekhawatirannya atas dampak kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap biaya operasional mereka.
Sebagai pelaku UMKM yang memanfaatkan marketplace digital untuk memasarkan produk hingga ke pasar internasional, termasuk Amerika Serikat, Patris mengandalkan daya saing harga sebagai salah satu kekuatan utama.
Namun, sekitar 70 persen bahan baku yang digunakan oleh UMKM binaan Patris berasal dari impor, sehingga fluktuasi nilai tukar dolar memberikan tekanan signifikan terhadap biaya produksi.
Dalam kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian, pelaku UMKM seperti yang dibina oleh Patris menjadi salah satu sektor yang paling rentan terdampak. Meski demikian, mereka juga memiliki potensi besar untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional jika diberi ruang dan dukungan yang memadai.