Fakta Unik: Indeks Pertanaman Sumsel 1,1, Mampukah Dongkrak Produksi Padi hingga 5 Juta Ton?

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan berambisi tingkatkan Indeks Pertanaman Sumsel dari 1,1 menjadi 1,5, berpotensi dongkrak produksi padi hingga 5 juta ton. Simak strategi lengkapnya!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta Unik: Indeks Pertanaman Sumsel 1,1, Mampukah Dongkrak Produksi Padi hingga 5 Juta Ton?
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan berambisi tingkatkan Indeks Pertanaman Sumsel dari 1,1 menjadi 1,5, berpotensi dongkrak produksi padi hingga 5 juta ton. Simak strategi lengkapnya! (Merdeka.com)

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) kini tengah memfokuskan upaya untuk meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) di wilayahnya. Langkah strategis ini diambil guna mendongkrak signifikan produksi padi demi ketahanan pangan nasional. Tujuannya adalah memastikan ketersediaan beras yang stabil bagi masyarakat.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel, Bambang Pramono, mengungkapkan bahwa Indeks Pertanaman Sumsel saat ini masih berada di angka 1,1. Jika angka ini dapat ditingkatkan menjadi 1,5, produksi gabah kering giling (GKG) Sumsel diperkirakan bisa mencapai lima juta ton. Ini merupakan target ambisius yang membutuhkan kerja keras.

Peningkatan IP menjadi 1,5 berarti pertanaman kedua dapat mencakup 50 persen dari luas baku sawah yang ada. Tantangan ini sekaligus menjadi peluang besar bagi Sumsel untuk mengoptimalkan lahan pertaniannya. Dengan demikian, potensi peningkatan produksi padi dapat terealisasi dalam waktu dekat.

Indeks Pertanaman (IP) merupakan indikator penting dalam mengukur intensitas pemanfaatan lahan pertanian. Saat ini, Indeks Pertanaman Sumsel berada pada angka 1,1, menunjukkan bahwa sebagian besar lahan hanya ditanami satu kali dalam setahun. Pemerintah Sumsel bertekad untuk mengubah kondisi ini.

Bambang Pramono menjelaskan bahwa target peningkatan IP menjadi 1,5 akan membuka peluang besar. "Ini tantangan kita. Kalau bisa diatasi tentunya produksi kita bisa naik. Kalau IP bisa 1,5, atau dalam kata lain pertanaman kedua bisa mencapai 50 persen dari luas baku sawah, maka produksi Sumsel bisa mencapai 5 juta ton GKG," ujarnya. Ambisi ini menunjukkan komitmen serius.

Pencapaian IP 1,5 berarti adanya peningkatan frekuensi tanam padi dalam setahun di lahan yang sama. Hal ini secara langsung akan berkorelasi dengan volume panen. Dengan demikian, target 5 juta ton gabah kering giling (GKG) bukan lagi sekadar impian, melainkan tujuan yang realistis.

Peningkatan ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pangan lokal. Selain itu, kelebihan produksi dapat berkontribusi pada pasokan beras nasional. Ini akan memperkuat posisi Sumsel sebagai salah satu lumbung padi utama di Indonesia.

Peningkatan produksi padi Sumsel dalam lima tahun terakhir menunjukkan tren positif yang signifikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi Gabah Kering Giling (GKG) Sumsel pada periode Januari hingga Oktober 2025 mencapai 3,3 juta ton. Angka ini naik 22,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 2,7 juta ton.

Kenaikan produksi ini tidak terlepas dari intervensi benih yang gencar dilakukan oleh pemerintah. Baik melalui anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) maupun anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD), bantuan benih telah disalurkan secara masif. Program ini terbukti efektif dalam meningkatkan produktivitas lahan pertanian.

Pada tahun 2024 dan 2025, bantuan benih telah menjangkau lahan seluas 173 ribu hektare. Intervensi ini memastikan petani mendapatkan benih unggul yang sesuai. Ketersediaan benih berkualitas merupakan faktor krusial dalam keberhasilan panen padi.

Pemerintah daerah juga berkomitmen untuk melanjutkan program ini. Untuk mendukung target produksi padi sebesar 4 juta ton pada tahun 2026, intervensi benih akan kembali dilakukan. Kali ini, bantuan akan disalurkan untuk lahan seluas 200 ribu hektare. Ini menunjukkan skala prioritas yang tinggi.

Dengan berbagai strategi dan intervensi yang telah dijalankan, proyeksi produksi padi Sumsel menunjukkan optimisme. Target 4 juta ton pada tahun 2026 menjadi indikator ambisi pemerintah. Ini juga mencerminkan potensi besar sektor pertanian di wilayah tersebut.

Peningkatan produksi padi bukan hanya sekadar angka, tetapi juga berdampak pada kesejahteraan petani. Dengan panen yang lebih melimpah, pendapatan petani diharapkan ikut meningkat. Hal ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi di pedesaan.

Dukungan pemerintah terhadap sektor pertanian Sumsel sangatlah kuat dan terkoordinasi. "Kita akan lakukan intervensi benih melalui sumber pembiayaan APBN, APBD provinsi, dan APBD kabupaten/kota," jelas Bambang. Sinergi ini memastikan keberlanjutan program.

Kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci utama dalam mencapai target produksi. Dengan alokasi anggaran yang memadai dan implementasi program yang tepat, Indeks Pertanaman Sumsel dapat meningkat. Pada akhirnya, ini akan mengamankan pasokan pangan dan meningkatkan produksi padi secara berkelanjutan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi