Bupati Gianyar, Bali, I Made Mahayastra, secara langsung menyerahkan bantuan bedah rumah kepada salah satu warga yang terdampak banjir. Bantuan senilai Rp60 juta ini diberikan kepada Nyoman Pariana, seorang warga di Banjar Peteluan, Desa Temesi, Kabupaten Gianyar, yang rumahnya mengalami kerusakan parah.
Penyerahan bantuan ini merupakan bagian dari respons cepat pemerintah daerah terhadap bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut. Pemerintah Kabupaten Gianyar telah melakukan pendataan komprehensif untuk mengidentifikasi skala kerusakan dan kebutuhan masyarakat.
Banjir besar yang terjadi sebelumnya telah menyebabkan kerugian signifikan, dan bantuan Bantuan Bedah Rumah ini diharapkan dapat meringankan beban korban. Upaya ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pemulihan pasca-bencana bagi warganya.
Advertisement
Advertisement
Respons Cepat Pemerintah Daerah dalam Penanganan Bencana
Bupati Gianyar I Made Mahayastra menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam penanganan bencana yang melanda wilayahnya. Pendataan telah dilakukan secara menyeluruh sesuai tugas dan tanggung jawab yang diamanatkan oleh pemerintah pusat.
“Kami sudah melakukan pendataan sesuai tugas dan tanggung jawab oleh Pemerintah Pusat. Di Gianyar tercatat ada 428 titik bencana,” kata Bupati Gianyar melalui keterangan tertulis yang diterima di Denpasar, Bali. Angka ini menunjukkan skala kerusakan yang cukup luas di wilayah tersebut.
Selain Bantuan Bedah Rumah, Pemerintah Kabupaten Gianyar juga menyiapkan 318 paket kebutuhan pokok. Paket-paket ini akan segera dibagikan melalui kepala desa kepada masyarakat yang terdampak bencana, memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi.
Advertisement
Advertisement
Kerusakan Infrastruktur dan Seruan Menjaga Lingkungan
Kerusakan fisik akibat banjir di Gianyar mencakup berbagai infrastruktur vital seperti jalan, jembatan, dan juga rumah-rumah warga. Semua kerusakan ini telah didata dengan cermat untuk segera mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat maupun daerah.
Bupati belum merinci jumlah pasti serta skala kerusakan fasilitas umum dan rumah warga terdampak tersebut. Namun, ia menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menaati aturan tata ruang dan menjaga lingkungan sekitar.
“Kita hormati aturan yang ada. Jika sempadan sungai, tetaplah menjadi sempadan sungai. Jika jalur hijau, maka harus kita jaga karena pemerintah dan masyarakat harus sama-sama punya tanggung jawab dalam menjaga lingkungan,” ujar Bupati Mahayastra. Pernyataan ini menjadi seruan penting bagi seluruh elemen masyarakat.
Advertisement
Banjir di Gianyar tersebar di lima desa yang seluruhnya berada di bagian hilir kabupaten tersebut. Desa-desa yang terdampak meliputi Batubulan Kangin, Batuan, Celuk, Ketewel, dan Batubulan, menunjukkan sebaran geografis bencana yang cukup luas.
Advertisement
Dampak Luas Banjir Bali dan Upaya Penanggulangan
Banjir besar dan tanah longsor melanda tujuh kabupaten/kota di Bali pada Rabu (10/9) dini hari, dipicu oleh hujan ekstrem sejak Selasa (9/9). Wilayah yang terdampak meliputi Kota Denpasar, Kabupaten Klungkung, Badung, Jembrana, Gianyar, Karangasem, dan Tabanan.
Skala bencana ini menunjukkan perlunya koordinasi lintas daerah dan upaya penanggulangan yang komprehensif. Peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan wilayah Bali terhadap bencana hidrometeorologi.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total 18 korban tewas hingga operasi pencarian dihentikan pada Kamis (18/9). Empat orang lainnya dinyatakan hilang, termasuk satu orang dari Denpasar dan tiga korban yang merupakan satu keluarga di Kabupaten Badung.
Advertisement
Sumber: AntaraNews