Kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol ternyata bukan sekadar kebiasaan buruk biasa. Pakar Kesehatan Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Agung Nugroho, mengingatkan bahwa dua kebiasaan ini dapat menjadi pintu masuk paling mudah bagi remaja untuk terjerat narkoba.
Pernyataan ini disampaikan Agung Nugroho di Yogyakarta pada Selasa (30/9), menyoroti fenomena Fear of Missing Out (FOMO) di kalangan remaja. Ia menjelaskan bahwa rasa ingin tahu yang besar dan keinginan untuk diterima dalam kelompok seringkali mendorong remaja mencoba hal-hal baru, termasuk rokok dan alkohol, yang berujung pada risiko yang lebih besar.
Riset menunjukkan bahwa remaja yang sudah terbiasa merokok atau minum alkohol memiliki risiko yang jauh lebih tinggi untuk beralih ke narkoba. Situasi ini menuntut kewaspadaan tinggi dari semua pihak, terutama orang tua dan institusi pendidikan, dalam memberikan edukasi yang tepat.
Advertisement
Advertisement
Agung Nugroho menjelaskan bahwa remaja pada prinsipnya memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Mereka juga cenderung mudah terpengaruh oleh kelompok sebaya atau lingkungan pergaulan mereka. Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) seringkali menjadi pemicu utama di balik keputusan remaja untuk mencoba rokok dan alkohol.
Kebiasaan merokok di kalangan remaja Indonesia masih tergolong tinggi, bahkan banyak yang menganggapnya sebagai simbol maskulinitas atau tanda kedewasaan. Padahal, riset telah menunjukkan bahwa kebiasaan ini justru membuka peluang besar bagi masuknya narkoba. Remaja seringkali tidak menyadari bahaya yang terkandung di dalamnya.
“Ketika ditawarin rokok, remaja sering tidak tahu di dalamnya ada campuran ganja atau bahan berbahaya lain. Awalnya gratis, lama-lama mereka jadi kecanduan,” ujar Agung Nugroho. Pernyataan ini menegaskan bahwa bahaya rokok tidak hanya terletak pada nikotin, tetapi juga potensi penyalahgunaan zat lain yang tidak disadari.
Advertisement
Selain rokok, konsumsi alkohol juga menjadi gerbang awal yang berbahaya. Kedua kebiasaan ini melemahkan pertahanan diri remaja dan membuat mereka lebih rentan terhadap tawaran narkoba di kemudian hari.
Advertisement
Lingkungan pergaulan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perilaku remaja. Remaja seringkali ingin diakui dalam kelompoknya, sehingga mereka cenderung mengikuti perilaku teman sebaya, meskipun itu adalah perilaku negatif. Tekanan dari teman sebaya ini bisa menjadi faktor pendorong utama dalam mencoba rokok, alkohol, hingga narkoba.
Peran orang tua sebagai 'role model' sangat krusial dalam pencegahan narkoba. Agung Nugroho menekankan bahwa keteladanan jauh lebih efektif daripada sekadar larangan. “Orang tua harus sadar, mereka adalah 'role model'. Tidak mungkin melarang anak merokok sementara dirinya sendiri masih merokok,” tegasnya.
Tantangan terbesar dalam upaya pencegahan narkoba adalah sikap permisif sebagian masyarakat. Adanya anggapan bahwa narkoba bisa diobati sehingga tidak terlalu berbahaya, justru sangat berbahaya. Pandangan ini dapat membuat remaja tidak takut untuk mencoba, karena mereka merasa ada jalan keluar jika terjerat.
Advertisement
Oleh karena itu, perubahan pola pikir di masyarakat dan peningkatan kesadaran akan bahaya narkoba adalah langkah penting. Orang tua perlu secara konsisten memberikan contoh positif dan membangun komunikasi terbuka dengan anak-anak mereka.
Advertisement
Edukasi tentang narkoba harus dilakukan sejak dini, meskipun penyampaiannya perlu hati-hati. Anak-anak perlu tahu berbagai bentuk narkoba, cara kerjanya, dan risiko yang ditimbulkannya. Bentuk narkoba kini semakin beragam, bahkan pernah ditemukan dalam permen yang membuat anak-anak kecanduan, menunjukkan betapa pentingnya kewaspadaan.
Situasi ini membutuhkan kewaspadaan tinggi, tidak hanya dari orang tua tetapi juga dari instansi terkait. Program edukasi yang komprehensif dan berkelanjutan perlu digalakkan untuk membekali remaja dengan pengetahuan yang cukup agar mereka mampu membuat keputusan yang tepat.
Agung Nugroho berharap para remaja berani berkata tidak sejak awal. Penolakan ini tidak hanya berlaku saat ditawari narkoba, tetapi juga ketika ditawari rokok dan alkohol. Kemampuan untuk menolak tawaran awal ini merupakan benteng pertahanan pertama yang sangat penting.
Advertisement
“Kalau bisa menolak pintu masuknya dulu, insyaallah risiko terjerat narkoba akan jauh lebih kecil,” pungkas Agung. Pesan ini menjadi pengingat kuat bahwa pencegahan adalah kunci utama dalam melindungi generasi muda dari bahaya narkoba.
Sumber: AntaraNews