Epidemiologi Universitas Hasanuddin, Ansariadi mengingatkan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Selatan (Sulsel), khususnya Makassar bahwa penyebaran Covid-19 masih belum terkendali. Meski pada tanggal 19 Juni kemarin sudah masuk zona hijau. Peringatan tersebut disampaikan mengingat terus bertambahnya kasus Covid-19 di Sulsel.
Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unhas ini mengatakan jumlah kasus baru meningkat setiap minggunya. Ia mencontohkan pada minggu lalu di Sulsel lebih dari 300 kasus baru, meski sebagian besar sembuh.
"Tapi jumlah kasus baru bertambah terus itu artinya kita gagal dalam mengendalikan pandemi ini," ujarnya kepada merdeka.com, Rabu (23/6).
Khusus untuk Kota Makassar, Ansariadi juga menyebut situasi Covid-19 belum terkendali. Ia mengatakan terdapat 328 kasus di mana 55 persen diantaranya dirawat di rumah sakit.
"Peningkatan jumlah kasus per minggu masih terus terjadi di Makassar sejak lima minggu terakhir. Peningkatan kasus ini dapat meningkatkan hunian karena Covid-19 di rumah sakit," kata dia.
Ia merinci pada minggu ketiga bulan Juni, total kasus terdeteksi sebenyak 164 orang kasus baru. Jumlah ini meningkat 14 persen dari minggu sebelumnya 144 kasus baru (Rt > 1).
"Peningkatan jumlah kasus ini terjadi dihampir semua kelompok umur. Kalau upaya penemuan kasus baru, menelusuri kontak erat dan isolasi tidak dilakukan dengan baik, maka kasus akan meningkat terus dalam beberapa minggu ke depan. Positivity rate masih tinggi yaitu 10-20 persen, idealnya di bawah 5 persen," paparnya.
Terkait rencana Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto untuk menerapkan skrining ganda di bandara, pelabuhan, dan terminal untuk pendatang, Ansariadi menilai hal tersebut tidak akan berpengaruh banyak. Ia menyarankan, agar Pemkot Makassar lebih mengedepankan karantina bagi pendatang.
"Misalnya, seseorang kalau dari daerah yang tinggi kasusnya masuk salah satu daerah. Dia tidak boleh ke mana-mana sampai batas waktu tertentu, sebelum dinyatakan bebas dari Covid," ucapnya.
Ia mencontohkan seperti yang dilakukan negara lain menerapkan karantina bagi siapa saja yang masuk ke negaranya. "Sama seperti kalau orang dari luar negeri masuk ke Indoensia, mereka dikarantina dulu satu minggu kemudian tes swab, kalau negatif baru bisa beraktivitas bebas," tuturnya.
Ansariadi menambahkan saat ini penularan Covid-19 di Kota Makassar bukan lagi dari luar, tetapi sudah lokal. "Jadi pengendalian dari dalam juga harus bagus, bukan dari luar saja," ucapnya.