Anggota DPRD Kota Banjarmasin, Hendra, menyatakan dukungan penuh terhadap gerakan edukasi penanganan darurat sampah di wilayah tersebut. Inisiatif ini muncul sebagai respons atas penutupan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Basirih oleh Kementerian Lingkungan Hidup RI, yang memicu status darurat sampah sejak Februari 2025.
Hendra menekankan bahwa penanggulangan masalah sampah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, melainkan membutuhkan kolaborasi aktif dari seluruh elemen masyarakat. Edukasi mengenai pemilahan sampah menjadi kunci utama untuk mengurangi volume sampah yang harus dibuang ke TPAS.
Dalam kegiatan reses di Surgi Mufti, Banjarmasin Utara, Hendra menyisipkan pesan penting kepada masyarakat untuk bersama-sama menanggulangi permasalahan sampah ini. Gerakan ini diharapkan dapat menumbuhkan pemahaman kolektif tentang pentingnya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.
Advertisement
Advertisement
Anggota DPRD Banjarmasin, Hendra, secara konsisten menyuarakan pentingnya edukasi dalam setiap kesempatan, termasuk saat kegiatan reses. Ia percaya bahwa pemahaman masyarakat tentang pengurangan dan pemilahan sampah adalah fondasi utama untuk mengatasi krisis lingkungan ini.
Menurut Hendra, status darurat sampah di Banjarmasin yang telah berlaku sejak Februari 2025 menuntut pendekatan holistik. Kolaborasi antara pemerintah, legislatif, dan masyarakat menjadi esensial untuk memastikan program edukasi berjalan efektif dan berkelanjutan.
Legislatif, melalui interaksi langsung dengan konstituen, memiliki peran strategis dalam menyebarkan informasi dan mengajak masyarakat berpartisipasi aktif. Pesan-pesan mengenai penanggulangan sampah disisipkan dalam setiap pertemuan untuk meningkatkan kesadaran publik.
Advertisement
Advertisement
Pemerintah Kota Banjarmasin telah meluncurkan berbagai inisiatif untuk mengatasi darurat sampah. Salah satunya adalah gerakan pilah sampah yang digalakkan di lingkungan masyarakat, didukung dengan pendirian rumah-rumah pilah sampah di setiap kelurahan.
Selain itu, Pemkot juga mengoptimalkan operasional tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) dan TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle) sebagai upaya nyata mengurangi volume sampah. Fasilitas ini menjadi pusat pengolahan sampah yang diharapkan dapat mengelola limbah secara lebih efisien.
Untuk memperkuat upaya edukasi penanganan sampah, Pemkot Banjarmasin mengangkat ribuan agen edukasi yang ditempatkan di setiap RT. Ribuan agen ini bertugas memberikan pemahaman langsung kepada warga. Ratusan bank sampah juga diaktifkan untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam mendaur ulang dan mengurangi sampah.
Advertisement
Advertisement
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin, Ichrom Muftezar, menyampaikan apresiasi atas inisiatif dewan dalam mengintegrasikan edukasi penanganan sampah ke dalam kegiatan reses. Menurutnya, dukungan dari legislatif sangat vital dalam menyukseskan program pengelolaan sampah.
Muftezar menegaskan bahwa penanganan darurat sampah membutuhkan keterlibatan semua lapisan masyarakat, terutama dalam pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga. Pemilahan sampah organik dan non-organik di rumah menjadi langkah awal yang krusial untuk mengurangi beban TPAS.
Dengan produksi sampah rata-rata di atas 400 ton per hari di Kota Banjarmasin, pemilahan sampah menjadi sangat mendesak. Penutupan TPAS Basirih mengharuskan pengiriman sampah ke TPAS Banjarbakula di Banjarbaru, yang jaraknya cukup jauh dan menambah kompleksitas logistik.
Advertisement
Sumber: AntaraNews