'Disunat' Hingga 90 Persen, Ini Peran Tersangka Korupsi Dana Hibah Tasikmalaya

Senin, 10 Desember 2018 18:18 Reporter : Aksara Bebey
'Disunat' Hingga 90 Persen, Ini Peran Tersangka Korupsi Dana Hibah Tasikmalaya Wagub Uu Ruzhanul Ulum diminta Hadiri di Sidang. ©2018 Merdeka.com/Aksara Bebey

Merdeka.com - Pemotongan dana hibah untuk sejumlah yayasan di Kabupaten Tasikmalaya, hingga 90 persen kepada penerima bantuan melibatkan sejumlah pihak. Sekda nonaktif Tasikmalaya, Abdul Kodir yang menjadi terdakwa merupakan orang yang memberikan ide dana hibah tersebut disunat.

Seperti diketahui, selain Abdul Kodir, dalam kasus ini, Polda Jawa Barat menetapkan sejumlah tersangka. Mereka di antaranya, Kabag Kesra Setda Kabupaten Tasikmalaya Maman Jamaludin, Sekretaris DPKAD Ade Ruswandi, dan Inspektorat Kabupaten Tas‎ikmalaya Endin.

Kemudian PNS di bagian Kesra Kabupaten Tasikmalaya Alam Rahadian Muharam, PNS di Kesra Kabupaten Tasikmalaya Eka Ariansyah, serta tiga warga sipil diantaranya Lia Sri Mulyani, Mulyana dan Setiawan.

Dalam berkas dakwaan yang diungkap di persidangan, diketahui bahwa pemotongan dana hibah itu untuk kegiatan Musabaqoh Qirotil Khutub (MQK).

Jaksa Kejati Andi Adika mengatakan, untuk merealisasikan pemenuhan anggaran, Abdul Kodir mengakali dana hibah dalam peraturan Bupati (Perbup) nomor : 900/kep.41-BPKAD/2017.

Abdul Kodir kemudian memerintahkan Alam Rahadian dan Eka Ariansyah mencari calon penerima dana hibah. Namun, Abdul Kodir menjanjikan akan membagi hasil pencairan dana hibah.

"Untuk terdakwa (Abdul Kodir) 50 persen dan untuk saksi Alam dan saksi Eka 50 persen," kata Jaksa, Andi dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung, Senin (10/12).

Alam dan Eka kemudian meminta bantuan kepada Lia Sri Mulyani karena mempunyi jaringan yang bisa dimanfaatkan. Lia menyanggupi mencarikan calon penerima dana hibah dengan meminta bantuan kepada rekannya bernama Mulyana.

Mereka sepakat menerima jatah 17,5 persen dari total pencairan. Kemudian Mulyana meninta rekannya bernama Setyawan mencarikan proposal dengan kesepakatan mendapat 10 persen dari total anggaran yang dicairkan.

"Setyawan menghubungi beberapa yayasan yang membutuhkan dana hibah. Akhirnya terkumpul 16 yayasan," terangnya.

Setyawan pun mengatur legalitas penerima hibah berdasarkan Pasal 8 peraturan Bupati (Perbup) Tasikmalaya nomor 14 tahun 2016, bahwayayasan penerima hibah harus terdaftar pada Kementerian Hukum dan HAM.

Tiga yayasan sudah terdaftar, sementara untuk sisanya, Ia meminta Arif mengurus pembuatan akta notaris pendirian 13 yayasan.

Dalam perjalanannya, terbit Perbup nomor : 900/kep.436-BPKAD/2017 tentang perubahan atas keputusan Bupati Tasikmalaya tentang penetapan penerima dana hibah. Dalam hal itu, ada penambahan 5 yayasan sehingga seluruhnya berjumlah 21 yayasan.

Besaran bantuannya pun bervariasi. Jaksa menyatakan bahwa yayasan yang mengajukan dana Rp 150 juta hanya menerima hanya Rp 15 juta. Begitupun dengan pengajuan Rp 250 juta yang hanya dicairkan Rp 25 juta.

Dari hasil pembagian uang potongan itu, Abdul Kodir mendapat keuntungan paling besar senilai Rp 1,4 miliar. Sementara kerugian negara akibat perbuatannya sebesar Rp 3,9 miliar. [gil]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini