Kecanggihan teknologi dengan kompleksitasnya, telah melahirkan tantangan baru bagi kehidupan manusia. Di satu sisi kemajuan teknologi memunculkan peradaban unggul, namun di sisi lain juga memunculkan resiko eksistensial (existential risk), dehumanisasi, demoralisasi dan bahkan dalam jangka Panjang, bila tidak terkendali dan disalahgunakan sangat memungkinkan menjadi senjata bagi genosida manusia dan penghancuran peradaban.
Realitas Ketegangan Geopolitik dan ancaman Perang Dunia Ketiga, baik yang dipicu karena kompetisi persenjataan modern maupun akibat konflik kepentingan, telah nyata mengacaukan stabilitas global dan melahirkan disharmoni dunia. Kehidupan yang damai dan harmonis menjadi terancam.
Dunia membutuhkan pendekatan baru yang cerdas, cepat dan jitu untuk mensolusikan dan menjawab berbagai problematika kehidupan global dan kompetisi teknologi yang semakin canggih dan kompleks.
Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) sebagai Asosiasi Ormas Islam Indonesia, Bersama Kuil Mii Dera Kyoto Jepang dan Sakuranesia Menggelar Peace Dialogue di Kyoto Jepang pada tanggal 20 April 2026 diselenggarakan di Kuil Miidera Jepang.
Pararel dengan hal tersebut, juga dilaksanakan Penandatanganan Kerjasama dengan Tenma Hospital Group untuk Pengembangan Rumah Sakit, Riset dan Pengembangan Stem Cell serta Pelayanan Kesehatan Berbasis Pendekatan Spiritual & Natural Medicine.
Ketua Umum LPOI, Said Aqil Siradj mengatakan bahwa dunia tengah memasuki babak baru dengan berbagai kemajuan, dinamika dan kompleksitasnya. Kompetisi global dan konflik kepentingan antar blok peradaban yang semakit ketat dan telah memicu peperangan serta telah merugikan masa depan kemanusiaan dan perdamaian.
"Oleh karenanya dibutuhkan Rekalibrasi Spiritual untuk mewujudkan tatanan dunia yang lebih baik," kata Said Aqil dalam keterangan tertulisnya dikutip Jumat (24/4).
Menurut dia, dibutuhkan sebuah pendekatan baru yang mampu menyelaraskan kembali, memperbaiki orientasi, nilai-nilai dan tatanan yang telah ada menjadi tatanan dunia yang lebih baik. LPOI menawarkan solusi global berbasis pendekatan 'Spiritual and Natural Lifestyle' kembali ke Spiritualitas dan Kembali Ke Alam sebagai Pilar Utama Penyangga Kemanusiaan dan Perdamaian.
Said Aqil yang juga Mustasyar PBNU dan Sesepuh Nahdlatul Ulama menegaskan bahwa dengan kembali ke spiritualitas, manusia akan menjadi sadar, bahwa semua manusia adalah saudara yang mendapat tugas yang sama dari Tuhan, untuk memakmurkan dunia dan menjaganya dengan damai.
Dan dengan kembali ke alam, Said Aqil menambahkan, manusia akan menjadi sadar betapa pentingnya melestarikan Bumi dan Jagat raya sebagai rumah Bersama umat manusia.
"Kesadaran ini tentunya harus diletakkan sebagai core value bagi semua gaya hidup (life style) dan cara pandang (life of view) serta dasar bagi semua tindakan dalam kehidupan manusia. Internalisasi nilai-nilai ini harus ditanamkan sejak dini dan terus menerus kepada semua generasi, agar misi perdamaian dan kemanusiaan dapat terwujud serta terjaga sepanjang masa," ujar Said Aqil.
Dia mengajak kaum Agamawan dari semua Agama tidak boleh tinggal diam. Kini saatnya bergerak dan tidak boleh terlambat untuk menata kembali dunia yang tengah diambang perpecahan.
Said Aqil yang juga Ketua Umum Madjlis Islam A’la Indonesia (MIAI) menjelaskan bangsa Indonesia wajib dan harus senantiasa hadir, secara aktif dan cerdas dengan penuh keberanian dan dengan langkah-langkah yang strategis, untuk mensolusikan berbagai persoalan dan dinamika global. Hal ini selaras dengan komitmen bangsa Indonesia dan amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, Bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan pri kemanusiaan dan pri keadilan. Hal tersebut juga selaras dengan misi manusia diciptakan Allah SWT, agar menjadi rahmat bagi semesta alam.
Advertisement
Dalam Kesempatan yang sama Gus Imam Pituduh Sekretaris Jenderal Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) melengkapi keterangan persnya, menjelaskan; Bahwa Pendekatan “Spiritual and Natural Lifestyle” selain sebagai solusi atas krisis global, keberadaannya diharapkan mampu menjadi jembatan penghubung (connecting bridge) bagi semangat persaudaraan sebagai sesama manusia, yang selama ini telah terkotak kotak dalam berbagai bentuk perbedaan dan konflik kepentingan.
Pendekatan ini diharapkan mampu menjadi jalan alternatif dan sekaligus sebagai jalan keluar (alternative and exit way) dari semua pendekatan yang telah ada, dalam bentuk yang lebih genuine dan lebih solutif, serta tidak terjebak dalam blok-blok peradaban tertentu.
Masih dalam Penjelasanya, Kang Imam Pituduh yang juga founder Yayasan Inti Trust Fund, menyampaikan; Gagasan ini tidak hanya sekedar teori belaka, tetapi telah tumbuh dan berkembang dalam realitas hidup dan kehidupan masyarakat Asia. dan akan terus menerus digaungkan ke seluruh penjuru dunia.
Praktek-praktek ini nyata dan telah eksis di Asia, khususnya pada issu kesehatan yang mengetengahkan pendekatan “Spiritual and Natural Medicine” dan pada issu pertanian yang menyuguhkan pendekatan “Spiritual and Natural Farming”. Formulasi Pendekatan dan Gerakan Spiritual dan Natural pada Issu Kesehatan dan Pertanian sangatlah penting dan mendesak, mengingat Pangan dan Kesehatan adalah pilar kemanusiaan dan perdamaian dunia.
LPOI dan Inti Trust Fund akan terus beriktiar menggandeng semua pihak untuk bekerjasama dalam mewujudkan misi kemanusiaan dan perdamaian dunia. Demikian Ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Tovic Rustam Founder Sakuranesia menjelaskan, bahwa kegiatan yang dijalankan Bersama LPOI adalah langkah awal untuk membangun kesadaran global dan dimulai dari Jepang, karena sakuranesia berbasis di Jepang dan di Indonesia. Sakuranesia berkomitmen mensuport kemanusiaan dan perdamaian dunia.
Kerjasama dengan LPOI dan kaum agamawan adalah pintu gerbang utama bagi usaha untuk membumikan nilai nilai kebaikan dan kemaslahatan kehidupan.
Tampak Hadir dalam acara tersebut Delegasi Indonesia, DR. Sofwan Imam Yahya Pimpinan Pesantren Al Tsaqofah, KH. Arifin Junaidi Ketua Umum HISMINU, Nyai Hajah Nur Hayati Muslimat NU, Sakura Tomomi Pimpinan Sakuranesia, Para Pimpinan Perhimpuan Pelajar Indonesia-Jepang (PPI Jepang), Pimpinan dan Anggota Kuil Miidera, Tenma Hospital Group, Para Profesor dan Guru Besar Perguruan tinggi di Jepang, Mantan Dubes Jepang Untuk Indonesia dan Para Pimpinan Korporasi di Jepang dan Pimpinan Lembaga Sosial Jepang Lainnya