Di Tengah Tekanan Global, Mineral Strategis Jadi Motor Penggerak Industri Nasional
Capaian tersebut menunjukkan bahwa komoditas strategis nasional seperti timah, nikel, tembaga, emas.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tekanan pasar komoditas yang masih berlangsung, sejumlah anggota Grup MIND ID berhasil membukukan kinerja operasional yang positif sepanjang kuartal I 2026.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa komoditas strategis nasional seperti timah, nikel, tembaga, emas, bauksit, alumina, hingga batu bara masih menjadi fondasi penting dalam memperkuat daya saing industri nasional.
Direktur Eksekutif Indonesia Mining & Energy Watch, Ferdy Hasiman, menilai kinerja anggota Grup MIND ID pada tiga bulan pertama tahun ini memperlihatkan tren yang menjanjikan meski belum seluruh perusahaan mencapai kapasitas produksi optimal.
"Kuartal I ini lumayan bagus. Hanya mungkin belum terlalu maksimal karena Freeport belum maksimal produksinya. Kontribusi dividen dari Freeport lumayan besar. Lalu dari Antam, labanya besar. Saya juga mengapresiasi PT Timah. Ini menjadi sejarah karena baru kuartal I saja sudah mencetak laba lebih dari Rp1 triliun. Ini sangat baik," ujar Ferdy.
Capaian Paling Menonjol
Salah satu capaian paling menonjol datang dari PT Timah Tbk yang berhasil meningkatkan produksi bijih timah hingga 96 persen menjadi 6.312 ton Sn dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3.224 ton. Produksi logam timah juga meningkat 82 persen menjadi 5.630 metrik ton, sementara penjualan logam timah melonjak 113 persen menjadi 6.009 metrik ton.
Kinerja tersebut turut memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen timah terbesar dunia sekaligus menunjukkan efektivitas strategi operasional yang dijalankan perusahaan.
Di sektor hilirisasi mineral, PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) mencatat pertumbuhan pada bisnis bauksit dan alumina. Penjualan bauksit meningkat 9 persen menjadi 593.476 wet metric ton (wmt), sementara produksi Chemical Grade Alumina (CGA) naik 13 persen menjadi 49.566 ton dan penjualannya meningkat 11 persen menjadi 49.072 ton.
Menjadi Indikator
Pencapaian tersebut dinilai menjadi indikator semakin pentingnya pengolahan mineral di dalam negeri dalam menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional.
Sementara itu, PT Vale Indonesia Tbk membukukan kenaikan volume penjualan nikel sebesar 15 persen menjadi 45 ribu ton pada kuartal pertama tahun ini. Pertumbuhan tersebut mencerminkan masih tingginya permintaan global terhadap mineral kritis yang menjadi bahan baku utama industri baterai kendaraan listrik dan energi bersih.
Di sisi lain, PT Freeport Indonesia masih menghadapi dampak insiden mud rush yang terjadi pada September 2025. Produksi tembaga perusahaan tercatat mencapai 95 juta pound dan produksi emas sebesar 92 ribu ounce.
Meski belum kembali ke tingkat produksi normal, Freeport tetap melanjutkan operasional serta pengembangan berbagai proyek strategis yang diharapkan memperkuat industri pengolahan tembaga dan logam mulia nasional.
Menurut Ferdy, capaian sejumlah perusahaan tersebut menunjukkan bahwa sektor pertambangan masih menjadi penopang utama industrialisasi nasional.
"Capaian tersebut menunjukkan bahwa komoditas strategis seperti nikel, emas, timah, tembaga, dan batu bara masih menjadi penopang penting bagi penguatan industri nasional. Apalagi, kebutuhan dunia terhadap mineral kritis terus meningkat seiring perkembangan industri kendaraan listrik, energi terbarukan, dan teknologi tinggi," katanya.
Selain didukung kinerja operasional, penguatan industri nasional juga ditopang sejumlah proyek hilirisasi strategis yang tengah dijalankan anggota Grup MIND ID.
PT Freeport Indonesia misalnya terus melanjutkan pengembangan tambang bawah tanah Grasberg di Papua dan pengoperasian Precious Metal Refinery (PMR) di Gresik. Kehadiran fasilitas pemurnian tersebut memungkinkan emas dan perak dimurnikan di dalam negeri sehingga memberikan nilai tambah lebih besar bagi perekonomian nasional.
Di sektor batu bara, PT Bukit Asam (PTBA) masih melanjutkan pengembangan proyek Dimethyl Ether (DME) yang diproyeksikan menjadi substitusi impor LPG nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia.
"Seperti proyek DME milik PTBA. Dana negara sudah dikucurkan melalui injeksi modal. Hanya pertanyaannya, apakah PTBA bisa melanjutkan proyek itu? Karena sebelumnya investor asing sudah mundur," ujar Ferdy.
Meski demikian, ia berharap proyek tersebut dapat berjalan secara ekonomis dan tidak membebani kondisi keuangan perusahaan.
Di sektor mineral kritis, ANTAM mempercepat pembangunan proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat yang akan meningkatkan kapasitas pengolahan bauksit menjadi alumina di dalam negeri.
ANTAM juga terlibat dalam pengembangan proyek ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi di Halmahera Timur bersama Indonesia Battery Corporation (IBC) dan Huayou.
"Lalu PT Antam di Halmahera Timur juga harus berjalan lebih baik. Selain itu ada proyek alumina di Mempawah yang harus segera diselesaikan. Kalau realisasi proyek-proyek tersebut berjalan cepat, ke depan kinerja mereka akan semakin baik," ujar Ferdy.
Mengembangkan Potensi
Sementara itu, PT Timah mulai mengembangkan potensi logam tanah jarang atau rare earth elements (REE) melalui pengolahan mineral ikutan monasit. Meski masih berada dalam tahap pilot project, komoditas tersebut dinilai memiliki nilai strategis tinggi karena dibutuhkan dalam industri elektronik, kendaraan listrik, energi terbarukan, hingga teknologi pertahanan.
"Proyek tanah jarang itu memang belum berjalan. Masih tahap pilot project. Cuma isunya sekarang, kalau memang mau berjalan, akan bermitra dengan siapa?" katanya.
Ferdy menilai keberhasilan proyek-proyek hilirisasi sangat bergantung pada kepastian regulasi dan iklim investasi yang kondusif.
"Investasi akan berjalan kalau kebijakannya stabil. Kalau hari ini berubah, besok berubah lagi, investor akan memilih tidak masuk," ujarnya.
Ia menambahkan, semakin banyak komoditas mineral yang diolah di dalam negeri, semakin besar pula nilai tambah ekonomi yang dapat diciptakan melalui investasi, penyerapan tenaga kerja, serta peningkatan penerimaan negara.
Menurut Ferdy, sinergi yang dibangun MIND ID sebagai holding industri pertambangan juga telah berjalan sesuai fungsi dan perannya dalam mengintegrasikan ekosistem bisnis seluruh anggota grup.
"Sebenarnya dari awal sinerginya sudah bagus. MIND ID sudah berperan sebagai holding dan leader. Tugasnya mengontrol dan memastikan ekosistem berjalan dengan baik," katanya.
Dengan kombinasi kinerja operasional yang solid, percepatan proyek hilirisasi, serta penguatan rantai pasok mineral strategis, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya dalam rantai pasok global sekaligus menjadikan sektor mineral sebagai motor pertumbuhan ekonomi nasional di masa depan.