Di Ponorogo ada gemblak, di pesantren ada mairil

Minggu, 11 Mei 2014 13:13 Reporter : Anwar Khumaini
Di Ponorogo ada gemblak, di pesantren ada mairil tari reog Ponorogo . ©2013 Merdeka.com/dwi narwoko

Merdeka.com - Tradisi berperilaku homoseksual ternyata sudah lama terjadi di Indonesia. Di Ponorogo, Jawa Timur, tradisi memelihara gemblak oleh warok adalah hal turun temurun.

Gemblak merupakan bocah laki-laki berusia antara 12-15 tahun. Mereka berparas tampan dan terawat. Bagi seorang warok, memelihara gemblak adalah hal yang wajar dan diterima masyarakat. Konon sesama warok pun pernah beradu kesaktian untuk memperebutkan seorang gemblak idaman dan juga terjadi praktik pinjam meminjam gemblak.

Diyakini, warok akan hilang kesaktiannya jika berhubungan intim dengan perempuan, meskipun itu istrinya. Makanya, mereka memelihara warok dan diperlakukan layaknya sebagai istri.

Di beberapa pesantren, ada juga istilah warok. Namun jika di Ponorogo ada istilah gemblak, maka di pesantren ada sebutan mairil. Definisinya pun tak jauh beda. Mairil diistilahkan sebagai santri putra yang tampan berkulit putih. Mereka yang memiliki wajah ganteng, tampan, imut, dan baby face.

Menurut pengakuan salah satu santri yang pernah nyantri di Kediri, Jawa Timur, santri yang memiliki wajah baby face selalu menjadi incaran dan rebutan santri-santri senior atau biasa disebut warok. Sama halnya dengan warok, tidak jarang antara santri yang satu dan santri yang lain terlibat saling jotos, adu mulut untuk memperebutkan santri tampan.

"Bahkan ada panggilan-panggilan sayang buat santri yang tampan itu. Kalau tampan sekali bisa dipanggil Evie Tamala, atau bisa saja Erie Susan," kata mantan santri yang enggan disebutkan namanya tersebut.

Tapi menurutnya, sebenarnya kebiasaan menyimpang santri ini bukan karena mereka memiliki kelainan seksual. Namun lantaran mereka jarang bersinggungan dengan lawan jenis dalam waktu yang lama, sehingga kebiasaan-kebiasaan itu sebagai pelampiasan saja.

"Pada dasarnya mereka normal, cuma lama gak bersosialisasi dengan perempuan saja, lantaran di pesantren kan dipisah antara pria dan wanita," imbuhnya.

Dalam buku berjudul 'Mairil, Sepenggal Kisah Biru di Pesantren', dijelaskan dengan gamblang kisah kasih terlarang antara para santri tersebut. Namun, fenomena warok dan mairil bukanlah didasarkan atas suka sama suka. Melainkan dilakukan warok secara sembunyi-sembunyi saat si mairil sedang tertidur lelap. Perilaku menyimpang seperti inilah dalam pesantren dikenal dengan istilah 'nyempet'.

Menurut penulis buku, Syarifuddin, nyempet merupakan jenis atau aktivitas pelampiasan seksual dengan kelamin sejenis yang dilakukan seseorang ketika hasrat seksualnya sedang memuncak, sedangkan mairil merupakan perilaku kasih sayang kepada seseorang yang sejenis (halaman 25).

Dalam buku yang diterbitkan oleh P_Idea, Jogjakarta pada tahun 2005 itu, disebutkan perilaku nyempet terjadi secara insidental dan sesaat, sedangkan mairil relatif stabil dan intensitasnya panjang. Namun dalam banyak hal antara nyempet dan mairil mengandung konotasi negatif, yaitu sama-sama terlibat dalam hubungan seksual satu jenis kelamin. [gib]

Topik berita Terkait:
  1. Budaya Indonesia
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini