Detik-Detik Terakhir Harun Masiku Terpantau 'Radar' KPK dari Thamrin Menghilang di PTIK

Pelaku kasus suap pergantian antar waktu (PAW) dari PDI Perjuangan (PDIP) terpantau pihaknya pada 8 Januari 2020

Muhammad Radityo Priyasmoro
Detik-Detik Terakhir Harun Masiku Terpantau 'Radar' KPK dari Thamrin Menghilang di PTIK
Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (PP HIMA Persis) melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi (K (© 2024 Liputan6.com)

Pengadilan Negeri Tipikor kembali menggelar sidang lanjutan terdakwa Hasto Kristiyanto. Kali ini, sidang menghadirkan penyelidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Arif Budi Raharjo sebagai saksi.

Dalam sidang, Arif membeberkan detik-detik terakhir Harun Masiku terpantau 'radar' penyelidik KPK. Pelaku kasus suap pergantian antar waktu (PAW) dari PDI Perjuangan (PDIP) terpantau pihaknya pada 8 Januari 2020 dan menghilang hingga saat ini.

"Pada pagi harinya Harun Masiku terlihat dia keluar Thamrin Residence, dia memesan taksi, kemudian ke Grand Hyattt, itu kami pantau. Pada saat (mau) operasi tangkap tangan pukul 11 siang, saya berada di sekitar Thamrin Residence, saya ada 2 tim, 2 mobil dan kami dibantu tim surveillance," kata Arif di Sidang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Jumat (16/5).

Titik lokasi Harun, kata Arif, terdeteksi lompat-lompat. Terkadang dekat tapi bisa juga menjauh. Menurut dia, sulitnya mendeteksi lokasi Harun dikarenakan yang bersangkutan kerap mengganti moda transportasi mulai dari mobil, motor, dan taksi.

"Kami mendeteksi dari sisi update lokasi lompat-lompat, saya juga heran mengapa posisi kadang dekat dan kadang jauh. Tapi sekitar pukul 15.00, Harun ada di Grand Hyatt mau masuk Thamrin Residence saat itu kami berjaga," jelas Arif.

Kala itu, Arif mengingat, pakaian yang dikenakan Harun berwarna merah. Lantaran kondisi lalu lintas macet, Arif sampai turun dari mobil dan berjalan kaki memasuki Grand Hyatt, lokasi terdeteksi adanya Harun Masiku.

"Waktu itu lalu lintas macet saya sampai turun dari mobil masuk ke Grand Hyatt dan saat kami tiba saya kira lift menuju kamar tapi lift yang kami masuki adalah lift ke pusat perbelanjaan. Kami kejar dan lihat Harun tapi sudah menumpangi sepeda motor. Lalu kami lakukan pengejaran waktu itu sekira pukul 18.00 menjelang magrib," ungkap Arif.

"Kami tetap kejar dan menggali informasi, pada saat itu hapenya Harun masih hidup, kami lakukan update posisi tapi tiba-tiba menghilang titiknya," imbuhnya.

Petugas KPK Dituduh Pakai Narkoba Saat Kejar Harun Masiku: Sidang Praperadilan Berlangsung
Sidang praperadilan di Jakarta Selatan mengungkap petugas KPK dituduh menggunakan narkoba saat mengejar Harun Masiku di PTIK pada Januari 2020, sebelum KPK menetapkan Hasto Kristiyanto sebagai tersangka. © 2025 Antaranews

Ada Perintah Celupkan HP

Arif pun berkomunikasi dengan tim dari posko. Posko menyampaikan informasi bahwa ada perintah yang masuk ke Harun untuk mencelupkan ponselnya. Namun, Harun tampak masih bingung dengan perintah tersebut. Selanjutnya, informan itu diketahui oleh bernama adalah Nur Hasan.

"Kami mendapat informasi dari posko, Harum ditelpon seseorang, bahwa ada arahan dari bapak mencelupkan hapenya, tapi Harun dari suaranya masih ragu-ragu kalimat, hal itu yang menyampaikan bernama Hasan yang belakangan diketahui nama lengkapnya Nur Hasan," ungkap dia.

Arif lalu melakukan update posisi terhadap Nur Hasan, dia meminta Harun merapat ke kantor DPP PDIP dan rumah SS atau Sutan Syahrir. Informasi tersebut lalu diikuti, baik ke kantor DPP PDIP dan Sutan Syahrir.

"Tapi selanjutnya kami mendapat dapet info lagi, Nur Hasan menuju blok M dari kantor DPP PDIP, itu posisinya magrib menuju isya. Dari sekitar Blok M itu posisinya ada di sekitaran PTIK," jelas Arif.

Lantaran berada di sekitar PTIK, maka Arif masuk dengan membawa surat resmi untuk mengejar Harun. Hal itu ditunjukkan saat bertemu penjaga gerbang. Penjaga pun mempersilakan Arif dan timnya masuk.

"Tim kemudian masuk ke PTIK, kami melihat di sana ada penjaga dan kami sebelum masuk, kami izin untuk masuk dengan bawa surat tugas. Kami lalu menunggu sambil salat di masjid PTIK. Pada saat itu karena handphome Harun mati dan kemudian ada komunikasi sebelumnya (dengan Nur Hasan) ada info (Harun) akan dijemput, kami sempat muterin PTIK dan diduga posisinya Harun ada di dalam, ketika kami menuggu Harun kami bertemu tim Rossa (dari penyidik KPK)," jelas Arif.

Arif kemudian berkomunikasi dengan Rossa, dia mengatakan Hasto Kristiyanto juga diyakini berada di posisi yang sama di sekitaran PTIK. Meski belum diketahui dengan jelas persisnya.

"Saya komunikasi (dengan Rossa) bahwa terdakwa (Hasto) ada di posisi yang sama. Kemudian kami ditelpon dan dikatakan ada 5 anggota polisi berbaju kaus, saya lihat mereka sudah saling menyela (dengan tim dari KPK), nadanya meninggi dan mereka meminta kami untuk masuk ke salah satu ruang di PTIK, ada lima orang dari KPK (dibawa ke ruang PTIK) selain saya ada juga Pak Rossa," katanya.

Sebagai informasi, menurut Arif usai dibawa ke ruang anggota di PTIK, dirinya kehilangan jejak Harun Masiku hingga hari ini.

Rekomendasi