Advertisement
Dandim Jember Klarifikasi: Babinsa Meninggal Bukan Akibat Pesta Miras, Melainkan Henti Jantung
Komandan Kodim (Dandim) 0824 Jember Letnan Kolonel Arm Indra Andriansyah memberikan keterangan resmi terkait meninggalnya personel Bintara Pembina Desa (Babinsa) Karangrejo, Sersan Kepala Putu Menaka. Klarifikasi ini disampaikan menyusul pemberitaan yang mengaitkan kematian Serka Putu dengan pesta minuman keras yang terjadi di Jember. Peristiwa ini menjadi sorotan publik dan memerlukan penjelasan dari pihak berwenang.
Dalam konferensi pers yang digelar di Markas Kodim 0824 Jember pada Jumat sore, Dandim Indra secara tegas membantah penyebab kematian Babinsa Putu terkait langsung dengan minuman keras. Ia menegaskan bahwa Serka Putu meninggal dunia karena henti jantung atau cardiac arrest. Diagnosa medis dari Rumah Sakit Baladhika Husada Jember menunjukkan bahwa almarhum memiliki riwayat hipertensi.
Pihak Kodim masih melakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai detail kedatangan Serka Putu ke lokasi pesta minuman keras yang menewaskan enam orang tersebut. Meskipun demikian, fokus utama klarifikasi adalah pada penyebab medis kematian yang dapat dipertanggungjawabkan. Kejadian ini terjadi di Jember, Jawa Timur, dan menimbulkan berbagai spekulasi di masyarakat.
Advertisement
Advertisement
Bantahan Resmi dari Kodim Jember
Letnan Kolonel Arm Indra Andriansyah secara tegas membantah laporan yang menyebutkan bahwa Babinsa Putu meninggal dunia karena minuman keras. Pernyataan ini didasarkan pada hasil resume medis yang dikeluarkan oleh RS Baladhika Husada Jember. Keakuratan informasi menjadi prioritas dalam menyampaikan fakta kepada publik.
“Bahwa Serka Putu merupakan anggota Babinsa Karangrejo, Koramil Sumbersari, meninggal dunia di Rumah Sakit Baladhika Husada karena henti jantung (cardiac arrest) dengan diagnosa hipertensi,” kata Indra dalam konferensi pers. Penjelasan ini diharapkan dapat mengakhiri spekulasi yang berkembang di masyarakat terkait penyebab kematian personel Babinsa.
Pihak Kodim 0824 Jember menekankan pentingnya menunggu hasil penyelidikan menyeluruh terkait detail kehadiran Serka Putu di lokasi kejadian pesta miras. Meskipun demikian, penyebab kematian Babinsa Putu telah dipastikan secara medis. Proses pengumpulan keterangan saksi-saksi masih terus berlangsung untuk mendapatkan gambaran lengkap mengenai insiden tersebut.
Advertisement
Advertisement
Penjelasan Medis dari RS Baladhika Husada
Dokter jaga RS Baladhika Husada Jember, dr Deny Febriwijaya R., turut memberikan keterangan mengenai kondisi Serka Putu saat dirawat. Pasien masuk rumah sakit pada Minggu (28/12) pukul 20.48 WIB dengan keluhan sesak napas. Penanganan oksigenasi segera diberikan oleh petugas medis untuk menstabilkan kondisi Babinsa Putu.
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tensi pasien agak tinggi dan saturasi oksigennya menurun drastis. “Pasien punya riwayat sesak, batuk, dan darah tinggi,” ujar dr Deny. Kondisi ini mengindikasikan adanya masalah kesehatan serius yang sudah ada sebelumnya pada diri almarhum, yang menjadi faktor penyebab henti jantung.
Setelah dirawat di ruang ICU, kondisi Serka Putu terus memburuk hingga kritis. Pada pukul 23.01 WIB di hari yang sama, pasien dinyatakan meninggal dunia. “Pasien meninggal dunia karena serangan jantung disebabkan hipertensi emergency dan juga sesak napasnya. Itu yang bisa kami sampaikan keterangan medis terkait dengan pasien Putu,” tambah dr Deny. Ini merupakan konfirmasi medis yang jelas mengenai penyebab kematian yang dialami oleh Serka Putu Menaka.
Advertisement
Advertisement
Rangkaian Peristiwa Pesta Minuman Keras di Jember
Laporan dari Kepolisian Resor Jember sebelumnya menyebutkan adanya pesta minuman keras yang berlangsung pada Sabtu (27/12) malam hingga Minggu (28/12) dini hari. Pesta ini mengakibatkan delapan orang menjadi korban, dengan enam di antaranya meninggal dunia. Insiden ini menjadi perhatian serius bagi aparat penegak hukum di wilayah Jember.
Serka Putu adalah salah satu dari enam korban yang meninggal dunia, dilaporkan pada Minggu (28/12) bersama seorang perempuan berinisial MR. Kemudian, pada Senin (29/12), tiga korban lain, AM, ST, dan SL, juga meninggal dunia. Rangkaian kematian ini menunjukkan dampak fatal dari konsumsi minuman keras oplosan yang tidak terkontrol.
Korban meninggal kembali bertambah setelah MM menghembuskan napas terakhirnya di RSD dr Soebandi Jember pada Selasa (30/12) malam. Total enam orang tewas akibat pesta miras tersebut, memicu duka mendalam bagi keluarga korban dan keprihatinan masyarakat. Pihak berwenang terus mengimbau masyarakat untuk menjauhi konsumsi minuman keras ilegal dan berbahaya.
Advertisement
Sumber: AntaraNews