CLC dampingi pelajar SMA Purbalingga bikin film antikorupsi

Pelajar SMA Karangreja berhasil mendapatkan dana hibah Rp 10 juta dalam program 'Bikin Film Bareng KPK'.

Chandra Iswinarno
Oleh Chandra Iswinarno - Reporter
CLC dampingi pelajar SMA Purbalingga bikin film antikorupsi
Pembuatan film CLC. ©2015 Merdeka.com

Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga melakukan pendampingan pembuatan film pendek pelajar SMA Karangreja Purbalingga yang mendapatkan hibah program Anti-Corruption Film Festival (ACFFest) 2015. Pendampingan tersebut dilakukan setelah dilakukan setelah skenario film pendek yang dibuat pelajar SMA Karangreja berhasil mendapatkan dana hibah Rp 10 juta dalam program 'Bikin Film Bareng KPK'.Film berjudul 'Ora Imbang' yang mengisahkan tentang dua amil zakat yang dihadapkan pada permasalahan sama, yaitu kebutuhan keluarga menjelang Lebaran. Dikin lalu memilih jalur curang dengan jalan memperberat timbangan. Sementara Karto, meskipun berkesempatan curang, namun tak dia lakukan.Sutradara film tersebut, Monitasari mengemukakan pengalaman membuat film pendek bertema anti korupsi ini merupakan kesempatan langka bagi mereka. Diakuinya, untuk membuat film tersebut dibutuhkan tenaga ekstra untuk mencapai hasil yang optimal."Meskipun baru pertama membuat film fiksi pendek, kami berusaha seoptimal mungkin. Ini kesempatan bagi kami untuk belajar, setelah ide cerita kami terpilih saat roadshow ACFFest awal Juni 2015 di Purbalingga kemarin, fokus kami mengerjakan proyek ini disela kegiatan sekolah. Terlebih pemain dalam film kami keseluruhan melibatkan bapak dan ibu guru kami," kata Monitasari, Senin (24/8)Pengambilan gambar film tersebut, diakui Monita, dilakukan di Desa Karangreja, Kecamatan Karangreja, Purbalingga selama dua hari, mulai Sabtu hingga Minggu (22-23/8). Sementara itu, ketua ekstra kurikuler sinematografi SMA Karangreja, Zandy mengakui ada beberapa kendala yang dihadapi dalam pembuatan film tersebut. "Berat mengatur teman-teman sampai pada tahapan produksi. Meskipun sekolah mendukung, namun pengalaman saya dan teman-teman masih sangat minim," katanya yang menjadi editor dalam film tersebut.Direktur CLC Purbalingga Bowo Leksono mengatakan, meskipun fasilitasi dan pendampingan merupakan tugas dari CLC namun program semacam ini tentu membutuhkan stamina yang ekstra. "Ada semacam tanggung jawab yang lebih besar, tidak hanya karena mengelola biaya lebih dari produksi biasanya yang pelajar lakukan di Purbalingga, namun juga pesan cerita yang kuat terkait isu antikorupsi," jelasnya.Untuk paskaproduksi, sutradara dan editor bersama mentor lokal dari setiap produksi film, akan diberangkatkan ke Jakarta untuk menyelesaikan film yang diproduksi, sekaligus dipresentasikan.

Rekomendasi