Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Cerita suka duka jurnalis meliput gempa di Pidie Jaya

Cerita suka duka jurnalis meliput gempa di Pidie Jaya Jurnalis peliput gempa Pidie Jaya. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Gempa mengguncang Pidie Jaya, Aceh, 6,5 SR telah membawa banyak orang simpatik. Bantuan dari berbagai penjuru, terus mengalir. Tak mengenal ras, suku, agama maupun perbedaan lainnya, semua bersatu meringankan beban korban di Pidie Jaya.

Bencana gempa terbesar penghujung 2016 ini, juga mengundang banyak jurnalis meliput dan mengabarkan berita duka ini. Baik media lokal, nasional hingga internasional saban hari memberitakan proses evakuasi dan penanganan korban gempa.

Ada banyak suka duka dialami para jurnalis ditugaskan ke lokasi bencana. Dari cerita kurang istirahat, tak sempat makan hingga berempati saat mendengar keluh kesah korban bencana. Terutama kisah-kisah warga kehilangan sanak famili.

Zulkarnaini Masri misalnya, jurnalis media cetak terbesar di Indonesia telah berada di lokasi sejak hari pertama gempa. Dia mengaku, meliput bencana jauh berbeda dengan mencari berita hari-hari biasa. Karena, kondisi sedang berkabung harus sangat hati-hati dalam menggali informasi dari narasumber.

"Harus sangat hati-hati, karena jangan sampai terkesan kita mengeksploitasi korban," kata Zulkarnaini Masri, Sabtu (10/12).

Ratusan jurnalis memang memiliki satu balai seluas 10 x 4 meter terbuat dari kayu. Namun, dengan jumlah jurnalis meliput, tentunya tidak mencukupi untuk dijadikan tempat istirahat. Sedangkan penginapan di Pidie Jaya semua sudah penuh.

Kalau pun hendak mencari penginapan, harus keluar Kabupaten Pidie Jaya, yaitu ke Kabupaten Bireuen atau Pidie. Untuk menuju ke kedua kabupaten ini, membutuhkan minimal 2 jam perjalanan darat, itu pun kalau tidak mengalami kemacetan, karena banyak ruas jalan rusak, gedung rubuh, terganggu dengan alat berat sedang bekerja, mengakibatkan macet hingga 3 kilometer.

Mengingat hal itu, Zulkarnaini Masri mengaku terpaksa harus tidur dalam mobil selama 4 hari terakhir ini. Belum lagi harus keliling dan bertemu dengan berbagai macam keluhan. "Kadang makan satu hari sekali, tidur dalam mobil, inilah tantangan dan suka-dukanya," ujarnya.

Sementara itu, Rayful Muddasir, jurnalis online media nasional mengaku, lelah meliput bencana ini menjadi pelajaran dan pengalaman baru. Ada banyak bisa dipetik ilmu dalam meliput peristiwa besar, apa lagi media online membutuhkan laporan cepat.

"Ini pengalaman berharga, meskipun lelah. Karena dalam waktu singkat, kita harus bisa melaporkan cepat dengan data yang akurat, ini tak mudah ternyata," ungkap Rayful.

Para jurnalis meliput bencana di Pidie Jaya, setelah melaksanakan tugas biasanya langsung berkumpul di posko berada di Warkop Cot Trieng. Warkop ini sejak pertama gempa sudah tutup, selain menjadi posko jurnalis juga tempat relawan untuk makan dan istirahat. (mdk/ang)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP