Cerita Firdaus, pemain barongsai cilik dari Klenteng Kwan Kong

Sabtu, 28 Januari 2017 05:04 Reporter : Salviah Ika Padmasari
Cerita Firdaus, pemain barongsai cilik dari Klenteng Kwan Kong Pemain barongsai cilik. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Persahabatan, kata-kata inilah yang keluar dari mulut kecil Firdaus (11), murid kelas V SD Timur, Kecamatan Wajo, Kota Makassar, saat ditanya apa yang diperolehnya setelah bergabung di Yayasan Klenteng Kwan Kong, Jalan Sulawesi sebagai pemain barongsai, tarian tradisional China yang mengusung kepala dan sarung menyerupai seekor naga.

Firdaus, anak ketiga dari lima bersaudara dari seorang ayah yang sehari-harinya bekerja sebagai sopir pengangkut barang ini menuturkan, baru bergabung sebagai pemain barongsai sejak awal Januari atau sejak dua minggu terakhir.

Ada 15 orang yang tergabung sebagai pemain, pemusik dan pelatih barongsai Yayasan Klenteng Kwan Kong. Tidak hanya Firdaus seorang yang bukan keturunan etnis Tiong Hoa, ada tiga orang lainnya. Semuanya berbaur tanpa sekat.

"Persahabatan, tambah teman baru. Berlatih bersama, makan bersama dan bercanda," tutur Firdaus saat ditemui di sela-sela aktraksinya di depan klenteng Kwan Kong, Jumat, (27/1).

Hingga hari ini setelah dua mingguan bergabung sebagai pemain barongsai, Firdaus baru menguasai kelas lantai tradisional karena memang belum diajarkan kelas yang lebih sulit dan berat seperti lompat ke atas tiang.

Oleh Awi (24), pelatih sekaligus pemain senior barongsai, Firdaus dilatihnya menjadi pemain bagian depan yang memegang kepala barongsai karena postur tubuhnya mungil sehingga mudah melompat dan bobot tubuhnya lebih ringan di atas rekan sesama pemain barongsai yang bertugas di bawah sebagai ekor.

Firdaus menuturkan, awal ketertarikannya terhadap tarian barongsai yang kini juga telah dikategorikan sebagai olah raga itu. Menurut dia, sejak kecil orangtuanya kerap mengajaknya nonton barongsai saat ada pertunjukkan.

Selain itu, setelah agak besar sedikit bersama kawan sepermainannya juga kerap datangi pertunjukan barongsai. Dari situlah Firdaus kepincut dan akhirnya dia masuk ke yayasan Klenteng Kwan Kong karena ternyata sifatnya terbuka, juga bisa bergabung bagi mereka yang bukan warga etnis Tiong Hoa.

"Kaki juga jadi kuat. Juga dapat uang dari penonton. Dan setiap satu kali main dikasih Rp 50 ribu sama Awi (pelatih Awi)," tutur polos Firdaus.

Jefry (30), salah seorang pemain barongsai senior Firdaus mengatakan, satu sesi permainan barongsai itu rata-rata satu jam. Belasan pemain bergantian bermain. Dia sendiri sudah enam tahun sebagai pemain barongsai.

"Barongsai ini selain bagian dari budaya juga adalah olahraga. Dan memang sifatnya terbuka, siapa pun boleh bergabung berlatih bersama jika berminat," tutur Jefry. [gil]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Tahun Baru Imlek
  3. Makassar
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini