Cerita anak difabel di Banten tak diterima masuk SMK

Rabu, 4 Juli 2018 00:13 Reporter : Dwi Prasetya
Cerita anak difabel di Banten tak diterima masuk SMK Anak Difabel di Banten Ditolak Masuk Sekolah. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Sejak lahir, Rofi Firdhan Ilhamda (16), warga Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, hanya bisa berdiri dan berjalan menggunakan satu kaki. Selama ini, keterbatasan fisik tidak menghalangi Rofi untuk memperoleh hak atas pendidikan. Putra dari pasangan Sutisna dan Gita Rahayu Utami bersekolah hingga dinyatakan lulus di SMPN 1 Rangkasbitung.

Namun, di saat Rofi akan melanjutkan sekolah ke tingkat lanjutan, dia tak diterima. Dia mengatakan, alasan pihak sekolah karena Rofi termasuk anak difabel yang semestinya masuk Sekolah Berkebutuhan Khusus.

"Saya mendapatkan penolakan, pas didaftarin ke SMK PGRI Rangkasbitung. Alasannya karena kaki sebelah kiri tidak bisa jalan dan diminta ke sekolah berkebutuhan khusus,"kata Rofi saat ditemui di rumah kontrakannya, Selasa (3/7).

Rofi tidak tertarik sekolah di SMA. Bukan tanpa alasan dia ingin melanjutkan ke Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Salah satunya agar dapat mandiri dan mempunyai keahlian.

"Ingin bersekolah yang ada kejuruan-nya, dan dekat dengan tempat tinggal. Kalau di SMK kan nantinya punya keahlian. Ya bikin apa gitu biar nantinya bisa mandiri,"harapnya

Rofi mengatakan, sekolah yang dekat dengan rumah adalah SMK Negeri 1 Rangkasbitung, SMK Negeri 2 Rangkasbitung dan SMK PGRI.

"Kenapa cari yang dekat karena biar murah diongkos. Kalau jauh pastinya berat karena ibu bekerja hanya kuli ngasuh anak orang, terus bapak pengangguran," tuturnya

Sebelum mendaftar ke SMK PGRI, Rofi sempat mendaftar ke SMK 2. "Namun tidak bisa karena saya yang salah daftar. Terus sama ibu didaftarin ke SMK PGRI, eh malahan ditolak," katanya.

Ibunda Rofi saat ini tengah berusaha keras agar anaknya bisa masuk SMK. Upaya yang dilakukan adalah meminta bantuan ke Provinsi Banten.

"Tahu tuh belum ada kabar lagi. Kalau sampai gagal, pastinya sedih karena merasa didiskriminatifkan, padahal saya bisa belajar dengan normal," ucapnya.

Selama bersekolah di SD dan SMP, Rofi mengaku ingin mandiri dan tidak menyulitkan orang lain serta pihak sekolah. Dia masih bisa berjalan meski dengan bantuan tongkat.

"Bahkan tahun lalu meraih juara 2 lomba kursi roda tingkat provinsi. Dan Mewakili Kabupaten Lebak mengikuti lomba tingkat nasional di Jawa," ujarnya.

Mengikuti lomba tingkat nasional tidak mendapatkan juara. Hanya mendapatkan pengalaman yang berharga.

"Dan harus pulang tanpa tongkat karena ketinggalan di Bandara Solo. Dari semenjak itu, sampai sekarang belum punya lagi, belum bisa kebeli karena itu juga dapet ngasih dari uwa saya,"katanya.

Sekolah membantah

Sementara itu, Ketua Panitia PPDB SMK PGRI Rangkasbitung Wardatul Janah membantah telah melakukan perbuatan diskriminatif dengan menolak seorang anak difabel masuk SMK PGRI,

"Kami tidak menolak, cuma dari kemarin itu sudah habis kuotanya. Kita dibatasi menerima siswa 9 kelas, kalau sudah penuh kita setop," katanya.

Dia menegaskan, penyetopan dilakukan karena jumlah siswa setiap kelasnya juga dibatasi. Dan jumlah maksimal sebanyak 36 orang.

"Tidak boleh lebih sampai 40-42 tapi harus 36. Jadi kalau sudah 9 kelas kita stop karena kalau tetap ditampung kasihan akhirnya ke buang lagi,"katanya.

Wardatul menambahkan, sebelumnya Rofi, SMK PGRI telah menerima siswa berkebutuhan khusus. Orangtuanya punya kemampuan dan anaknya punya kemauan diterima.

"Sebelumnya kebutuhan khusus masuk jurusan manajemen pemasaran. Jadi kita tidak menolak. Hanya karena kuota saja dan sekarang ini saja sebanyak 15 orang masuk daftar tunggu karena orang tuanya maksa supaya di sini namun kita tak dapat memastikan terkecuali ada yang mencabut berkas," jelasnya. [noe]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini