Bupati Kotawaringin Timur, Halikinnor, menyatakan dukungan penuh terhadap konsistensi penyelenggaraan Festival Mangaruhi di Sampit, Kalimantan Tengah. Festival ini digagas oleh Dinas Perikanan sebagai sarana efektif untuk melestarikan tradisi masyarakat Dayak setempat. Kegiatan ini juga menjadi media kampanye penting tentang praktik penangkapan ikan yang ramah lingkungan.
Acara yang berlangsung di kolam ini, meskipun aslinya tradisi dilakukan di sungai, tetap menjadi contoh kearifan lokal dalam menjaga ekosistem perairan. Puluhan pegawai dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) turut serta dalam lomba menangkap ikan lele dengan tangan kosong. Mereka berlomba menunjukkan kemampuan menangkap ikan paling banyak dalam waktu sepuluh menit.
Festival Mangaruhi tidak hanya sekadar ajang perlombaan, tetapi juga bertujuan meningkatkan rasa kebersamaan dan gotong royong di kalangan masyarakat. Lebih dari itu, kegiatan ini berupaya menjaga kelestarian budaya lokal yang telah mengakar kuat di Kotawaringin Timur. Ini adalah upaya nyata dalam melestarikan warisan leluhur.
Advertisement
Advertisement
Festival Mangaruhi: Simbol Pelestarian Budaya dan Lingkungan
Bupati Halikinnor menekankan bahwa Festival Mangaruhi merupakan ajang yang mengajarkan cara bersahabat dengan alam. Kegiatan ini juga menumbuhkan semangat kebersamaan antar sesama warga. Melalui festival ini, masyarakat diajak untuk menjaga kelestarian alam agar tetap lestari secara berkelanjutan.
Kepala Dinas Perikanan Kotawaringin Timur, Ahmad Sarwo Oboi, menambahkan bahwa Festival Mangaruhi adalah wujud nyata pelestarian budaya lokal. Selain itu, festival ini juga menjadi ajang silaturahmi yang mempererat hubungan antara Forkopimda dan seluruh kepala OPD. Ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah terhadap nilai-nilai budaya.
Menurut Ahmad Sarwo Oboi, Festival Mangaruhi bukan sekadar tradisi biasa, melainkan simbol persatuan dan gotong royong. Ini adalah manifestasi semangat menjaga kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun. Pihaknya ingin menegaskan bahwa pembangunan Kotawaringin Timur tidak hanya berorientasi pada fisik dan ekonomi.
Advertisement
Pembangunan daerah juga harus mencakup aspek budaya, identitas, dan jati diri masyarakat. Dengan demikian, Festival Mangaruhi menjadi pilar penting dalam membentuk karakter daerah yang kuat. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan Kotawaringin Timur.
Advertisement
Keseruan Lomba Tangkap Ikan Tangan Kosong
Suasana Festival Mangaruhi berlangsung sangat seru dan penuh keakraban. Puluhan pegawai perwakilan OPD tampak antusias terjun langsung ke kolam. Mereka berlomba menangkap ikan lele hanya dengan menggunakan tangan kosong.
Meskipun terlihat mudah, menangkap ikan di kolam ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Ikan lele dikenal sebagai jenis ikan yang gesit, licin, dan cukup sulit untuk ditangkap. Para peserta harus mengerahkan strategi dan kecepatan untuk bisa mengumpulkan ikan sebanyak mungkin.
Pemenang lomba dalam Festival Mangaruhi ini ditentukan berdasarkan jumlah ikan yang berhasil ditangkap. Peserta yang berhasil mengumpulkan ikan paling banyak dalam kurun waktu sepuluh menit akan menjadi juara. Kompetisi ini tidak hanya menguji ketangkasan, tetapi juga kesabaran peserta.
Advertisement
Tradisi menangkap ikan dengan tangan kosong ini menjadi bagian integral dari Festival Mangaruhi. Ini bukan hanya hiburan, tetapi juga pengingat akan cara-cara tradisional yang ramah lingkungan. Festival ini sukses menciptakan momen kebersamaan dan kegembiraan bagi semua yang terlibat.
Sumber: AntaraNews