BPTJ Usul LRT Jabodetabek Diperpanjang Hingga Puncak Bogor

Kamis, 19 September 2019 20:32 Reporter : Rasyid Ali
BPTJ Usul LRT Jabodetabek Diperpanjang Hingga Puncak Bogor Proyek LRT Jabodetabek. ©2017 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Merdeka.com - Pembangunan Lintasan Rel Terpadu (LRT) rencananya akan diperpanjang hingga ke kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Diperluasnya pembangunan LRT diharapkan dapat memecah masalah kemacetan di Jalan Raya Puncak.

Rencana perluasan Lintasan Rel Terpadu (LRT) ini setelah Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) mengkaji dari semula hanya sampai Terminal Baranangsiang. Pemerintah Kabupaten Bogor pun menyambut baik rencana pembangunan LRT tersebut.

"Ini sebetulnya yang kami tunggu dari BPTJ. Jadi ini hikmah dari BPTJ turun untuk mengkaji apa yang bisa menjadi solusi kemacetan Puncak," kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappedalitbang) Kabupaten Bogor, Syarifah Sofiah di Gedung Tegar Beriman, Cibinong, Kamis (19/9).

Sebelumnya, pemerintah pusat sudah menaruh perhatian untuk Jalan Raya Puncak, dengan melebarkan jalan hingga membangun jalur darurat di Turunan Selarong jika ada kendaraan mengalami rem blong.

Namun, pelebaran jalan itu belum cukup membuat ruas Raya Puncak lengang. Berbagai upaya pun terus dilakukan seperti penerapan ganjil-genap. Terakhir, BPTJ menerapkan sistem kanalisasi di Jalan Raya Puncak dan uji coba akan segera dievaluasi.

"Iya dari kebiasaan kerja BPTJ kan dia akan uji coba dulu. Nanti akan dihitung datanya mana yang paling efektif dan paling sedikit menimbulkan persoalan. BPTJ kini akan berkoordinasi dengan Kemen PU untuk memperpanjang jalur LRT hingga Puncak. Tapi semua masih uji coba belum sampai pada mana yang akan diambil," kata dia.

Perempuan yang akrab disapa Ifah ini, menjelaskan jika LRT benar-benar sampai ke Puncak, maka akan dibangun sebuah park and ride, di mana pengguna kendaraan pribadi bisa menyimpan kendaraannya di sana, lalu berpindah menumpang LRT hingga ke Gunung Mas.

"Meski geografis Puncak berbukit, tapi secara teknologi sangat memungkinkan. Kan LRT cuma tiang-tiang yang bisa diatur tinggi rendahnya supaya bisa datar jalurnya. Masyarakat juga nanti bakal pindah ke transportasi massal jika memadai," kata dia.

Sementara Bupati Bogor Ade Yasin berharap, LRT jika terealisasi bisa sampai hingga Puncak Pas. "Sekarang Pemkab Bogor sedang fokus untuk pembangunan Jalur Puncak II. Dan saya rasa LRT juga bisa jadi solusi untuk masalah kemacetan," katanya.

Sebelumnya diberitakan, Pemerintah Kota Bogor mewacanakan adanya trem, moda transportasi berbasis rel sebagai angkutan feeder dari LRT. Nantinya bakal ada delapan stasiun trem yang akan mengelilingi pusat kota.

Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim mengatakan ide ditempatkannya trem muncul setelah Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) mewacanakan Lintas Rel Terpadu (LRT) masuk ke Kota Bogor, Jawa Barat.

Dedie Rachim mengatakan bahwa berdasarkan kajian sementara, akan ada delapan stasiun trem mengelilingi pusat kota. Menurutnya, moda transportasi ini akan menghubungkan Terminal Baranangsiang, Stasiun akhir LRT, Stasiun Paledang, hingga Stasiun Bogor.

"Rencananya ada delapan stasiun, Lawang Suryakencana, Mall BTM, Jalan Paledang, Alun-alun Bogor, Jalan Pengadilan, Lapangan Sempur, Mall Lippo Keboen Raya, dan Mall Botani Square," beber mantan Direktur di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu kepada di Bogor, seperti diberitakan Antara, Kamis (22/8).

Menurutnya, sebelum mengerucut ke moda transportasi berupa trem, Pemerintah Kota Bogor sempat mengusulkan kepada Kementerian Perhubungan (Kemenhub) agar rute LRT bisa mengelilingi Kebun Raya Bogor sebelum berakhir di stasiun Baranangsiang. Hanya saja, opsi tersebut dimentahkan dengan alasan memerlukan biaya yang relatif mahal.

"Kemudian ada pilihan kedua yaitu transportasi berupa monorel. Tapi, itu pun masih terlalu mahal, kemudian trem pilihan yang paling ideal," kata Dedie Rachim.

Ia berharap, ketika Bogor memiliki beberapa jenis moda transportasi berbasis rel, akan memecah kepadatan di pusat kota. Pasalnya, kini mobilitas masyarakat dari Bogor ke Jakarta terpusat di Stasiun Kereta Rel Listrik (KRL) Bogor.

Berdasarkan penelitiannya bahkan dari rata-rata 280.000 penumpang KRL per hari, sebanyak 200.000 penumpang bergerak dari arah Bogor menuju Jakarta. Sedangkan arah sebaliknya hanya 80.000 penumpang.

"Kita harapkan dengan sistem transportasi berbasis rel berbahan bakar listrik ini juga akan mengurangi pencemaran udara di pusat kota," tuturnya.

Pembangunan trem ini setelah BPTJ bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor, resmi menetapkan wilayah Baranangsiang Kota Bogor sebagai stasiun akhir LRT.

Kepala BPTJ, Bambang Prihartono menyebutkan, pemilihan lokasi di area yang kini difungsikan sebagai terminal bus itu karena tempat tersebut akan dijadikan Transit Oriented Development (TOD) oleh Pemkot Bogor.

"Seyogyanya LRT ujungnya harusnya ada di Baranangsiang. Jadi kalau bicara TOD jangan diartikan hanya developer seperti biasa, justru pola transitnya yang paling penting," kata Bambang. [gil]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini