BNPB Ungkap Sulitnya Memadamkan Kebakaran di Lahan Gambut

Rabu, 9 Oktober 2019 00:03 Reporter : Merdeka
BNPB Ungkap Sulitnya Memadamkan Kebakaran di Lahan Gambut 30 Hektare Lahan Gambut di Asahan Terbakar. ©2019 Merdeka.com/yan muhardiansyah

Merdeka.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengakui selama ini kesulitan memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah. Menurut Kepala BNPB Doni Monardo, hal ini dikarenakan ketebalan gambut bisa mencapai puluhan meter.

"Gambut itu isinya fosil ya. Pohon-pohon kemudian daun-daun yang usianya mungkin sudah 200 dan ribuan tahun. Nah itu yang terbakar," kata Doni di Kantor BNPB, Jakarta Timur, Selasa (8/10).

Kata Doni, bila yang terbakar hanya permukaan, maka mungkin saja kejadiannya tidak separah ini. Karena jika di bawah permukaan hutan hanya tanah, api akan cepat pada karena ketiadaan zat pembakaran, yakni oksigen. Sedangkan gambut, meskipun ketebalannya mencapai puluhan meter tapi di dalamnya menyimpan oksigen.

"Ditambah lagi dia (gambut) memiliki kayu yang usianya ribuan tahun sudah lapuk," ungkap Doni.

Doni mengungkapkan, pada dasarnya lahan gambut ialah lahan yang basah karena cukup banyak menyimpan air. Namun di saat kemarau, air mengalami penguapan hingga membuat gambut tersebut terdegradasi dan mengering.

Karena keringnya lahan gambut ini, maka api mudah merembet ke penjuru arah. Di tambah juga ketiadaan hujan di wilayah terdampak karhutla.

Ketiadaan hujan tersebut, kata Doni, pada dasarnya bisa diakali dengan rekayasa hujan buatan. Namun hujan buatan bisa dilakukan manakala komposisi awan di atas lahan terbakar mencapai 70 persen. Sedangkan di beberapa area yang terdampak karhutla, komposisi awannya tidak mencapai persentase itu.

"Nah kalau awannya tidak sampai 70 persen mau disiram berapa ton pun enggak akan bisa. Kita tidak bisa membuat hujan buatan, mulai kering," tutur Doni.

Pemadam dengan air atau hujan buatan, lanjut Doni, hanya memadamkan permukaannya saja. Sedangkan di bawahnya sama sekali tidak tersentuh oleh air.

Karena tidak terjamah air, maka bara di bawah lahan gambut tersebut masih menyala. Oleh karenanya meskipun permukaannya sudah dipadamkan, tapi beberapa waktu akan tebakan kembali karena bara api di bawahnya belum mati.

"Jadi tanpa dibakar pun karena gambut ini belum mendapatkan air yang cukup, maka dengan mudah akan kebakar lagi. Nah ketika kebakar kalau tidak ada asap tidak masalah, persoalannya ketika terbakar asapnya pekat ya. karena yang terbakar itu gambut yang isinya fosil tadi," tutup Doni.

Reporter: Yopi Makdori

Sumber: Liputan6.com [bal]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini