BEM UI Soal Uang Kuliah Mahal: Turunkan Biaya Pendidikan atau Rektor yang Turun
Merdeka.com - Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), Melki Sedek memberikan dua pilihan pada Rektor Ari Kuncoro, terkait tingginya biaya pendidikan tahun 2023. Pertama, rektor diminta menurunkan biaya pendidikan atau kedua rektor mundur dari jabatannya sekarang.
"Kita berikan dua pilihan pada rektor. Menurunkan biaya pendidikan atau Pak Ari Kuncoro yang turun, tinggal pilih," kata Melki, Selasa (27/6).
BEM menuntut agar rektor menurunkan biaya pendidikan dengan membatalkan Surat Keputusan (SK) Nomor 672/SK/R/UI/2023 tentang Tarif Biaya Pendidikan bagi Mahasiswa Non-Reguler. Kemudian diganti dengan SK baru yang sesuai dengan prosedur-prosedur lama.
"Akan ada ribuan mahasiswa UI lintas angkatan yang akan melakukan demonstrasi dan sudah kita pastikan, kita menuntut Pak Ari Kuncoro untuk mundur," tukasnya.
Menurutnya, untuk membatalkan SK rektor dan mengganti dengan yang baru adalah hal mudah, sepanjang ada niat dan komitmen dari Ari Kuncoro. Yang diperlukan, kata dia, hanya political will.
"Tergantung kemauan, political will-nya," tegasnya.
BEM memberikan waktu hingga akhir Juni untuk segera menjawab tuntutan BEM terkait tingginya biaya Pendidikan. Jika tetap tidak digubris, BEM akan mengerahkan massa lebih besar untuk menggeruduk rektorat.
"Kalau Pak Ari Kuncoro tidak balas ya, Kamis atau Jumat ini. Kita lihat Pak Ari Kuncoro mau jawab tidak di Hari Iduladha," ujarnya.
Sebelumnya diberitakan, 10 calon mahasiswa baru (camaba) UI mengundurkan diri karena persoalan uang kuliah tunggal (UKT) yang dinilai mahal. Mereka adalah camaba yang diterima dari jalur prestasi. Kesepuluh orang tersebut terdiri dari sejumlah fakultas dan program vokasi.
"Total ada kurang lebih 10 mahasiswa baru yang kemudian mengadu hampir tidak lagi melanjutkan kuliahnya di UI karena mahalnya biaya pendidikan, hampir mundur," kata Melki.
Saat ini, pihak BEM sedang mencarikan jalan bagi 10 orang tersebut agar tetap bisa melanjutkan kuliah di UI.
"Kita coba carikan bantuan dan sebagainya," tukasnya.
Mereka rata-rata dipatok uang kuliah di atas Rp15 juta per semester. Hal itu dianggap sangat memberatkan orang tua mahasiswa.
"Ada orang tua mahasiswa yang menelepon saya kemarin nangis. Ada yang sudah jadi pensiunan PNS, ada yang anak yatim, ada yang bekerja di sektor non-formal. Pokoknya orang-orang yang dalam kondisi menengah ke bawah dan tidak bisa mengakses banyak bantuan dari UI. Mereka itu adalah jalur prestasi SNBP," ujar dia.
Dikatakan Melki, sampai hari ini ada sekitar 700-800 orang yang mengadukan keberatan mengenai uang kuliah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 100 orang masih merasa keberatan atas penetapan biaya pendidikan di UI.
"Angka yang mengajukan keberatan kemarin masih kita perjuangkan, total 100 lebih yang masih mengajukan keberatan. Awalnya 700-800 yang keberatan di tanggal 20 Juni, setelah data bisa dilihat tanggal 21. Dari 700-800 itu, masih ada 100 yang mengajukan keberatan karena dari penetapan biaya pendidikan yang ada, masih diluar kemampuan biaya finansialnya," ujar dia.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya