Baru 33,9 Persen, Dinkes Magetan Pacu Temuan Kasus Demi Eliminasi TBC Magetan 2030

Dinas Kesehatan Magetan berupaya keras meningkatkan temuan kasus tuberkulosis (TBC) yang masih rendah, meluncurkan program Desa Siaga TBC untuk mencapai Eliminasi TBC Magetan 2030 dan mengatasi kendala diagnosis.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Baru 33,9 Persen, Dinkes Magetan Pacu Temuan Kasus Demi Eliminasi TBC Magetan 2030
Dinas Kesehatan Magetan berupaya keras meningkatkan temuan kasus tuberkulosis (TBC) yang masih rendah, meluncurkan program Desa Siaga TBC untuk mencapai Eliminasi TBC Magetan 2030 dan mengatasi kendala diagnosis. (Merdeka.com)

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Magetan, Jawa Timur, gencar meningkatkan temuan kasus baru penyakit tuberkulosis (TBC). Langkah ini merupakan bagian dari upaya serius pemerintah daerah untuk mewujudkan Magetan Eliminasi TBC Tahun 2030 sesuai yang dicanangkan pemerintah. Inisiatif ini didorong oleh target nasional yang ambisius.

Hingga akhir Agustus 2025, penemuan kasus TBC di Magetan baru mencapai 33,9 persen dari target 1.659 kasus yang ditetapkan pemerintah pusat. Kondisi ini menuntut kolaborasi kuat dari berbagai pihak. Deteksi dini, pengobatan tuntas, dan pencegahan penularan menjadi fokus utama di tingkat desa.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan, Rohmat Hidayat, menekankan pentingnya sinergi. Ia mengungkapkan bahwa salah satu kendala utama adalah keterbatasan alat diagnosis yang memadai. Upaya percepatan penanganan TBC kini menjadi prioritas utama untuk mencapai target eliminasi.

Rendahnya angka temuan kasus TBC di Magetan sebagian besar disebabkan oleh keterbatasan alat diagnosis. Terutama, fasilitas rontgen yang belum memadai menjadi penghambat signifikan dalam proses identifikasi pasien. Hal ini memperlambat upaya mencapai target Eliminasi TBC Magetan.

Magetan saat ini memiliki enam alat Tes Cepat Molekuler (TCM) yang tersebar di puskesmas dan rumah sakit. Namun, alat-alat ini belum didukung penuh oleh fasilitas rontgen yang memadai. "Kalau TCM hasilnya negatif, mestinya diikuti dengan pemeriksaan rontgen," jelas Rohmat Hidayat.

Ketiadaan rontgen yang cukup membuat diagnosis klinis seringkali terlambat. Padahal, diagnosis yang cepat dan akurat sangat krusial untuk memulai pengobatan dan mencegah penularan lebih lanjut. Situasi ini menjadi perhatian serius bagi Dinkes Magetan.

Untuk mengatasi hambatan ini, Dinkes telah menginstruksikan tim percepatan penanggulangan TBC. Camat dan kepala desa se-Kabupaten Magetan diminta untuk mengoptimalkan potensi yang ada. Tujuannya adalah mendukung penuh program Eliminasi TBC Tahun 2030.

Sebagai langkah konkret, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magetan meluncurkan Program Desa Siaga TBC pada 1 September 2025. Program ini dirancang untuk memberdayakan masyarakat di tingkat paling dasar. Semua camat dan kepala desa diharapkan aktif membentuk desa siaga.

Desa Siaga TBC berperan penting dalam mengedukasi masyarakat, mendampingi pasien, dan mendorong warga bergejala TBC agar segera berobat. "Desa Siaga TBC itu tujuannya sama seperti saat pandemi COVID-19," kata Rohmat Hidayat. Ia menambahkan, "Kita ingin ada gotong royong masyarakat, agar TBC tidak dianggap aib."

Melalui program ini, masyarakat diharapkan dapat saling membantu dan mendukung pengobatan pasien TBC sampai tuntas. Desa Siaga TBC akan menjadi pusat edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Kader kesehatan di setiap desa akan melakukan pemantauan, pendampingan, dan penyuluhan berkelanjutan.

Dengan terbentuknya Desa Siaga TBC, Pemkab Magetan menargetkan penurunan angka penularan TBC secara signifikan. Harapannya adalah terciptanya masyarakat yang sehat, produktif, dan bebas TBC. Ini merupakan langkah strategis menuju Magetan Eliminasi TBC 2030 yang dicanangkan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi