Beijing, China, menanggapi pernyataan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang meragukan keberadaan ladang angin sebagai sumber energi terbarukan di Tiongkok. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, pada konferensi pers di Beijing, Kamis, menegaskan bahwa kapasitas terpasang tenaga angin China telah memimpin dunia selama 15 tahun berturut-turut. Pernyataan ini sekaligus menepis keraguan yang dilontarkan oleh Trump mengenai komitmen energi terbarukan di negara tersebut.
Guo Jiakun lebih lanjut menjelaskan bahwa China telah membangun sistem kebijakan pengurangan emisi karbon terlengkap di dunia, serta memiliki sistem energi terbarukan terbesar secara global. Negara ini juga secara aktif membagikan pencapaiannya dalam pembangunan hijau kepada komunitas internasional. Hingga akhir November 2025, kapasitas terpasang tenaga angin di China telah melampaui angka 600 juta kilowatt, menunjukkan skala investasi dan pengembangan yang masif.
Komitmen China terhadap energi bersih tidak hanya berdampak di dalam negeri, tetapi juga secara global. Guo Jiakun mengungkapkan bahwa selama lima tahun terakhir, ekspor produk tenaga angin dan panel surya dari China telah berkontribusi mengurangi sekitar 4,1 miliar ton emisi karbon di negara-negara lain. Upaya signifikan ini dalam memerangi perubahan iklim dan memajukan energi terbarukan secara global telah mendapatkan pengakuan luas dari berbagai pihak.
Advertisement
Advertisement
Data dari Our World in Data menunjukkan bahwa China merupakan produsen energi angin terbesar di dunia, mengungguli negara-negara lain secara signifikan. Pada tahun 2024, China berhasil menghasilkan 997 terawatt-jam energi dari angin, jumlah ini lebih dari dua kali lipat produksi Amerika Serikat yang menempati posisi kedua. Angka ini menegaskan dominasi Tenaga Angin China di kancah global.
Lembaga Ember Energy juga melaporkan bahwa pembangkit listrik tenaga angin China menyumbang 40 persen dari total pembangkit listrik tenaga angin global pada tahun 2024. Bahkan, pada April 2025, tenaga angin dan tenaga surya di China secara kolektif menghasilkan lebih dari seperempat (26 persen) dari total listrik negara. Angka ini melampaui rekor sebelumnya sebesar 23,7 persen yang dicapai pada Maret 2025, menandakan pertumbuhan yang pesat dalam bauran energi bersih.
Pencapaian ini tidak hanya menunjukkan kapasitas produksi yang besar, tetapi juga transisi energi yang berkelanjutan di China. Guo Jiakun menekankan kesiapan China untuk bekerja sama dengan semua pihak dalam mempromosikan transisi global menuju ekonomi hijau dan rendah karbon. Tujuannya adalah untuk bersama-sama membangun dunia yang bersih dan indah.
Advertisement
Advertisement
Seiring dengan peningkatan produksi energi terbarukan, China juga menunjukkan tren positif dalam pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Selama empat bulan pertama tahun 2025, pembangkitan bahan bakar fosil di China menurun sebesar 3,6 persen dari tahun ke tahun. Ini adalah indikator penting dari pergeseran paradigma energi di negara tersebut.
Analisis dari Energy and Climate Intelligence Unit (ECIU) menemukan bahwa China kini berada dalam tahap decoupling relatif. Ini berarti emisi karbon meningkat lebih lambat dibandingkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Antara periode 2015-2023, emisi berbasis konsumsi meningkat sebesar 24 persen, sementara PDB-nya tumbuh lebih dari 50 persen dalam periode yang sama, menunjukkan efisiensi energi yang lebih baik.
Pergeseran ini mencerminkan upaya serius China dalam mencapai tujuan keberlanjutan dan mengurangi dampak lingkungan dari pertumbuhan ekonominya. Investasi besar dalam Tenaga Angin China dan energi surya menjadi kunci utama dalam strategi dekarbonisasi ini.
Advertisement
Advertisement
Salah satu bukti nyata dominasi China dalam energi angin adalah Pembangkit Listrik Tenaga Angin Gansu, yang terletak di wilayah gurun luas di Gansu barat. Pembangkit ini merupakan yang terbesar di dunia dan bahkan terlihat dari luar angkasa. Pembangunannya dimulai pada tahun 2009 dan saat ini telah memiliki lebih dari 7.000 turbin.
Setelah selesai dibangun sepenuhnya, Pembangkit Listrik Tenaga Angin Gansu dijadwalkan memiliki kapasitas terpasang sebesar 20 GW, cukup untuk memasok listrik bagi sekitar 15 juta rumah. Proyek ambisius ini menyoroti skala investasi China dalam infrastruktur energi terbarukan.
Menurut Global Energy Monitor, China sedang membangun proyek tenaga surya sebesar 180 gigawatt dan proyek tenaga angin sebesar 159 gigawatt. Secara kolektif, proyek-proyek ini mencapai hampir dua pertiga dari kapasitas energi terbarukan yang beroperasi di seluruh dunia, menjadikan China sebagai pemimpin tak terbantahkan dalam pengembangan energi bersih global.
Advertisement
Sumber: AntaraNews