Arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Profesor Harry Truman Simanjuntak, mengingatkan Menteri Kebudayaan Fadli Zon tidak mencemari bahasa politik di dalam narasi akademik penulisan ulang sejarah Indonesia.
Truman awalnya mengungkapkan, terdapat berbagai kejanggalan dalam penulisan ulang sejarah Indonesia. Salah satunya, penggunaan "Indonesia sentris".
"Saya buka suara ketika di pertemuan Menteri, tidak setuju dengan penggunaan istilah ini. Kenapa? Pak, kalau kita bicara ilmu pengetahuan, kita harus bicara objektivitas, rasionalitas. Kalau salah, katakanlah salah," kata Truman, saat diskusi secara daring Rabu (18/6).
"Kalau benar, katakanlah benar. Kalau hebat, kita puji. Kalau tidak hebat, jangan dipuji. Jadi jangan hanya mengangkat hal-hal yang ingin memperlihatkan Indonesia hebat loh. Bukan main, tidak bisa begitu bro di bidang keilmuan. Kalau di pasaran, kita boleh saja bicara-bicara begitu," sambungnya.
Dia pun mewanti-wanti, agar Fadli Zon tidak mencemari narasi akademik dengan bahasa politik.
"Sampai saya menyatakan kepada beberapa teman, maksud saya mudah-mudahan disampaikan ke Pak Menteri. Tolong-tolong jangan narasi akademik itu dicemari bahasa politik. Sampai saya katakan itu beberapa kali," tegas dia.
Advertisement
Bahasa Politik Tak Dibenarkan
Menurutnya, bahasa politik didalam narasi akademik sesuatu hal yang tidak dibenarkan.
"Jangan narasi akademik dicemari bahasa politik. Bahasa politik boleh saja maunya bombastis, sensasional, bertanggung jawaban belakangan. Tapi itu pun salah kalau menurut saya," ujar Truman.
"Tidak benar itu. Maksudnya hanya untuk mengambil ini dulu, pengaruh dulu, posisi dulu. Tapi itu tidak benar. Kalau di situ, saya katakan politik itu jahat. Kalau seperti itu. Nah, Indonesia tersentris," tambahnya.
Dia berharap, agar penulisan ulang sejarah Indonesia dapat dilakukan secara objektif dan transparan.
"Ya, mestinya kita melihat semuanya itu secara transparan, secara objektif. Bahkan waktu diskusi saya katakan sejelek-jeleknya penjajahan ada nilai positifnya. Itu harus diangkat. Tidak bisa disembunyikan. Jadi janganlah sofinistik secara yang berlebih-lebihan. Jangan, jangan, jangan. Kita di arkeologi diajarkan oleh guru kita, para profesor kita puluhan tahun yang lalu, bicara jujur dalam keilmuan. Jangan menambah yang tidak ada. Jangan ngarang," imbuh dia.