Anak Penderita Lemah Otot Meninggal Dunia Usai Satu Bulan Dirawat di Rumah Sakit

Minggu, 28 April 2019 05:01 Reporter : Kirom
Anak Penderita Lemah Otot Meninggal Dunia Usai Satu Bulan Dirawat di Rumah Sakit Fauzan Akmal Maulana. ©2019 Merdeka.com/Kirom

Merdeka.com - Duka mendalam masih dirasakan Winih Utami Pristiwati (49), Ibunda dari almarhum Fauzan Akmal Maulana (14), bocah penderita lemah otot yang bersemangat tetap bersekolah dengan digotong Ibunya.

Sebelumnya diberitakan merdeka.com, kegigihan bocah penderita penyakit Distrophia Muculor Progresive (DMP) atau lemah otot, bersemangat menempuh pendidikan.

Winih, orang tua tunggal almarhum Fauzan dan sang Kakak Lisrina Fauzia Khairunnisa, menceritakan detik terakhir kepergian yatim yang bercita-cita menjadi dokter itu meninggal dunia.

"Ini jawaban atas doa-doa saya, saya selalu minta sama Allah, Fauzan sembuh, Fauzan sembuh, bukan minta yang terbaik buat Fauzan. Tapi nyatanya sembuhnya manusia sama Allah beda," kata Winih, mengawali pembicaraan di rumahnya Kampung Pladen, RT 02 RW 06 Kelurahan Pondok Ranji, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan.

Winih melanjutkan, Fauzan Akmal Maulana, menghembuskan napas terakhirnya, Sabtu (27/4) sekitar pukul 05.10 WIB kemarin. "Jadi Sabtu kemarin sebelum Subuh saya diminta dokter melihat kondisi Fauzan, azan Subuh saya diminta salat dan setelah salat saya dipanggil kembali dokter ke ruang ICU dan dinyatakan dokter meninggal dunia," ujar dia.

Winih pun mengaku tabah dan ikhlas menerima kenyataan pahit atas kepergian Fauzan menghadap sang khalik, setelah sebelumnya, Ayah Fauzan meninggal dunia diakhir tahun 2018 karena suatu penyakit.

"Dua jagoan (suami dan Fauzan) saya sudah tidak ada, siapa yang enggak sedih. Tapi ini kehendak Allah, saya hanya pasrah dan mendoakan keduanya," kata Ibu penjual gorengan ini.

Sebelum menghembuskan napas terakhirnya, Fauzan, kata Winih, menjalani perawatan di ruang Intensive Care Unit (ICU) RS Fatmawati Jakarta Selatan, selama satu bulan penuh. Setelah sebelumnya dirawat di RS Premier Bintaro, Tangerang Selatan, selama 4 hari.

"Jadi persis sebulan Fauzan di ICU, sebelumnya di RS Premier Bintaro 5 hari, 4 hari di kamar rawat biasa dan satu hari di ICU, saat di ICU Fauzan sudah dalam kondisi kritis," terangnya.

Menurut Winih, kepergian Fauzan tidak lain adalah akibat penyakit yang dia derita yakni DMP atau lemah otot, yang diderita sejak duduk di bangku sekolah Dasar kelas V.

"Penjelasan dokter memang seperti itu, DMP inikan lemah otot yang menyerang ke semua jaringan organ otot manusia. Jadi kemarin itu, organ parunya yang terserang, sehingga Fauzan butuh bantuan pernapasan, karena kemampuan bernapasnya menurun," terang Winih.

Sebelumnya, hidup dalam keterbatasan bukan halangan bagi Fauzan Akmal Maulana, (15) penderita Distrophia Muculor Progresive (DMP) atau kelemahan pada otot, untuk menempuh pendidikan formal di sekolah Terbuka.

Meski saraf-saraf ototnya semakin melemah, tapi tidak melemahkan keinginan Fauzan untuk mengenyam pendidikan formal dan menggapai cita-citanya menjadi seorang dokter.

Lahir secara normal tanpa satu kekurangan apapun pada (31/5) lalu, Fauzan Akmal Maulana, tiba-tiba saja tak bisa bangkit dari kasur di pagi hari di tahun 2015.

"Waktu itu kelas 5 SD, padahal kelas 1,2,3 itu enggak apa. Saya bisa ikut upacara, bisa main sepeda kaya anak-anak biasa," kenang dia, Selasa (19/3) mengawali pembicaraan dengan merdeka.com di SMP Terbuka 1 Tangerang Selatan.

Dia dan keluarga hanya bisa pasrah, sampai kemudian divonis Dokter dari RSU Fatmawati, Jakarta Selatan, Fauzan mengidap penyakit otot lemah (DMP). Yang merupakan penyakit genetik berdasarkan keturunan.

"Awalnya dapat keringanan dari kepala Sekolah di SD, tapi saya tetap mau ikut sekolah. Akhirnya bisa lulus (SD) juga," ucap dia.

Tak sampai di situ, semangat Fauzan melanjutkan sekolah ke tingkat lebih tinggi dia wujudkan, dengan mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) di SMP Terbuka 1 Tangerang Selatan.

"Karena kami juga enggak mampu memasukkan Fauzan ke sekolah berkebutuhan khusus swasta, akhirnya dapat informasi ada SMP terbuka di Tangsel, dan kami mendaftar," kata Winih (49), Ibu Fauzan.

Di tengah keterbatasannya itu, Winih berupaya memenuhi keinginan Fauzan yang kuat untuk meneruskan pendidikan formalnya di sekolah.

"Dasarnya memang dia senang sekolah, dia dan kami keluarga juga tidak pernah menganggap Fauzan ini lemah, tak berdaya. Kami kuatkan, dan akhirnya bisa sekolah sampai sekarang mau lulus SMP," terang dia.

Winih yang hanya berjualan gorengan ke toko-toko langganannya, mengaku selalu menyempatkan diri untuk mengantarkan Fauzan bersekolah, dengan berboncengan sepeda motor.

"Kalau di tempat kegiatan belajar (TKB), saya bonceng dia naik motor. Kalau ke sekolah Induk di SMP Terbuka 1 Tangsel, kami sewa angkot bersama teman-teman dari TKB kami di Pondok Aren," ucapnya.

Diceritakan sang Ibu, Fauzan amatlah bersemangat, ketika menjalani rutinitasnya belajar di sekolah. Dia juga sangat antusias dengan pelajaran-pelajaran hafalan.

"Memang kata dokter sensorik, motorik dan otaknya bagus bisa tumbuh baik. Cuma lemah pada ototnya, sehingga makin ke sini, kakinya makin mengangkat dan kecil. Tapi untuk belajar dia masih bisa menerima pelajaran," ucap janda dua anak ini.

Winih pun tak putus asa, di tengah badai cobaan, usai ditinggal pergi sang suami yang meninggal awal Februari 2019 ini, Winih tetap semangat menghidupi dua buah hatinya Fauzan dan Nisrina Fauziah (21), yang saat ini sudah berkuliah.

"Fauzan dengan segala kekurangannya sangat bersemangat untuk sekolah. Katanya mau jadi dokter. Apalagi saya, meski harus berjuang seorang diri, pasti saya korbankan semuanya," ucap Winih.

Saat ini Fauzan tengah duduk di bangku sekolah kelas IX SMP Terbuka Tangsel, dia dan orangtuanya juga belum mengetahui akan melanjutkan pendidikan kemana.

"Fauzan tetap semangat untuk melanjutkan sekolah ke SMA atau SMK. Tapi saya juga belum tahu dimana sekolah yang bisa menerima dan terjangkau," ucap Winih.

Minta Pulang dari Rumah Sakit

Winih Utami Pristiwati (49), masih tak menyangka putra kebanggannya, Fauzan Akmal Maulana (14), dipanggil sang khalik begitu cepat.

Dia pun sebelumnya berharap, anak keduanya yang menderita lemah otot itu bisa segera pulih dan keluar dari kamar perawatan Intensive Care Unit (ICU) RS Fatmawati, Jakarta Selatan.

"Benar enggak menyangka, karena hari-hari sebelumnya dia terlihat segar. Cuma pada Jumat (26/4) sekitar pukul 17.00 sampai pukul 20.00 WIB almarhum drop," ucap Winih, Ibunda Fauzan, Minggu (28/4).

Meski begitu, Winih mengaku ikhlas dan tabah, atas kepergian putranya yang periang dan penuh semangat dalam belajar itu.

Diberitakan sebelumnya, Fauzan menjalani perawatan di ruang ICU RS Fatmawati selama 1 bulan, setelah sebelumnya dia di rawat 5 hari di RS Bintaro.

"Fauzan itu masuk rumah sakit di hari selasa bulan Maret, saat itu kami hendak siap-siap mau berangkat sekolah, dia pakai seragam. Kebetulan ada media TV mau meliput keberangkatan Fauzan dari rumah ke sekolah, tapi baru mau naik motor dia bilang dadanya sakit, akhirnya enggak jadi sekolah sampai dipesan taksi online sama wartawan TV yang sudah datang ke rumah," kenang Winih sambil berkaca-kaca.

Winih mengaku saat itu tak punya cukup uang, untuk membiayai pengobatan putranya di RS Bintaro, namun di benaknya hanya ada satu pilihan agar Fauzan sembuh.

"Enggak mikirin duit, enggak punya BPJS juga, waktu itu mikirnya yang penting anak saya bisa sehat. Terus saya urus BPJS, dan akhirnya dirujuk ke RS Fatmawati," ucap Ibu penjual gorengan ini.

Hari-hari pun berlalu, tak terasa, Fauzan sudah hampir satu bulan berada di ruang ICU RS, Winih sebagai orang tua tunggal Fauzan, juga tak pernah sekalipun meninggalkan rumah sakit untuk terus mendukung Fauzan melawan penyakitnya.

"Persis sebulan, saya juga di sana terus selama Almarhum di rawat, baru kemarin dan hari ini di rumah. Masuk ruang ICU hanya bisa di jam 7 pagi dan sore saja. Setiap mau masuk saya tarik nafas, saya kuatkan diri agar enggak sedih di depan Almarhum, karena terus saya kuatkan dia. Padahal hati saya miris, badanya lemah hanya bisa baringan dengan banyak alat yang membantu hidupnya," kata Winih.

Setiap masuk bertemu, Winih cuma berpesan, untuk membuat Fauzan tetap kuat, tetap sabar dan tangguh menahan sakitnya. "Saya bilang kamu harus sembuh, selalu berzikir dan jangan tinggalin salat. Saya lihat memang dia terus salat meski berbaring di kasur," ucapnya.

Seingat Winih, tiga hari sebelum dipanggil sang Khalik, Fauzan selalu minta untuk pulang, untuk kembali ke rumah. "Mulutnya enggak mengeluarkan suara, tapi saya tahu mimiknya bilang, ‘pulang’, ‘copot (semua alat di tubuhnya)’ ya saya cuma bisa menguatkan, karena kemampuan bernafasnya melemah dan tidak memungkinkan untuk pulang, akhirnya dia pulang selamanya. Itu terus dia katakan sejak tiga hari sebelum meninggal sampai akhirnya kritis di Jumat sore," ucap dia. [gil]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini