Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Adu mulut warnai aksi rekonsiliasi keraton Surakarta

Adu mulut warnai aksi rekonsiliasi keraton Surakarta Gedung DPR. Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Penandatanganan nota kesepakatan antara Raja Tedjowulan dan Pakubuwono XIII Hangabehi diwarnai dengan insiden dorong-dorong dan adu mulut. Insiden ini terjadi antara keluarga Sinuwun Pakubuwono yang dilakukan oleh adik kandung Pakubuwono XIII, Gusti Raden Ayu Koes Moertiyah dengan pangeran Tedjowulan.

Raden Ayu Koes Moertiyah tidak diperkenankan masuk saat ingin menemui kakak kandungnya di ruang VIP, yang tidak lain adalah Pakubuwono XIII. Pakubuwono XIII Hangabehi terlihat pucat dan terpaksa harus dipapah jalannya dari ruang tunggu VIP menuju ke dalam gedung Nusantara IV di Gedung DPR/MPR.

Pantauan merdeka.com, Senin (4/6) tampak Koes Moertiyah, berusaha memeluk Pakubuwono XIII saat memasuki Ruang Pitaloka Nusantara IV, di mana acara nota kesepakatan berlangsung. Sesampainya di dalam gedung, seorang laki-laki berbaju batik dari kubu Tedjowulan tampak menghalangi Raden Ayu Koes Moertiyah dan perempuan kerabat lainnya untuk masuk. Keributan dorong-dorong dan adu mulut dengan memakai bahasa Jawa tak terelakkan.

Menurut Koes Moertiyah, dalam Keraton Surakarta sudah ada hukum adat yang mana berwenang menyelesaikan konflik internal kerabat Kraton. Dan aturan hukum adat ini, Koes Moertiyan menganggap tidak diikutkan dalam kesepakatan rekonsiliasi penandatangan ini.

"Saya sebagai ketua adat, dan kesepakatan rekonsiliasi itu dalam adat gak ada. Kakak saya, raja saya tapi gak dibolehkan. Jangan seperti ini to, saya membawa suara rakyat," kata Gusti Raden Ayu Kusmurtiyah di DPR, Jakarta, Senin, (4/6).

Raden Ayu merupakan adik kandung Sinuwun Pakubuwono Hangabehi. Raden Ayu juga menjabat Ketua Adat di Kasunan Surakarta dan sekaligus anggota Komisi IX DPR RI dari fraksi partai Demokrat.

"Tadinya mau ngomong sama kakak saya, yaitu raja saya, tidak diperbolehkan. Kenapa? Ini lembaga apa ini? Saya kan juga ada di dalam sini, saya kan juga membawa suara rakyat. Rakyat saya komunitas adat, ini sudah otoriter banget ini. Yang ngundang acara ini Sekjen, kapasitasnya apa. Antara Tedjowulan dan PB XIII bener gak identitasnya, jangan-jangan kakak saya Pakubuwono XIII dipaksa. Karena kakak saya selalu di Keraton, beliau sakit, gak bisa baca," tegas Raden Ayu.

"Tiba-tiba ini sudah ceremony. Kakak saya sakit, baca aja gak bisa. Saya mau menemui kakak saya gak bisa, saya akan tes kesehatan kakak saya," lanjutnya.

Saat dorong-dorongan dan adu mulut, Tedjowulan dilindungi oleh tiga laki-laki yang menghalang-halangi dorongan Koes Moertiyah. Tedjowulan tampak pasrah atas kata-kata Koes Moertiyah.

"Niki untuk kebaikan bersama mbak yu, saya nderek kang mas Sinuwun Pakubuwono, ingkang ngersakke kang mas Sinuwun. Kesepakatan ini kagem sae ne Surokarto," kata Tedjowulan.

Dengan raut muka penuh kekesalan, Raden Ayu Koes Moertiyah meninggalkan gedung Nusantara IV didampingi tiga perempuan berpakaian batik.

Penandatanganan dan teken MoU Pakubuwono XIII Hangabehi dan Pangeran Tedjowulan akhirnya berjalan lancar. Acara ini dihadiri oleh Walikota Solo Joko Widodo, Mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung dan Ketua DPR Marzuki Alie.

Konflik internal Keraton Surakarta terjadi pasca Paku Buwono XII mangkat pada tahun 2004, tanpa meninggalkan permaisuri dan putra mahkota. Sebagian pihak mendukung pengangkatan putra tertua, KGPH Hangabehi sebagai pengganti, sedangkan sebagian besar lainnya mendukung putra kelima, KGPH Tedjowulan, sebagai pengganti.

Akhirnya selama lebih dari tujuh tahun terdapat dua raja di salah satu kerajaan penerus dinasti Mataram tersebut. (mdk/hhw)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP