Aa Gym ke umat muslim: Kita doakan Donald Trump dapat hidayah dan jadi saleh

Dai Kondang asal Bandung, Abdullah Gymnastiar atau dikenal Aa Gym, ikut meramaikan aksi solidaritas Bela Palestina, yang digelar di Komplek Monas. Aa Gym meminta kepada seluruh umat muslim agar tidak mudah diadu domba. Dia meminta umat muslim dapat mengambil hikmah dari setiap peristiwa ini.

Ronald
Oleh Ronald - Reporter
Aa Gym ke umat muslim: Kita doakan Donald Trump dapat hidayah dan jadi saleh
Ustad Aa Gymnastiar. Kapanlagi.com

Dai Kondang asal Bandung, Abdullah Gymnastiar atau dikenal Aa Gym, ikut meramaikan aksi solidaritas Bela Palestina, yang digelar di Komplek Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat. Dalam kesempatan ini, Aa Gym mengimbau kepada para peserta aksi yang hadir untuk dapat menjaga sikap.

"Untuk jamaah, jaga hati, jaga lisan dan jaga perbuatan, jangan sampai kita berkata keji, kotor dan kasar. Apakah Rasulullah mengajarkan kita berkara kotor? Berkata kasar? Dan berkata keji?," ucap Aa di atas panggung di lokasi, Minggu (17/12).

Dia berharap seluruh umat muslim mendoakan Donald Trump agar mendapatkan hidayah dari Allah. "Mari kita doakan supaya pak Donald Trump mendapatkan hidayah dari Allah. Bayangkan jika beliau dapat hidayah dan menjadi soleh. Bagaimana akan sangat berpengaruh terhadap dunia ini. Tidak semua rakyat Amerika seperti Donald Trump," katanya.

Selain itu, Aa Gym meminta kepada seluruh umat muslim agar tidak mudah diadu domba. Dia meminta umat muslim dapat mengambil hikmah dari setiap peristiwa ini.

"Hikmahnya begini. Umat Islam ibarat domba-domba yang berpencar. Bagaimana cara penggembala menyatukan domba-domba itu? Ya dengan mengerahkan anjing-anjing. Silakan simpulkan sendiri," tandasnya.

Dalam kesempatan sama Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, membacakan sebuah puisi. Berikut puisinya.

Palestine gimana bisa aku melupakanmu

Ketika rumah-rumahmu diruntuhkan bulldozer

dengan suara gemuruh menderu, serasa pasir

dan batu bata dinding kamartidurku bertebaran

di pekaranganku, meneteskan peluh merah dan

mengepulkan debu yang berdarah. Ketika luasan perkebunan jerukmu dan pepohonan apelmu dilipat-lipat sebesar saputangan lalu di Telvisi dimasukkan dalam file lemari kantor

agraria, serasa kebun kelapa dan pohon mang-

gaku di kawasan khatulistiwa, yang dirampas

mereka. Ketika kiblat pertama mereka gerek dan keroaki bagai kelakuan reptilia bawah tanah dan sepatu-sepatu serdadu menginjaki tumpuan kening

kita semua, serasa runtuh lantai papan surau tempat aku waktu kecil belajar tajwid Al-Qur'an

40 tahun silam, di bawahnya ada kolam ikan

yang air gunungnya bening kebiru-biruan kini

ditetesi airmataku. Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu Ketika anak-anak kecil di Gaza belasan tahun bilangan umur mereka, menjawab laras baja dengan timpukan batu cuma, lalu dipatahi pergelangan tangan dan lengannya,

siapakah yang tak menjerit serasa anak-anak kami

Indonesia jua yang dizalimi mereka tapi saksikan tulang muda mereka yang patah akan bertaut dan mengulurkan rantai amat panjangnya, pembelit leher lawan mereka, penyeret tubuh si zalim ke neraka, An Naar.

Ketika kusimak puisi-puisi Fadwa Tuqan, Samir Al-

Qassem, Harun Hashim Rashid, Jabra Ibrahim

Jabra, Nizar Qabbani dan seterusnya yang diba-

cakan di Pusat Kesenian Jakarta, jantung kami

semua berdegup dua kali lebih gencar lalu ter-

sayat oleh sembilu bambu deritamu, darah kami

pun memancar ke atas lalu meneteskan guratan

kaligrafi

'Allahu Akbar!' dan

'Bebaskan Palestina!'

Ketika pabrik tak bernama 1000 ton sepekan memproduksi dusta, menebarkannya ke media cetak dan elektronika, mengoyaki tenda-tenda pengungsi di padang pasir belantara, membangkangit reso-lusi-resolusi majelis terhormat di dunia, membantai di Shabra dan Shatila, mengintai Yasser Arafat dan semua pejuang negeri anda, aku pun berseru pada khatib dan imam shalat Jum'at sedunia doakan kolektif dengan kuat seluruh dan setiap pejuang yang menapak jalan Nya,yang ditembaki dan kini dalam penjara, lalu dengan kukuh kita bacalah laquwwatta illa bilah

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu

Tanahku jauh, bila diukur kilometer, beribu-ribu

Tapi azan Masjidil Aqsha yang merdu

Serasa terdengar di telingaku.

Rekomendasi