6 Jenazah Korban Ambruknya Ponpes Al Khoziny Masih Menanti Identifikasi DVI Polda Jatim, Begini Prosesnya!

Tim DVI Polda Jatim terus bekerja keras mengidentifikasi enam jenazah korban ambruknya Ponpes Al Khoziny Sidoarjo. Simak detail proses Identifikasi Jenazah DVI yang memakan waktu 24 jam!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
6 Jenazah Korban Ambruknya Ponpes Al Khoziny Masih Menanti Identifikasi DVI Polda Jatim, Begini Prosesnya!
Tim DVI Polda Jatim terus bekerja keras mengidentifikasi enam jenazah korban ambruknya Ponpes Al Khoziny Sidoarjo. Simak detail proses Identifikasi Jenazah DVI yang memakan waktu 24 jam! (AntaraNews)

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) masih berjibaku dalam proses Identifikasi Jenazah DVI terhadap enam korban tragedi ambruknya bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny Sidoarjo. Proses krusial ini berlangsung intensif di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya sejak Minggu pagi, melibatkan tim forensik yang bekerja tanpa henti. Upaya ini dilakukan untuk memberikan kejelasan identitas kepada keluarga korban yang menunggu dengan penuh harap.

Kabid Dokkes Polda Jatim, Komisaris Besar Polisi M. Khusnan, menjelaskan bahwa keenam jenazah tersebut sedang dalam tahap pengambilan data post mortem. Dari total 37 kantong jenazah yang diterima, termasuk lima korban yang sebelumnya telah meninggal dunia, delapan jenazah sudah berhasil teridentifikasi. Proses Identifikasi Jenazah DVI ini menjadi prioritas utama bagi pihak kepolisian dan tim medis.

Seluruh proses identifikasi ini dilakukan dengan sistem kerja bergantian selama 24 jam penuh oleh dokter forensik dan tim DVI Polda Jatim. Hal ini menunjukkan komitmen serius untuk menyelesaikan tugas kemanusiaan ini secepat mungkin. Keluarga korban sangat berharap agar proses Identifikasi Jenazah DVI dapat segera rampung, sehingga mereka dapat memakamkan anggota keluarga yang meninggal dunia dengan layak.

Proses Intensif Identifikasi Jenazah DVI di RS Bhayangkara

Proses Identifikasi Jenazah DVI di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya terus berjalan dengan intensitas tinggi. Enam jenazah yang tersisa dari tragedi ambruknya Ponpes Al Khoziny Sidoarjo sedang menjalani pemeriksaan mendalam oleh tim ahli. Data post mortem, yang meliputi ciri-ciri fisik, rekam medis, dan properti yang melekat pada jenazah, dikumpulkan secara cermat.

Komisaris Besar Polisi M. Khusnan menyampaikan, "Sejak tadi pagi ini masih ada enam jenazah yang sedang dalam proses identifikasi. Jadi dari total 32 kantong jenazah, dikurangi enam yang masih dikerjakan, sisanya sudah selesai diambil data post mortemnya." Pernyataan ini menunjukkan bahwa sebagian besar jenazah telah melewati tahap awal identifikasi, menyisakan beberapa yang memerlukan penanganan lebih lanjut.

Total kantong jenazah yang diterima oleh tim DVI adalah 37, termasuk lima korban yang meninggal dunia sebelum insiden ambruknya bangunan. Dari jumlah tersebut, delapan jenazah telah berhasil diidentifikasi dan diserahkan kepada keluarga. Kecepatan dan ketelitian dalam proses Identifikasi Jenazah DVI menjadi kunci untuk memastikan setiap korban mendapatkan identitas yang akurat.

Kerja Non-Stop Tim DVI dan Pengiriman Sampel DNA

Tim DVI Polda Jatim menunjukkan dedikasi luar biasa dengan bekerja siang dan malam untuk mempercepat proses identifikasi. Sistem kerja bergantian diterapkan agar setiap tahapan, mulai dari pengambilan data hingga analisis, dapat berjalan tanpa henti. Komitmen ini merupakan respons terhadap harapan keluarga korban yang menginginkan kejelasan secepatnya.

Khusnan menegaskan, "Tim kami bekerja siang dan malam agar proses identifikasi bisa cepat selesai. Ini juga menjadi harapan keluarga korban." Pernyataan ini menggarisbawahi tekanan dan tanggung jawab yang diemban oleh tim DVI dalam situasi darurat seperti ini. Setiap anggota tim bekerja keras demi kemanusiaan.

Selain pengambilan data post mortem, tim juga telah mengambil sampel DNA dari seluruh jenazah dan bagian tubuh (body part) yang ditemukan. Sampel-sampel ini kemudian dikirim ke Pusat Kedokteran dan Kesehatan Kepolisian (Pusdokkes) Polri di Jakarta melalui jalur penerbangan. Pengiriman sampel DNA ini bertujuan untuk analisis lebih lanjut yang dapat membantu dalam proses identifikasi yang lebih akurat, terutama untuk kasus-kasus yang sulit.

"Semua sampel DNA sudah diambil dan dikirim ke Jakarta. Jika nanti ada bagian tubuh tambahan dengan hasil DNA yang cocok, maka akan disatukan karena itu milik satu orang," jelas Khusnan. Langkah ini sangat penting untuk memastikan bahwa setiap bagian tubuh yang ditemukan dapat disatukan dengan jenazah yang tepat, memberikan keutuhan bagi korban dan kepastian bagi keluarga.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi