PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau Bank BRI menyiapkan cadangan lebih untuk mengantisipasi kemungkinan lonjakan angka kredit macet atau non-performing loan (NPL). BRI membuat cadangan lebih dari 30 persen dengan menggunakan skema indikator risiko gagal bayar atas kredit yang telah disalurkan (loan at risk).
"Alhamdulillah saya sampaikan catatan, dari seluruh kredit yang direstrukturisasi, yang benar-benar tidak bisa diselamatkan ternyata tidak lebih dari 5 persen. Dari kondisi seperti itu, maka NPL kita terjaga di level 3,08 persen," terang Direktur Utama BRI Sunarso saat membuka acara BRI Microfinance Outlook 2022, Kamis (10/2).
"Main di kredit mikro, main di kredit UMKM, NPL sekitar 3 persen saya kira sangat managable. Sehingga dengan kualitas balance sheet seperti itu, Alhamdulillah bank only kita selama 1 tahun membukukan laba Rp 32,2 triliun," tuturnya.
Advertisement
Restrukturisasi Kredit Melandai
BRI mencatat tingkat restrukturisasi kredit terus melandai. Saat ini tersisa Rp 156,93 triliun dari total akumulasi sebesar Rp 245,22 triliun.
"Dari akumulasi Rp 245 triliun yang kita restrukturisasi, Alhamdulillah sekarang yang sekarang menyandang status kredit direstrukturisasi itu sekarang tinggal Rp 156 triliun," katanya.
Sunarso menyampaikan, sudah banyak kredit yang menurun status restrukturisasinya, bahkan ada yang sudah benar-benar sembuh alias lunas.
"Kemudian ada yang lunas, kemudian mengambil lagi kredit dan lancar. Ada yang sekarang belum lunas, tapi statusnya lancar. Dan ada yang benar-benar tidak bisa diselamatkan, ini yang paling penting," sambungnya.
Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Sumber: Liputan6.com