Likuiditas Perbankan Ketat saat Ramadan dan Lebaran, Bank Indonesia: Fenomena Wajar yang Berulang Tiap Tahun

Tidak hanya terjadi saat Lebaran, fenomena serupa juga ditemukan pada momen perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Siti Ayu Rachma
Oleh Siti Ayu Rachma - Reporter
Likuiditas Perbankan Ketat saat Ramadan dan Lebaran, Bank Indonesia: Fenomena Wajar yang Berulang Tiap Tahun
Likuiditas Perbankan Ketat saat Ramadan dan Lebaran, Bank Indonesia: Fenomena Wajar yang Berulang Tiap Tahun (Merdeka.com)

Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa kondisi likuiditas perbankan yang ketat selama periode Ramadan dan Lebaran Idul Fitri merupakan hal yang wajar dan telah menjadi pola yang berulang setiap tahunnya. Lonjakan kebutuhan uang tunai di masyarakat menjadi faktor utama yang menyebabkan peningkatan penarikan uang kartal dalam periode ini.

Direktur Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, R. Triwahyono menjelaskan, fenomena ini terjadi karena adanya peningkatan permintaan uang tunai oleh masyarakat untuk berbagai keperluan khas Lebaran. 

Dia menyebut, tradisi memberikan uang baru kepada sanak saudara, baik sebagai hadiah maupun dalam bentuk saweran, menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya penarikan uang tunai.

"Karena untuk saweran di Lebaran, untuk ingin dapat uang baru, untuk bagi-bagi dan sebagainya, itu yang dampaknya signifikan terhadap likuiditas, sehingga kalau nanti 3-4 minggu ke depan itu likuiditas mengetat itu, itu wajar," kata Triwahyono dalam acara Taklimat Media BI, Jakarta, Kamis (6/3).

Tidak hanya terjadi saat Lebaran, fenomena serupa juga ditemukan pada momen perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru). Triwahyono bilang masyarakat juga cenderung melakukan penarikan uang kartal dalam jumlah besar menjelang akhir tahun, yang menyebabkan pola likuiditas yang sama.

"Karena memang itu sesuatu yang seasonal, yang selalu terjadi ketika kita mendekati lebaran dan juga pada saat akhir tahun. Jadi Natal dan tahun baru kondisi likuiditas akan seperti itu, jadi itu sesuatu yang wajar," jelas dia.

Sebagai langkah antisipasi, BI telah menyiapkan Rp180,9 triliun uang layak edar (ULE) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama perayaan Idul Fitri 2025. Jumlah ini mengalami penurunan sebesar Rp2,9 triliun atau 1,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya, yang mencapai Rp183,8 triliun.

Deputi Gubernur BI, Doni P. Joewono, menegaskan BI terus berupaya meningkatkan kualitas program layanan penukaran uang SERAMBI setiap tahunnya.

Tahun ini, layanan penukaran uang Rupiah semakin dioptimalkan melalui penggunaan aplikasi Penukaran dan Tarik Uang Rupiah (PINTAR), yang memungkinkan masyarakat mengakses layanan penukaran di loket perbankan dengan lebih mudah dan efisien.

"Pengunaan aplikasi PINTAR juga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dengan distribusi yang lebih merata dan langsung kepada masyarakat," kata Doni dalam keterangannya.

Rekomendasi