Oleh: Dedy Permadi*Negeri darurat: darurat infrastruktur, darurat listrik, darurat narkoba, darurat pertanian, dan darurat-darurat lainnya. Entah apa yang membuat Indonesia begitu terlambat dalam banyak hal. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa pemerintah sedang mencoba mengejar ketertinggalan itu dengan menetapkan target-target ambisius dalam beberapa bidang. Namun demikian, ada satu isu darurat yang sepertinya luput dari perhatian Presiden sehingga penanganannya tidak 'segila' isu-isu di atas: darurat pendidikan tinggi!Masalah terbesar hakikatnya adalah tidak menyadari adanya masalah. Masalah makro dalam sistem pendidikan tinggi yang sangat serius tidak muncul ke permukaan dan membuat banyak pemangku kepentingan merasa tidak harus berpikir ataupun bekerja ekstra. Kemenristekdikti, sebagai kementerian yang paling bertanggung jawab terhadap isu ini, sejak awal terbentuk banyak disibukkan dengan masalah penutupan kampus, legalitas ijazah, isu LGBT di kampus, dan sebagainya. Isu-isu parsial yang skalanya mikro seperti ini menjadi lebih populer untuk dijadikan tontonan dan perbincangan. 'Posisi Belakang' di Asia dan DuniaJika dilihat di tingkat Asia saja, peringkat universitas-universitas Indonesia masih sangat memprihatinkan. Sebagai gambaran, QS (salah satu lembaga pemeringkat kualitas universitas) tahun lalu mengumumkan peringkat 300 besar universitas terbaik di Asia dan, sayangnya, hanya tujuh universitas Indonesia yang masuk di dalamnya. Dari pemeringkatan tersebut, UI, ITB, UGM, Universitas Airlangga berturut-turut menempati peringkat ke 79, 122, 137, 147. Sedangkan tiga universitas lain berada di peringkat 150-300. Bandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lain. Thailand menyumbang total 11 universitas yang masuk 300 besar. tiga di antaranya masuk 100 besar. Sedangkan Malaysia mampu menempatkan 21 universitas di jajaran 300 dan lima di antaranya masuk dalam jajaran 100 besar. Sedangkan Singapura berhasil mendongkrak posisinya di Asia dengan menempatkan NUS di posisi pertama dan NTU di peringkat keempat (dan kemudian naik ke posisi dua).Di tingkat internasional, posisi universitas-universitas Indonesia lebih memprihatinkan. Webometrics di tahun 2015 menempatkan UGM, UI, dan ITB, berturut-turut di posisi 518, 660, dan 704 dunia. Sedangkan di tahun ini, ketiganya secara berurutan berada di posisi 807, 763, dan 801. Sedangkan pemeringkat lain, 4icu tahun ini memposisikan ITB, UGM, dan UI berturut-turut di peringkat 202, 427, dan 561 di tahun 2015 dan peringkat 366, 460, 560 di tahun ini. Jika menggunakan data QS dari tahun 2012 hingga 2015, maka kita dapat melakukan proyeksi statistik sederhana untuk memperkirakan peringkat tiga universitas tersebut di tahun 2030. Tentu ini merupakan perhitungan kasar dan dengan catatan semua kondisi terkait konstan. UI yang empat tahun terakhir menempati peringkat 273, 309, 310, dan 358 dimungkinkan menempati posisi sekitar 735 pada tahun 2030. UGM yang masuk kategori peringkat 401-450; 501-550; 551-600 dan 551-600 dari tahun 2012 sampai 2015 mungkin saja merosot sampai keluar dari 1300 besar di tahun 2030. Sedangkan ITB memiliki trend yang cenderung lebih stabil; yakni peringkat 451-500; 461-470; 461-470; 431-440 selama empat tahun berturut-turut; sehingga kemungkinan akan tetap dalam urutan yang kurang lebih sama pada tahun 2030. Butuh Bergegas dan BerlariReformasi sistem yang diawali dari visi yang ambisius; kepemimpinan progresif di semua lini; dan penerapan konsep Triple Helix dapat menjadi tiga energi besar untuk mengejar ketertinggalan tersebut. Hal ini yang harus menjadi perhatian pemerintahan Jokowi-JK saat ini.Pertama, reformasi pada skala makro. Langkah ini dapat dilakukan dengan perumusan visi pendidikan tinggi Indonesia yang lebih ambisius, riil, dan terukur. Rasa-rasanya tidak terlalu berlebihan untuk memiliki target mendongkrak 10 universitas Indonesia untuk masuk 200 besar dunia dalam waktu 20 tahun. Payung besar ini secara otomatis akan mempengaruhi reformasi di level mikro seperti akselerasi dalam bidang publikasi, penelitian, pengajaran, maupun pengabdian kepada masyarakat.Kedua, pemilihan orang-orang progresif dan visioner di posisi-posisi strategis di dunia pendidikan tinggi Indonesia. Posisi-posisi ini merujuk pada posisi pucuk di level nasional sampai level universitas, fakultas, bahkan jurusan/departemen. Yang dimaksud orang-orang progresif di sini adalah orang-orang yang mampu berlari, tidak hanya sekedar berjalan; orang-orang yang unggul dalam manajemen dan strategi, tidak hanya cerdas secara akademik. Ketiga, konsep Triple Helix yang merujuk pada upaya optimalisasi sinergi antara universitas, industri, dan pemerintah pasti mampu mendorong optimalisasi sumber daya di semua lini. Keuntungan dari konsep ini misalnya: semakin banyak kebijakan yang diproduksi secara terukur dengan basis riset (research-based policy); efektifitas diseminasi hasil riset universitas karena langsung dimanfaatkan oleh pemangku kebijakan; efisiensi luarbiasa dalam bidang keuangan dan SDM karena pengulangan topik riset yang sama akan dapat ditekan secara signifikan; dan sebagainya.Secara normal, kita harus bergegas untuk melakukan penyelamatan jika berada dalam situasi darurat. Jika sudah menyadari situasi darurat namun tidak segera bergegas, artinya kita sudah mati rasa.* Penulis adalah Dosen Departemen Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada/Visiting Fellow, Department of Politics and International Relations, University of Oxford
Pak Jokowi, Pendidikan Tinggi juga Darurat!
Masalah makro dalam sistem pendidikan tinggi yang sangat serius tidak muncul ke permukaan.
Advertisement