Berpangkat Kolonel dan Jabatan Dirut Pertamina, Tokoh Ini Besarkan Mercedes-Benz dan Mitsubishi di Indonesia

Orang nomor satu di Pertamina ini turut membesarkan merek Mitsubishi dan Mercedes-Benz di Indonesia pada masa awal pemerintahan Presiden Soeharto.

M Syakur Usman
Oleh M Syakur Usman - Reporter
Berpangkat Kolonel dan Jabatan Dirut Pertamina, Tokoh Ini Besarkan Mercedes-Benz dan Mitsubishi di Indonesia
Berpangkat Kolonel dan Jabatan Dirut Pertamina, Tokoh Ini Besarkan Mercedes-Benz dan Mitsubishi di Indonesia (Merdeka.com)

Dimulai saat kolonel ini memimpin PN Pertamina pada 1968.

Nama Ibnu Sutowo (1914-2001) identik dengan
PT Pertamina (persero).

Pasalnya, Ibnu lah yang dipilih Presiden Soeharto menjadi orang nomor satu di PN Pertamina --cikal bakal PT Pertamina pada 20 Agusus 1968. 

Presiden Soeharto memilih Ibnu karena latar belakangnya: Direktur Utama PT Permina sejak 1957 dan seorang dokter yang berdinas di Angkatan Darat RI, dengan pangkat kolonel.

Ibnu menjadi Direktur Utama Pertamina hingga Maret 1976. Banyak gebrakannya termasuk yang menjadi cikal bakal merek otomotif asal Jepang: Mitsubishi, eksis di Indonesia.




Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Menurut buku Konglomerasi: Negara dan Modal dalam Industri Otomotif Indonesia (Chalmers: 1996), awal 1970, pendatang terpenting di industri otomotif RI adalah Ibnu Sutowo, sebab berhasil mendapat lisensi merek Mercedes dan Mitsubishi. Dia seperti penerus Hasjim Ning, yang saat itu bergelar Raja Mobil Indonesia.

Ibnu mendirikan PT Krama Yudha Tiga Berlian (KTB) bersama Sjarnoebi Said, bersama orang kepercayaannya di Pertamina.

"Ketika itu Pertamina menbutuhkan banyak kendaraan. Untuk memenuhinya, Ibnu mengutus Sjarnoebi, teman satu korps di tentara yang kemudian dibawanya bergabung menangani departemen komunikasi di Pertamina, mendirikan PT KTB."

Buku Arsip Mobil Kita (Trisulo, dkk: 2021).

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Disebutkan, PT KTB dimiliki Ibnu Sutowo dengan kepemilikan saham 50% dan Sjarnoebi Said juga 50%. 

Mitsubishi Jepang melihat dukungan besar Pertamina pada KTB, sehingga memberikan lisensi keagenan pada KTB, sekaligus melepaskan hak PT Marwa Motor.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Didukung Pertamina, populasi Mitsubishi makin  tinggi di Indonesia awal 1970-an. Popularitasnya semakin meroket, setelah KTB meluncurkan mobil pikap atau niaga ringan Colt T120 pada 1972. 

Penjualannya sempat meroket jadi 17 ribuan unit per tahun, dari semula hanya 1.200 unit. 


Setelah menjadi agen tunggal pemegang merek (ATPM) Mitsubishi di Indonesia, Ibnu dan Sjarnoebi melobi merek otomotif Jepang ini membangun fasilitas perakitan dan produksi di Tanah Air. Dalih mereka: nasionalisme.  Lobi kedua sahabat ini berhasil.

Pada 1973,  keduanya mendirikan perusahaan baru bernama PT Krama Yudha Ratu Motor (KRM). Ini pabrikan perakitan mobil Mitsubishi kedua di Indonesia, setelah PT Krama Yudha Surabaya Majapahit (perusahaan modal asing/PMA), yang memproduksi  Colt T-120.

50 tahun lebih di Indonesia, kini Mitsubishi ada di Kelompok Top 5 merek otomotif di Indonesia baik untuk kendaraan penumpang maupun niaga.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Jejak Ibnu juga hadir di merek otomotif Jerman, Mercedes-Benz, melalui PT Star Motors Indonesia.

Adalah H M Joesoef Abdillah, orang kepercayaan Ibnu, yang berhasil membujuk Daimler-Benz AG menunjuk Star Motors sebagai agen tunggalnya. (buku Passion for Perfection: 115 Years of Mercedes-Benz in Indonesia, 2010).

Maka sejak 1970, PT Star Motors Indonesia menjadi ATPM produk-produk Daimler-Benz AG di Indonesia. 

Saat bersamaan, didirikan PT German Motor Manufacturing sebagai pabrikan dan perakitan produk Daimler-Benz di Indonesia. 

Berdirinya kedua perusahaan itu  resmi menandai dimulai era Mercedes-Benz Group di Indonesia di bawah kepemimpinan H M Joesoef Abdillah, orangnya Ibnu Sutowo

Di Star Motor, Ibnu dan Joesoef memiliki saham 49%, selebihnya (51%) dimiliki Daimler-Benz AG (Jerman). 








Dok. Istimewa
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Saat ini PT Star Motors hilang di bisnis Mercedes-Benz Indonesia.

Namun, jejak Ibnu di merek otomotif premium ini masih terasa di PT NV Mass, diler resmi Mercedes-Benz, yang satu lokasi dengan Wisma Nugra Santana di Jln Jenderal Sudirman, Jakarta. 

Nugra Santana Group (NSG) didirikan oleh Ibnu pada 1973, untuk mengelola bisnis pribadinya, setelah lengser dari Dirut Pertamina pada 1976. NSG eksis hingga hari ini dan memiliki banyak anak usaha di bidang properti, perhotelan, restoran, manufaktur, farmasi, dan agrobisnis. 

Lengser dari Pertamina, Ibnu tetap sibuk: Ketua Umum PMI, Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (Pelti), mendirikan Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran (PTIQ), dan pengurus Badan Pengembangan Wallacea bersama BJ Habibie.

H Ibnu Sutowo wafat pada awal 2001 di usia 86 tahun, dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal. 


Salah satu anak usaha Nugra Santana Group, Indobuildco, pengembang Hotel Sultan Jakarta, tengah berkasus dengan pemerintah Indonesia terkait hak guna bangunan kawasan Senayan, Jakarta Pusat.



 

Rekomendasi