Monumen' 1.000 Hari Wuling Motors di Republik +62

Pabrik Cikarang berkapasitas 120 ribu unit dan 3.000 pekerja, investasi US$ 700 juta, diler 115 outlet, dan penjualan lebih dari 45 ribu mobil menjadi bukti Wuling tidak main-main di Indonesia. Itulah ‘monumen’ 1.000 hari pertama pabrikan dengan moto ‘Driving for A Better Life’ ini.

Syakur Usman
Oleh Syakur Usman - Reporter
Monumen' 1.000 Hari Wuling Motors di Republik +62
Wuling Motors. ©Handout/PR Wuling Motors

Tiga serangkai dari Liuzhou, Tiongkok Barat Daya, ekspansi ke Indonesia pada 2015 silam. Memiliki nama SGMW, tiga serangkai ini memiliki jurus andalan ala Amerika Serikat dan tentu saja Tiongkok.

Menyasar pasar otomotif, SGMW Motors Indonesia (Wuling Motors) menyiapkan strategi dan tentu jurus andalan untuk menaklukkan negara dengan populasi 270 juta jiwa ini.

Maklum saja, pasar mobil Indonesia dikuasai merek Jepang sejak tiga dekade terakhir lewat kelompok “Top 5”, yakni Toyoto, Daihatsu, Suzuki, Honda, dan Mitsubishi.

Banyak merek kalah bersaing dengan lima merek besar Jepang itu. Seperti Ford dan Mazda yang hengkang empat tahun silam. Dan tahun lalu, publik dikejutkan lagi dengan hengkangnya Datsun dan Chevrolet.

Tak heran, sebagai pendatang baru, banyak kalangan memberikan tanda tanya besar nasib Wuling di Indonesia, termasuk konsumen otomotifnya. Namun, seiring waktu, Wuling sukses melalui 1.000 hari pertama di industri otomotif Indonesia pada awal April ini.

Tiga serangkai ini mampu membuktikan antara kata dan perbuatan: serius membangun industri di Indonesia, bukan sekadar jualan.

Pabrik Cikarang berkapasitas 120 ribu unit dan 3.000 pekerja, investasi US$ 700 juta, diler 115 outlet, dan penjualan lebih dari 45 ribu mobil menjadi bukti Wuling tidak main-main di Indonesia.

Itulah ‘monumen’ 1.000 hari pertama pabrikan dengan moto ‘Driving for A Better Life’ ini.

Lantas, ‘monumen’ apa yang diukirnya di mata konsumen dan komunitasnya di 1.000 hari pertama?

Sutomo Sembodo, Wakil Ketua Cortezian Indonesia (CI), mengungkapkan secara umum komunitas pengguna mobil medium MPV Wuling Cortez ini puas dengan produk dan layanan purnajual Wuling Motors. Saat ini CI memiliki anggota lebih dari 200 orang.

"Kerja sama CI dengan bengkel resmi sangat baik, karena kami diberi akses luas kepada service advisor dan beberapa kepala mekanik/bengkel hingga diskusi masalah teknis sehingga problem member kami lebih terarah. Kami berharap ada pertemuan periodik antara komunitas dan Wuling," kata Sembodo pada Merdeka.com, kemarin.

Nilai Hampir Sempurna

Wakil Ketua CI ini optimistis Wuling mampu melakukan peningkatan besar seperti yang diinginkan anggota komunitasnya. Alasannya, Wuling punya ‘beking’ besar, yakni General Motors (GM) asal Amerika dan duo raksasa Tiongkok; Shanghai Automotive International Corporation (SAIC) dan Wuling Automobile Group.

Nama besar di belakang Wuling ini pula yang membuat Sembodo kepincut dengan Cortez, alih-alih mau SPK small MPV merek Jepang, dua tahun silam.

Alasan lainnya, saat test drive dulu, Cortez dipacunya 140 km per jam tetap stabil seperti mobil sedan lawasnya. Selain faktor kapasitasnya yang besar dan multifungsi.

"Bekingnya besar sih Wuling, ada GM dan SAIC. Jadi sejak awal saya merasa yakin pada Wuling, meski merek baru asal China,” ungkapnya bersemangat.

Menurut pemilik Cortez 1.8L i-AMT Lux Plus, sebagai pembeli pertama Cortez saat peluncuran, banyak keuntungannya. Karena pelanggan di awal benar-benar mendapat prioritas layanan. Dibeli dua tahun silam, Wuling Cortez Sembodo sudah memiliki odometer 80.000 km.

“Semua dilayani dengan nilai hampir sempurna," ungkapnya senang.

Komunitas CI masih menaruh harapan tinggi pada Wuling di 1.000 hari berikutnya. Mulai dari lini produk lebih beragam hingga layanan purnajual.

Masih banyak ruang perbaikan terkait layanan purnajualnya. Seperti indentifikasi permasalahan kendaraan, penyediaan suku cadang, dan standarisasi service advisor (SA) di bengkel resmi.

Namun, Sembodo mengakui beberapa bengkel resmi yang dikunjunginya, layanannya sudah baik seperti di Jakarta, Kudus, Purwokerto, dan Jawa Timur.

"Ketersediaan suku cadang terutama fast moving parts harus lebih baik di setiap bengkel resmi. Lalu kecepatan penyediaan parts yang harus just in time, sesuai janji pihak bengkel kepada konsumen terutama parts yang tidak distok," saran Sembodo, pengusaha sektor konstruksi ini.

Percaya Wuling Sejak Awal

Lain cerita dengan pengalaman yang dirasakan oleh Houtman Saragih, pemilik Cortez 1.8L i-AMT Lux Plus.

Menurut jurnalis pasar modal ini, sejak awal dirinya juga sangat percaya dengan merek Wuling dibandingkan merek otomotif China lainnya.

"Mungkin karena Wuling ada GM-nya," jawab Houtman diplomatis.

Dua tahun bersama Cortez, Houtman merasa performa mobilnya sangat baik dan nyaman, terutama untuk perjalanan jauh seperti ke kampung halamannya di Bengkulu.

Menurut pria tinggi besar ini, Cortez telah menjadi alat transportasi yang sempurna bagi keluarganya; kapasitas besar, teknologi dan fitur menarik, serta harga terjangkau sebagai medium MPV.

"Hingga kini Cortez saya belum ada problem berarti. Memang ada beberapa pengguna lain yang mengeluhkan soal shock breaker yang bunyi dan tak nyaman ketika di jalan rusak atau polisi tidur, tapi di mobil saya tidak ada masalah," ujar Houtman yang sebelumnya memiliki mobil hatchback merek Jepang.

Biasa servis rutin di diler resmi Fatmawati, Jakarta Selatan, jurnalis senior ini mengakui masih ada PR bagi Wuling yang tengah merayakan 1.000 harinya di Indnoesia. PR itu adalah layanan purnajualnya yang belum merata di seluruh Indonesia.

"Standar pelayanan di bengkel resmi belum sama. Saya coba sendiri sewaktu servis rutin di bengkel Jakarta dan di Bengkulu saat pulang kampung," ungkapnya.

Houtman berharap masalah tersebut bisa dituntaskan oleh Wuling di 1.000 hari berikutnya di Indonesia. Sehingga 'monumen' di 1.000 hari pertama terus berlanjut di 1.000 hari kedua Wuling Motors.

Rekomendasi