Ketidakstabilan nilai tukar rupiah terhadap dollar belakangan ini memunculkan kekhawatiran kenaikan harga produk industri, termasuk otomotif. Disamping itu, gejolak ekonomi berpengaruh terhadap angka penjualan mobil yang turun sebesar 20 persen awal tahun ini.
Menyikapi hal ini Nissan pasang kuda-kuda dengan menyiapkan berbagai strategi.
"Kenaikan harga bisa saja terjadi, tetapi perlu diketahui bahwa pabrikan punya strategi agar kenaikan tersebut tidak terlalu tinggi. Salah satunya dengan melakukan cost reduction atau penekanan biaya produksi tanpa mengurangi kualitas produk," ucap Budi Nur Mukmin, General Manager Marketing Strategy and Communication Division Product Planning PT Nissan Motor Indonesia.
Penekanan biaya produksi tersebut terfokuskan pada pengurangan biaya suku cadang yang berasal dari konten lokal.
"Jadi kami berusaha mencari solusi agar supplier lokal bisa menekan biayanya. Ini memungkinkan agar harga kendaraan bisa tetap stabil," jelasnya.
Menurutnya kendaraan yang banyak menyerap konten lokal tidak terlalu terpengaruh besar terhadap gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pengaruh akan terasa besar pada kendaraan-kendaraan yang tidak memiliki konten lokal.
Namun begitu, Budi mengungkapkan bahwa pihaknya sampai saat ini belum berencana untuk menaikkan harga produk-produknya
(kpl/fid/fjr)