Permadi SH. ©2015 Merdeka.com
Merdeka.com - Sebagian orang mungkin tak asing lagi dengan nama Permadi. Politisi Partai Gerindra juga tersohor disebut-sebut dukun politik itu suka meramal tentang kejadian di masa akan datang. Meski kerap meleset, namun Permadi tak pernah peduli dengan pandangan orang yang mencibirnya.
Menanggapi itu, dia pun mengakui jika ramalannya memang tak selalu sesuai kenyataan. Tetapi, Permadi jika ramalan Jongko Joyoboyo menjadi rujukannya itu benar-benar akan terjadi. Pandangannya itu bermuara pada keyakinannya sebagai seorang kejawen.
Permadi mengakui jika dia adalah salah satu orang penganut kejawen sejak kecil. Bahkan dalam keluarganya. Lalu bagaimana pandangan Permadi dengan Kejawen sendiri?, kepada Mohammad Yudha Prasetya dari merdeka.com, dia mengatakan jika kejawen adalah agama.
"Karena saya menganggap bahwa Kejawen bagi orang Jawa itu adalah agama," ujar Permadi saat berbincang dengan merdeka.com di kediamannya, Jalan Pengadegan Barat IV, Jakarta selatan, Rabu (30/12) kemarin.
Berikut petikan wawancara dengan Permadi soal kejawen.
Apa itu Kejawen menurut kepercayaan Anda ?
Kejawen adalah sebuah keyakinan yang dianut oleh kebanyakan orang Jawa, dan bahkan yang bukan orang Jawa pun kalau berminat bisa saja mengikuti ajarannya. Itu sudah turun-temurun sejak dahulu, kita juga enggak tahu kapan mulainya. Saya sendiri jadi Kejawen karena diajarkan oleh orang tua saya, terutama ayah. Sampai sekarang saya mengikuti aliran Kejawen ini, dan terus terang saya tidak mengikuti satu agama apapun. Karena saya menganggap bahwa Kejawen bagi orang Jawa itu adalah agama.
Menurut saya sebenarnya Kejawen itu sama saja dengan agama. Tetapi kebanyakan orang yang beragama justru menyalahkan bahwa Kejawen itu bukan agama. Tetapi bagi orang Kejawen ya itulah agamanya. Karena masalah agama itu sebenarnya cuma urusan orang yang bersangkutan itu saja dengan tuhan yang diyakininya, orang lain enggak boleh ikut campur.
Ritual atau ibadah apa saja yang dikenal dalam Kejawen ?
Ya kita ritualnya juga banyak, seperti meditasi, puasa Senin-Kamis, puasa 40 hari, dan lain sebagainya.
Kejawen akulturasi beberapa agama, bagaimana menurut Anda ?
Ya makanya saya tadi katakan, Kejawen itu kita tidak tahu mulainya kapan. Yang jelas jauh lebih tua dari pada agama-agama yang ada di Indonesia saat ini dan sebenarnya merupakan agama pendatang, sehingga mempengaruhi juga akibat interaksi satu sama lainnya.
Apakah umumnya orang Jawa itu berpandangan Kejawen ?
Biasanya iya. Tetapi orang Jawa yang sudah modern sekarang sudah banyak yang hilang Jawa-nya. Mereka kebanyakan tidak tahu lagi ajaran Jawa dan lebih suka ajaran dari Barat maupun Timur berbentuk ajaran-ajaran agama dan lain sebagainya, yang barangkali secara rasio bisa dipertanggungjawabkan.
Sebab kalau di Kejawen itu memang banyak hal-hal yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara rasional, karena semua irasional. Seperti misalnya bagaimana cara meramal, bagaimana puasa Senin-Kamis, puasa hari lahir, bagaimana cara bermeditasi dan lain sebagainya.
Apa peran kitab Primbon ini di kalangan penganut Kejawen ?
Primbon adalah sebuah buku yang sudah dibukukan berisi keyakinan-keyakinan tentang bermacam-macam hal. Misalnya, seseorang dilihat dari hari lahirnya kapan, apakah Senin Kliwon ataupun Sabtu Pahing. Primbon itu, kalau orang mau menikah harus melihatnya. Sebab untuk melihat apakah seorang pria bisa cocok dengan calon istrinya tersebut, maka hari lahirnya juga harus cocok. Masing-masing dicocokkan satu sama lain, karena hari pernikahan pun harus cocok pula dengan primbon dari kedua mempelai.
Apa yang akan terjadi jika sepasang kekasih menikah tak cocok menurut Primbon ?
Banyak kegagalan yang terjadi karena hal tersebut. Tetapi bukan hanya itu saja, sebab ajaran di primbon itu terlalu mendalam jika ingin diikuti secara menyeluruh. Misalnya pendidikan seks, kalau pendidikan seks barat itu kan diperlihatkan cara-caranya, bagaimana harus pakai kondom dan lain sebagainya. Tetapi kalau orang Jawa pendidikan seksnya itu macam-macam, kalau orang perempuan bentuk badannya begini, kulitnya kuning, matanya begini, rambutnya begini, itu jangan didekati, misalnya. Karena itu membawa resiko begini begini begini.
Jadi kalau dalam primbon itu pendidikan seks-nya membuat siapapun dari awal sudah tahu, jika ada tipe-tipe wanita demikian ya jangan didekati, apalagi sampai dinikahi, misalnya. Jadi pendidikan seks menurut primbon itu sangat luas dan sesuai dengan alam, serta sangat mendetail. Itulah sebabnya orang-orang modern itu enggak interest lagi sama primbon ini. Terlalu 'njelimet' mungkin. Tetapi memang hal-hal semacam ini menurut sebagian orang memang agak sulit untuk dicerna oleh nalar.
Bagaimana Anda sendiri memahami hal-hal di luar nalar itu ?
Saya mempunyai keyakinan sejak kecil karena sudah dididik oleh ayah saya secara kejawen. Nah itu yang membuat saya percaya dengan hal-hal tersebut. Lalu ada juga pakem-pakem semacam Jongko Joyoboyo, yang kitab aslinya ada di keraton. Tetapi keluar (intisari-nya) sedikit-sedikit walau tidak lengkap.
Orang pada umumnya mengatakan bahwa Jongko Joyoboyo itu isinya begini-begini, sejak Joyoboyo lahir sampai hari ini. Nah itu banyak ramalannya yang benar-benar terjadi. Misalnya, di dalam Jongko Joyoboyo ada yang mengatakan 'Besok tanah Jawa bakal berkalung besi'. Orang pada zaman itu kan bingung mengartikan hal tersebut itu apa, karena zaman itu kan enggak ada apa-apa kaya sekarang ini. Tetapi ketika akhirnya ada kereta api, ternyata pengartian tanah Jawa berkalung besi itu ya rel kereta api maksudnya.
Ada berapa fase zaman yang diramalkan dalam Jongko Joyoboyo ?
Jongko Joyoboyo itu sejak Joyoboyo lahir sampai sekarang belum berakhir. Di situ dijelaskan ada zaman Kolo Bendu, Kolo Subo, Goro-goro, kemudian muncul Satria Piningit, baru masa akhir Joyoboyo itu terjadi. Misalnya seperti dalam Jongko Joyoboyo, bakal ada kereta bisa terbang, akhirnya kan benar ada pesawat terbang. Inilah yang membuat ramalan Jayabaya itu disebut Jongko, karena bisa dianggap sebagai ilmu pasti. Ilmu pasti itu ya pasti terjadi, dan memprediksikan bahwa hal-hal yang disebutkan itu memang benar-benar akan ada atau datang.
Nah yang lebih hebat lagi dalam Jongko Joyoboyo itu ada yang menyebutkan bahwa 'Pasar bakal ilang kumandange', apa itu ? Pasar kok bisa hilang gemanya ? Ternyata, zaman dulu pasar itu kan bentuknya tradisional. Dari jam 4 subuh sudah ramai, ibu-ibu tawar menawar dengan menggunakan bakul, dari jauh itu kita sudah mendengar suara aktivitasnya.
Tetapi bagaimana bisa terjadi 'pasar bakal hilang gemanya' itu ? Ternyata benar, sekarang ada supermarket. Orang datang diam, mengambil barang diam, bayar diam, enggak ada dialog dan hilang kumandang-nya. Bahkan saat ini sudah ada konsep belanja online, di mana pembeli dan penjual enggak perlu ketemu. Jadi hilang benar-benar kan gema pasarnya.
Lalu Joyoboyo juga meramalkan akan terjadi zaman edan. Siapa yang tidak ikut edan tidak akan kebagian, akhirnya mati kelaparan. Tetapi, sebahagia-bahagianya orang yang ikut edan, akan lebih bahagia orang yang 'eling lan waspodo', ingat terhadap Tuhan dan waspada terhadap hukum-hukum tertentu. Itu yang akan selamat.
Menurut Anda sebagai penganut Kejawen, bagaimana ketepatan ramalan di dalam Jongko Joyoboyo dan kenyataannya hari ini ?
Validitas kejadiannya sampai saat ini menurut saya benar, benar-benar kejadian. Sebab kecenderungannya, Joyoboyo itu sendiri seperti menggambarkan apa yang akan terjadi di zaman mendatang, dan semuanya benar-benar terjadi dalam rentang 1000 tahun yang akan datang, sejak Joyoboyo lahir. Dan sekarang ini kita semua sudah sampai di fase zaman Kolo Bendu, menuju Goro-goro (masa kacau), baru setelahnya zaman Kolo Subo (masa keemasan).
Jadi saat ini memang zaman Kolo Bendu (masa kesulitan), yang sedang menuju puncak zaman edan. Sekarang kita lihat saja, dari zaman dulu kita enggak pernah mengenal bencana-bencana seperti zaman sekarang, ada tsunami, angin topan, banjir dan kecelakaan-kecelakaan segala macam, dan lain sebagainya. Itu semua belum pernah terjadi dengan intensitas yang tinggi, seperti saat-saat sekarang ini.
Di zaman pewayangan, orang Jawa itu percaya bahwa wayang itu sebenarnya kiasan zaman bagi orang Jawa. Zaman dulu ada suatu zaman yang disebut 'Petruk jadi ratu'. Jadi zaman itu adalah zaman Pandawa berkuasa, tetapi zaman itu sudah rusak dan akan terjadi goro-goro.
Petruk itu adalah pembantu atau punakawan, yang sangat ambisius ingin jadi raja. Dia bertapa dan memohon pada tuhan, 'Tuhan, jadikan aku penguasa'. Nah tuhan melihat kesempatan bahwa zaman memang harus berubah, dengan adanya goro-goro. Karena itulah tuhan mengizinkan Petruk menjadi ratu, sekalipun Petruk itu bodoh. Akhirnya dia berubah menjadi seorang Satria. Raja-raja semua diperangi dan kalah oleh si Petruk. Dewa-dewa yang khawatir turun semua ke bumi untuk melawan Petruk, semuanya juga kalah, kecuali Semar.
Semar berpikir bahwa memang rencana Tuhanlah yang membuat Petruk menjadi raja. Tetapi nanti kalau sudah waktunya, maka dirinya berjanji akan menghabisi Petruk, dan akhirnya betul terjadi. Karena Petruk itu sebenarnya memang pembantu, pengetahuannya terbatas, maka dia mengangkat pembantu-pembantunya juga orang-orang yang bodoh. Lalu terjadilah macam-macam keburukan, kesulitan dan lain sebagainya. Akhirnya terjadi lah goro-goro tersebut, hingga muncul seorang Satria Piningit yang akan menjadi raja yang adil dan membawa kemakmuran, itulah Parikesit.
Nah kisah itu diibaratkan sedang terjadi saat sekarang ini. Maaf kalau saya mengatakan bahwa masyarakat Jawa itu menganggap kalau Jokowi itu seperti Petruk jadi ratu. Seorang punakawan yang berminat sekali menjadi ratu, dan memohon kepada tuhan, dan tuhan mengizinkan. Karena memang tuhan ini tahu bahwa negara sudah rusak, goro-goro, lalu muncul lah Satria Piningit yang sejati. Karena itulah kita lihat dalam satu tahun ini, Jokowi membuat gaduh dengan mengangkat menteri enggak karu-karuan.
Dalam kisahnya, Joyoboyo pernah berguru kepada Maolana Ngali, sebagian berpendapat dia adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib ?
Saya tidak menghubungkan Joyoboyo dengan Islam atau agama lainnya ya. Karena Joyoboyo menurut saya adalah titisan Dewa Wisnu. Karena Dewa Wisnu itu kan selalu menitis kepada siapa saja, jadi orang Jawa yakin bahwa Joyoboyo adalah salah satu titipan Wisnu sehingga ramalannya tepat.
Kemudian penerus Joyoboyo itu adalah Ronggowarsito, yang meneruskan ramalah Joyoboyo. Makanya itu ramalan mereka sinkron. Apakah Ronggowarsito itu adalah keturunan Joyoboyo, saya kurang tahu. Tetapi yang jelas, Ronggowarsito itu dari Solo, sementara Joyoboyo itu dari Kediri. Beda zaman antara keduanya itu jauh.
Jadi Jongko Joyoboyo itu pembacaannya diteruskan oleh Ronggowarsito ini. Sementara Ronggowarsito ini di Kejawen sendiri kita anggap sebagai orang suci, karena orang Jawa itu orang sucinya banyak. Bahkan kita semua yakin bahwa Semar itu ada, Sabdo Palon itu ada, kemudian raja-raja zaman dulu juga kita anggap sebagai orang suci dan orang hebat. Bung Karno itu termasuk orang hebat. Jadi keyakinan kita begitu.
Bung Karno sendiri juga sangat memahami hal ini, sehingga kita pernah tahu kan bahwa beliau memiliki konsep ratu adil. Cuma masalahnya Bung Karno sendiri memang agak tergesa-gesa, karena menganggap dirinya sendiri ratu adil. Padahal kan belum waktunya. Dia memahami konteks ratu adil itu namun malah menisbahkannya terhadap diri sendiri. Tetapi memang Bung Karno, Pak Harto, dan bahkan Jokowi hari ini pun menganggap diri mereka itu ratu adil. Itu jelas kebablasan semuanya. Kalau begitu kan jadinya ada ego yang dikedepankan, dan justru tidak sesuai dengan ajaran budi luhur Kejawen itu sendiri.
Apakah ada kemiripan antara konsep Satria Pingit dengan agama-agama Samawi ?
Ada. Jadi agama itu baik Kristen maupun Islam, dalam kitab sucinya kan mengatakan Yesus akan turun kedua kali bersama Messiah, tetapi berbeda fungsi. Yesus Kristus itu tugasnya menyebarkan kasih sayang dan keadilan. Orang harus memiliki kasih sayang, tidak boleh membunuh, dan lain sebagainya. Tetapi kedatangan Yesus yang kedua, itu tugasnya membawa pedang tajam di tangan kanan dan kirinya. Tugasnya adalah menghukum siapa yang bersalah. [arb]
Baca juga:
Siapa itu Jokowi bisa kalahkan Prabowo yang hebat
PDIP soal Jokowi lengser 2016: Memang ramalan Permadi pernah akurat?
Tuhan tidak menghendaki Prabowo jadi presiden
Paling lama awal 2016 Jokowi jatuh
Triliunan Rupiah 'Tercecer' di Jalur Mudik
Sekitar 2 Minggu yang lalu
NU: Alasan Rukyatul Hilal karena Mengikuti Dalil Otentik
Sekitar 3 Minggu yang lalu
Muhammadiyah: Dengan Metode Hisab Bisa Memprediksi Jauh ke Depan
Sekitar 3 Minggu yang lalu
Thrifting, Fanatik Merek tapi Sensitif Harga
Sekitar 1 Bulan yang lalu
Nihil Solusi untuk Bisnis Baju Bekas
Sekitar 1 Bulan yang lalu
Sandiaga Uno: Turis Asing Tak Boleh Bekerja di Indonesia
Sekitar 1 Bulan yang lalu
Cerita Kelakuan Ugal-ugalan Bule di Bali
Sekitar 1 Bulan yang lalu
Direktur HOG Anak Elang Jakarta: Pengendara Harley Arogan itu Cerita Lama
Sekitar 1 Bulan yang lalu
Memiliki Harley Davidson, Hobi atau Simbol Status Sosial?
Sekitar 1 Bulan yang lalu
Cerita Tentang Harley Davidson: Kemewahan, Bodong, hingga Stigma Arogan
Sekitar 1 Bulan yang lalu
Membedah Pengeluaran Kandidat Demi Menang Pemilu
Sekitar 1 Bulan yang lalu
Profil David Yulianto, Koboi Tol Tomang Aniaya dan Todong Senjata Sopir Online
Sekitar 12 Jam yang lalu
Alasan David 'Koboi' Ngamuk Aniaya dan Todongkan Senjata di Tol Tomang
Sekitar 12 Jam yang lalu
Jadi Tersangka, David Koboi Tol Tomang Terancam 20 Tahun Penjara
Sekitar 12 Jam yang lalu
Polisi Tangkap Pengemudi Koboi di Tol Tomang
Sekitar 17 Jam yang lalu
Mega Sentil Kelakuan Polisi seperti Sambo dan AKBP Achiruddin: Insaf Pak!
Sekitar 18 Jam yang lalu
Banding Kandas, Ricky Rizal Ajukan Kasasi Terkait Kasus Pembunuhan Brigadir J
Sekitar 3 Hari yang lalu
Hoaks Putri Ferdy Sambo Akhiri Hidup dengan Cara Gantung Diri
Sekitar 3 Minggu yang lalu
VIDEO: Pengadilan Tinggi Tolak Banding Putri Candrawathi
Sekitar 3 Minggu yang lalu
Mega Sentil Kelakuan Polisi seperti Sambo dan AKBP Achiruddin: Insaf Pak!
Sekitar 18 Jam yang lalu
Banding Kandas, Ricky Rizal Ajukan Kasasi Terkait Kasus Pembunuhan Brigadir J
Sekitar 3 Hari yang lalu
VIDEO: Pengadilan Tinggi Tolak Banding Putri Candrawathi
Sekitar 3 Minggu yang lalu
Permohonan Banding Kandas, Ricky Rizal Tetap Dihukum 13 Tahun Penjara
Sekitar 3 Minggu yang lalu
Intip Liburan Ronny Talapesy Pengacara Bharada E di Luar Negeri, Sosok Istri Disorot
Sekitar 2 Minggu yang lalu
Permohonan Banding Kandas, Ricky Rizal Tetap Dihukum 13 Tahun Penjara
Sekitar 3 Minggu yang lalu
Ferdy Sambo Tak Hadir di Sidang Putusan Banding Vonis Mati
Sekitar 3 Minggu yang lalu
Kabar Baik, Vaksin untuk Kanker dan Penyakit Jantung akan Tersedia pada 2030
Sekitar 3 Minggu yang lalu
Vaksin IndoVac Sudah Bisa Digunakan Sebagai Booster Kedua Masyarakat 18 Tahun ke Atas
Sekitar 1 Bulan yang lalu
Adu Kekejaman Liga Inggris dengan Liga 1: Soal Pemecatan Pelatih, Indonesia Lebih Bengis!
Sekitar 1 Jam yang lalu
5 Bintang Dunia yang Dikaitkan dengan Klub Liga 1: Ada Eks Real Madrid
Sekitar 2 Jam yang laluAdvertisement
Advertisement
AM Hendropriyono
Guru Besar Sekolah Tinggi Intelijen Negara
Sodikin Masrukin
Wakil Ketua MUI Kab. Purbalingga
Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami