Saksi hidup kebrutalan polisi dalam kerusuhan Mei 1998
Merdeka.com - Matanya terbelalak menatap langit dengan kacamata tersangkut di atas pelipis. Kedua tangan Rizky Rahmawati Pasaribu, 19 tahun. terentang dengan kepala sebelah kiri mengucur darah mengguyur kaus kuning berbalut almamater kampus berwarna biru tua. Tubuhnya tergeletak tidak bergerak di tengah puluhan polisi bersenjata di Jalan S Parman, Jakarta Barat.
Dua pedagang minuman bersembunyi di balik gerobak jualan mereka hanya bisa menatap dari jarak lima meter. Keduanya tidak bisa berbuat banyak dan hanya merunduk sambil jongkok. Kepulan gas air mata membubung di langit Universitas Trisakti.
Dia terserempet peluru karet yang ditembakkan polisi secara membabi buta saat unjuk rasa mahasiswa menuntut Soeharto lengser mulai memanas. "Terdengar suara tembakan dan saya disuruh berlari," kata Rizky saat berbincang dengan merdeka.com kemarin di kantornya, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Ingatannya masih jelas soal kejadian 15 tahun lalu itu.
Kerabat dan teman-temannya baru mengetahui kejadian itu sehari kemudian setelah fotonya dimuat surat kabar harian nasional. Rekan-rekannya menangis histeris melihat Kiky, sapaan akrab buat putri dari pengacara Zul Amali Pasaribu, itu muncul dengan kepala diperban. Dia datang di tengah duka enam mahasiswa tewas tertembak saat ribuan mahasiswa berniat berjalan kaki menuju gedung Dewan Perwakilan Rakyat.
Sejam setelah sadar, Kiky menyandarkan tubuhnya dalam sebuah ruangan di bekas kantor wali kota Jakarta Barat. Dia mendengar tangisan histeris seorang mahasiswi dari Fakultas Ekonomi. Gadis itu memeluk dia erat sekali seraya ketakutan. Dia sempat menyaksikan seorang polisi menodongkan pistol ke arah kepala Kiky.
Namun dewi fortuna memihak kepada Kiky, polisi itu tidak jadi menarik pelatuk. "Cerita saya dapat, ada mas-mas tolongin saya. Dia bilang saya mau ditembak, tapi nggak jadi dan polisi itu memukulkan gagang senjata ke arah lemari dan memecahkan kaca," tuturnya.
Lelaki disebut Kiky itu menyadarkan dia dari pingsan. Dia kemudian dibawa keluar ruangan untuk ditenangkan dan diberi segelas teh hangat oleh seorang wanita tidak dia kenal. Dia kemudian dipaksa berkumpul bersama empat mahasiswa lain ditangkap dengan tubuh memar akibat dipukul. Seluruh wajah mereka memar, dua di antaranya dikenal Kiky sebagai mahasiswa Trisakti.
"Kita berlima dibawa pakai mobil ambulans polisi, katanya mau diobati tapi kita dibawa ke Polda," ujarnya. (mdk/fas)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya