Restoran 'mewah' di bawah tanah

Jangan membayangkan restoran 'mewah' ini sama seperti di kota besar yang menyajikan live musik, lampu warna warni.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Restoran 'mewah' di bawah tanah
Tambang emas PT Antam. ©2016 Merdeka.com/idris

Sebuah kereta kecil atau trolly siap mengantar para pemburu emas memasuki salah satu mulut tambang bawah tanah milik PT Antam (Persero) wilayah kerja Unit Bisnis Pertambangan Emas (UPBE) Pongkor di kaki gunung Halimun-Salak, Bogor. Trolly dengan mesin lokomotif itu sanggup mengangkut setidaknya 20 orang pekerja tambang. Kereta mulai bergerak pelan, memasuki mulut tambang dan hilang ditelan kegelapan terowongan.

Setelah menyusuri lorong gelap lebih kurang 800 meter, kereta itu berhenti. Dari situ, pekerja tambang melanjutkan perjalanan ke titik eksplorasi atau penggalian menggunakan mobil tambang. Titik pemberhentian kereta itu juga menjadi tempat istimewa bagi para pekerja tambang. Bagi mereka, inilah restoran 'mewah' di bawah tanah.

"Ini (restoran) tempat pekerja beristirahat sementara dan juga untuk makan," ucap pekerja Antam bagian perencanaan, Sodiek Imam Prasetyo saat berbincang dengan merdeka.com di lokasi pertambangan Antam, Rabu (14/9).

Restoran ini sanggup menampung puluhan pekerja. Tapi jangan membayangkan restoran 'mewah' itu sama seperti di kota besar yang menyajikan live musik, lampu warna warni serta pelayan yang mondar mandir menyajikan makanan untuk tamu. Restoran itu tidak menyediakan makanan, tanpa pelayan atau pramusaji. Suara mesin blower menemani para pekerja menyantap makan siang. Restoran mewah ini menyediakan kursi dan meja yang terbuat dari batu.

Di restoran ini juga telah disediakan dispenser, kopi, gula dan lainnya. Khusus untuk pekerja tambang yang kebagian shift panjang (12 jam) dari mulai pukul 08.00 WIB sampai 20.00 WIB, disediakan makanan ringan serta susu di pagi hari. Mereka juga disiapkan makanan malam yang bisa disantap di restoran ini. Sedangkan untuk pekerja shift normal atau 8 jam, biasanya membawa bekal sendiri. Saat makan siang tiba, restoran ini selalu dipenuhi kehangatan dan gelak tawa para pemburu emas.

Mereka mengambil bekal makanan yang sebelumnya disimpan di alat penghangat makanan. Sambil menunggu, kebanyakan dari mereka menyeduh kopi atau teh. Obrolan mereka beragam, dari soal pekerjaan sampai keluarga. Sebab, beberapa diantara mereka harus tinggal jauh dari anak dan istri karena tuntutan pekerjaan.

Di samping restoran ini, terdapat laundry atau tempat mencuci baju serta musala agar pekerja tambang tidak meninggalkan kewajiban salat lima waktu. Meski hanya berukuran 3x3 meter, musala ini cukup bagus dan tak kotor. Di sampingnya terdapat kamar mandi untuk membersihkan tubuh sekaligus untuk wudhu. "Jadi keluar dari tambang baju mereka sudah bersih, dicuci dulu di laundry," kata Sodiek.

Fasilitas itu disediakan mengingat para pekerja tambang lebih banyak menghabiskan waktu di bawah tanah. Mereka hanya boleh keluar dari mulut tambang setelah bel berbunyi, tanda waktu bekerja sudah rampung.

Rekomendasi