Pengamat investasi Jimmy Dimas Wahyu mengatakan paket investasi jabon ditawarkan PT. Global Media Nusantara (GMN) melalui program I-GIST (International Green Investment System) harus benar-benar bisa membuktikan lahan untuk menanam pohon ada. Investor tidak boleh langsung percaya tanpa membuktikan sendiri keberadaan lahan itu.”Gambar pada brosur dan presentasi sih ada, tetapi apakah kenyataannya lahan benar-benar ada, itu perlu dicek. Kedua, kalau soal MLM, apakah perusahaan ini sudah terdaftar di APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia)?” ujarnya ketika dihubungi merdeka.com melalui telepon selulernya Jumat pekan lalu. Sebab, dia melanjutkan, jangan sampai investor tertipu. Setelah menginvestasikan dana, ternyata setelah dicek lahan serta kayunya tidak ada. Sebab itu investor harus jeli, dan mengecek langsung ke lapangan. Manajer dan Penanggung Jawab Sistem di PT. Global Media Nusantara (GMN) Hendrayana menantang investor melihat lahan dan tanaman jabon bila berkenan. Perusahaan juga bakal memfasilitasi ke beberapa lokasi. Misalnya lahan di Cianjur, Jawa Barat. ”Kami siap mengantar kalau memang ada yang ingin membuktikan.”Merdeka.com sempat membuktikan kebenaran lahan itu ke Desa Sukamekar, Kampung Citiis, Kecamatan Sukanegaran, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Di sana ada lahan milik mantan lurah bernama Aen dan beberapa petani jabon di daerah itu. Lahan 16 hektar itu kini dikelola oleh GMN dengan menggandeng petani.Aen tidak bisa ditemui, namun Itoh, tetangganya, membenarkan mantan lurah Sukamekar itu mengelola lahan jabon luas. Beberapa orang sering ke sana memantau kebun. Namun perempuan itu mengaku tidak tahu dari mana orang-orang tersebut. ”Setahu saya Pak Aen memang punya kebun luas, ada kebon jabonnya juga. Banyak yang ke sana melihat-lihat,” tuturnya.Menurut Erlinda, Marketing Eksekutif PT. GMN, pihaknya memang hanya memiliki beberapa hektar lahan. Selebihnya merupakan lahan petani. Perusahaan bekerja sama dengan para petani jabon untuk mengelola lahan dengan sistem tumpang sari. Ada pembagian keuntungan dengan para petani. ”Selain investasi kayu, kami memang juga menerima investasi lahan ingin ditanami jabon,” kata dia.Sampai sekarang, GMN sudah menggarap 200 hektar lahan. Dari lahan seluas itu, 90 persen sudah ditanami bibit jabon milik empat ribu investor. Lahan tersebar di pelbagai daerah, mulai dari Cianjur seluas 16 hektar, di Wado 50 hektar, Leles 50 hektar, kemudian Sumbawa Barat 15 hektar, Awasagara 50 hektar, Singajaya 100 hektar, dan terakhir Banten 13 hektar. Setiap hektar ditanami 1.200 bibit.