Hujan lebat mengguyur wilayah Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sejak sore pada pertengahan Desember tahun lalu. Baru reda sekitar pukul 19.00. Malam itu, Budi salah satu pekerja pembangunan gedung sekolah atlet Hambalang, bersama mandornya tengah memantau bangunan pembangkit listrik dan gedung lapangan bulu tangkis di Zona 3. Pria itu sudah setahun bekerja di sana ini melihat air keluar dari dalam tanah. Beberapa jam kemudian tanah ambles, lalu rusaklah kedua gedung itu. Budi mengungkapkan ambruknya gedung mungkin lantaran kesalahan konstruksi. Gedung dibangun di atas jalur air. Jalan air itu diuruk lalu di atasnya dibangun gedung. ”Itu seperti menyumbat gorong-gorong dengan tanah. Lama-lama aliran air mampet, mendesak tanah lalu ambrol. Apalagi habis hujan,” kata lelaki asal Jember, Jawa Timur, ini ketika ditemui merdeka.com di lokasi proyek Hambalang, Rabu pekan lalu. Kemungkinan lain, gedung ambles karena pengerjaan tidak sesuai rencana. Pondasi mestinya ditancapkan sedalam 120 sentimeter. Kenyataannya, kedalaman pondasi cuma 80 sentimeter. Budi mengaku ikut mengerjakan proyek itu. Namun, ia jengkel karena gaji Rp 1 juta saban bulan tidak dibayar setelah proyek dihentikan dua bulan lalu. Kementerian Pemuda dan Olahraga memang telah menghentikan pencairan dana.Budi membantah amblesnya bangunan di Hambalang karena rekayasa, apalagi sengaja di robohkan. “Saya tahu sendiri. Tidak ada yang merobohkan. Saya ikut membangun gedung itu. Mungkin saat mengeruk tanah membentur batu-batuan atau apa, akhirnya tidak diteruskan. Kedalamanya cuma 80 sentimeter kok,” ia menjelaskan. Direktur Pelasana Proyek KSO (Kerja Sama Operasional) proyek Hambalang, Heri, menolak pernyataan Budi. Menurut dia, tanah ambles terjadi selama dini hari, 14 dan 15 Desember 2011. Pihaknhya sudah menangani kejadian itu dengan membangun tanggul penyangga tanah. Sebagai pelaksana proyek, dia mengaku bertugas memastikan pembangunan proyek sesuai perencanaan dan desain arsitektur. Ia menegaskan pengerjaan proyek itu sudah sesuai rencana. Ia mengaku tidak tahu ada jalur air di bawah gedung amblas. Ia memastikan kedalaman pondasi sesuai rancangan, yakni 114 sentimeter. Lalu bagaimana dengan wilayah perbukitan Hambalang yang kabarnya rawan longsor? Dia menjawab hanya ahli geologi berhak menilai kondisi tanah.Ia mengungkapkan proyek baru bisa digarap 49 persen karena anggaran belum cair. Dia mengakui proyek senilai Rp 1,2 triliun itu terancam molor dari target selesai, yaitu akhir tahun ini.
Diduga ambles karena salah konstruksi
Menurut seorang pekerja, bangunan ambles di Hambalang dibangun di atas jalur air.
Rekomendasi