KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Puncak langit Jakarta, dari Sarinah ke Gama Tower

Senin, 20 Maret 2017 07:36 Reporter : Intan Umbari Prihatin
Gama Tower. ©skyscrapercity.com

Merdeka.com - Gedung-gedung tinggi menjulang di Ibu Kota. Pencakar langit itu menjadi pertanda majunya Ibu Kota DKI Jakarta. Tengok saja di Jalan Sudirman, Thamrin, Rasuna Said, Gatot, Subroto dan kawasan lainnya, ratusan gedung menjulang ke angkasa.

Jakarta memang terus berkembang. Wilayah yang dulunya rawa kini berubah menjadi kota modern dan banyak ditumbuhi gedung-gedung tinggi menunjuk langit. Tahun 2015 lalu, tidak kurang dari 106 pencakar langit setinggi 200 meter atau lebih telah selesai dibangun.

Namun banyaknya pencakar langit yang terus menerus tumbuh juga menenggelamkan cerita gedung lama. Gedung Sarinah misalnya. Dulu pusat perbelanjaan ini merupakan gedung tertinggi di Ibu kota. Namun kini, di Jalan Thamrin, Sarinah seolah kerdil bila dibanding sekitarnya.

Gedung Sarinah digagas oleh Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno. Sarinah merupakan gedung tertinggi pertama di Indonesia. Bangunan memiliki 14 lantai dan satu lantai dasar dengan ketinggian 74 meter.

"Sekarang Sarinah bukan gedung tertinggi lagi tapi ini adalah gedung bersejarah. Karena ini infrastrukturnya sangat lengkap sekali," ujar Direktur Utama Sarinah Gusti Ngurah Putu Sugiarta Yasa kepada Merdeka.com saat ditemui di kantornya, Selasa (14/3).

Gedung Sarinah ©2017 Merdeka.com

Nama Sarinah diambil dari seorang pengasuh Soekarno saat masih kecil. Bung Karno ingin Sarinah menjadi departemen store yang pro dengan wong cilik. Tak hanya itu dia juga ingin Sarinah menjadi pusat perbelanjaan modern yang dimiliki Ibu Kota di kala itu.

Pembangunan Gedung Sarinah dimulai saat Soekarno melobi pemerintahan Jepang supaya mendirikan departemen store di Jakarta. Lobi berhasil dilakukan dan negara sakura itu memberi bantuan kepada Indonesia. Inisiasi pun dilancarkan pada 17 Agustus 1962 dan gedung ini mulai beroperasi 17 Agustus 1967.

Dana yang dikucurkan untuk membangun Sarinah dari hasil dana rampasan perang. Jepang juga secara langsung terjun dalam hal pembangunan fisik bangunan dan manajemen. Pembangun fisik dilakukan oleh perusahaan Negara Adhi Karya bekerja sama dengan dua kontraktor Jepang C.Itoh dan Obayashi Gumi.

"Putera bangsa yang ikut berkontribusi sebagai arsitek pembangunan Gedung Sarinah. kalau ilmu manajemennya ikut dari Seibu Departemen Store dan Makzud Zakaya," kata Ngurah.

Kata Ngurah, Gedung Sarinah saat itu dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang sangat bisa dikatakan barang ajaib di era itu. Sebut saja eskalator atau tangga berjalan. Tak hanya itu terdapat air conditioner (AC) pertama dan mesin bayar elektronik cash register. Serta untuk penunjang administrasi Sarinah juga dilengkapi dengan penggunaan komputer canggih pada saat itu.

Dalam perjalanannya Sarinah sudah tiga kali mengalami renovasi. Pada 1970, 1984, kemudian ketika 1990 bangunan Sarinah ditambahkan atap berbentuk segitiga. Gedung Sarinah juga diklaim antigempa.

"Banyak orang yang bilang kalau gedung Sarinah miring, padahal tidak. Sudah terbukti pada gempa pada saat 2009 Kami sudah pernah diaudit oleh Dinas P2K (Pencegahan Pemadam Kebakaran). Memang dulu tahun 2007 pernah dapat isu seperti itu tapi itu tidak benar," ungkap Ngurah.

Sejak pertama kali dibangun fungsi gedung Sarinah digunakan untuk departemen store. Namun kini sudah banyak mal dan gedung bertingkat yang lebih tinggi dari Sarinah.

"Kita lihat tidak efektif, 14 lantai menjadi Mal. Karena itu kini kita desain dan dibuat ada beberapa lantai untuk perkantoran," kata Ngurah.

Bila mengacu standar pencakar langit (di atas 100 meter) maka yang pertama di Indonesia adalah Wisma Nusantara. Gedung perkantoran ini memiliki tinggi 117 meter dengan 30 lantai. Gedung ini mulai dibangun pada tahun 1964 dan selesai dibangun pada tahun 1967. Gedung ini berada di dekat Hotel Pullman Thamrin dan berseberangan dengan Hotel Indonesia. Arsitek yang merancang gedung ini adalah Wiratman Wangsadinata.

Wisma Nusantara ©2017 Merdeka.com

Namun di tahun 1983, Jakarta kembali memiliki pencakar tertinggi yang baru yakni Graha Mandiri yang dibangun setinggi 143 meter (32 lantai). Rekor gedung tertinggi ini kemudian baru tumbang pada 1996 saat Wisma BNI 46 berdiri gagah. Wisma 46 merupakan pencakar langit setinggi 262 m (hingga pucuk antena) yang terletak di komplek Kota BNI di Jakarta Pusat. Menara perkantoran bertingkat 46 ini selesai tahun 1996 yang dirancang oleh Zeidler Roberts Partnership (Zeidler Partnership Architects) dan DP Architects Private Ltd. Menara ini berdiri di atas tanah seluas 15 hektare. Menara ini berisi 23 elevator yang dapat mencapai kecepatan 360 mpm dalam model berkecepatan super tinggi.

Gedung Gama Tower ©2017 Merdeka.com


Namun ketinggian Wisma 46 ini pun segara tumbang setelah Gama Tower berdiri. Gama Tower mulai resmi beroperasi pada 1 Agustus 2016 lalu. Gama Tower adalah sebuah pencakar langit dengan ketinggian arsitektural 288,6 meter dan pucuk 310 meter, dengan 69 lantai. Kini Gama Tower menjadi puncak tertinggi di Ibu Kota.

[hhw]

Topik berita Terkait:
  1. Gedung Pencakar Langit
  2. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.