Sejuta pengungsi Rohingya di seberang sungai Naf

Senin, 8 Januari 2018 07:44 Reporter : Ramadhian Fadillah
Pengungsi Rohingya. ©2018 Merdeka.com/Ramadhian Fadillah

Merdeka.com - Matahari mulai tinggi saat puluhan pria, wanita dan anak-anak berbaris memasuki Kamp Pengungsi Kutupalong di Cox's Bazar, Bangladesh. Yang laki-laki memanggul karung bantuan dari UNHCR, yang wanita menggendong bayi atau menuntun anak kecil.

"Mereka baru datang dari Rakhine," bisik Nazam, seorang pengungsi Rohingya pada merdeka.com akhir Desember lalu.

Para pengungsi baru itu menambah hampir satu juta pengungsi yang sudah lebih dulu berada di Cox's Bazar. Puncaknya setelah kekerasan yang dilakukan oleh militer Myanmar sejak bulan Agustus lalu, tercatat tak kurang dari 622.000 warga Rakhine menyeberang ke Bangladesh.

Bayangkan nyaris satu juta orang pengungsi. Jumlah itu hampir sama dengan jumlah seluruh warga Bogor mengungsi, atau nyaris dua kali jumlah warga Surakarta. Atau hampir tiga kali seluruh penduduk Kota Cirebon.

Inilah camp pengungsi terbesar di dunia saat ini.

Persis sehari sebelumnya di Dhaka, Menlu Bangladesh AH Mahmood Ali mengumumkan Myanmar dan Bangladesh telah sepakat untuk memulangkan pengungsi Rohingya secara bertahap. Myanmar juga diwajibkan menjamin keamanan kaum Rohingya dan membangun kembali infrastruktur yang hancur saat operasi militer.

Di meja perundingan, itu yang disepakati. Di kamp pengungsian kenyataannya jauh panggang dari api.

"Setiap hari seperti ini. Semakin banyak pengungsi yang datang dari Myanmar. Kekerasan dan hal-hal buruk di sana belum berhenti," kata Nazam.


Pengungsi Rohingya di kamp Kutupalong dimulai sejak tahun 1992. Sebagian dari mereka telah kembali ke Rakhine saat ada kesepakatan antara Bangladesh dan Myanmar dulu. Namun banyak pula para pengungsi awal yang memilih menetap di Cox's Bazar.

Beberapa dari mereka sudah memiliki mata pencaharian kecil-kecilan seperti berdagang atau membuka warung kecil-kecilan di kawasan pengungsi.

Mereka tinggal di rumah-rumah berdinding tanah lempung dan beratap jerami atau plastik. Kondisinya mirip bedeng-bedeng pemulung di Indonesia. Tapi ini jauh lebih baik dari para pengungsi yang baru datang. Terpaksa hidup di tenda-tenda pengungsian yang dibangun dengan bambu dan terpal seadanya.

Air bersih dan sanitasi jadi masalah serius di camp pengungsi. Penyakit gangguan pernapasan, kurang gizi, hingga difteri tumbuh subur di sini.

Merdeka.com mengunjungi kamp pengungsi Kutupalong di Kota Cox's Bazar tanggal 21 Desember lalu. Terletak di wilayah barat Bangladesh yang berbatasan dengan Myanmar. Kota ini dikenal sebagai kota wisata pantai. Resort berbintang lima dan hotel bertebaran di sana.

Namun nama Cox's Bazar kini lebih dikenal dunia gara-gara pengungsi Rohingya. Lokasi kamp pengungsian itu hanya berjarak satu jam dari pusat keramaian turis Cox's Bazar.

Jejalan manusia mulai tampak saat memasuki kamp Kutupalong. Ratusan pria berjongkok di depan tenda UNHCR. Mengantre bantuan makanan dan pakaian dari lembaga PBB bagian pengungsi itu. Sinar matahari menyengat dan debu dari tanah beterbangan. Kalau hujan, tanah berubah jadi kolam lumpur. Melangkah pun sulit.

Di Kutupalong, sejauh mata memandang hanya ada kerumunan manusia dan tenda-tenda kumuh. Anak-anak berlarian dengan telanjang dada dan bayi-bayi kurus kurang gizi.

"Tapi ini masih lebih baik dari pada dibunuh di Rakhine," kata Karim soal kondisi pengungsian.

Seorang pengungsi lain menuturkan horor di kampungnya. Para lelaki dikumpulkan setelah Salat Jumat. Mereka dipaksa menandatangani surat mengakui melepas kewarganegaraan Myanmar oleh tentara.

Jika menolak enteng saja para tentara itu melepaskan tembakan menghabisi nyawa orang tak bersalah. Beruntung dia bisa lari masuk hutan.

Tak ubahnya seperti pembantaian yang dilakukan Westerling dan Pasukan Baret Hijau Belanda Depot Speciale Troepen pada rakyat Sulawesi Selatan saat perang kemerdekaan Indonesia.


Seorang pengungsi lain mengungkapkan horor yang lebih mengerikan. Para tentara membawa parang lalu menyuruh mereka bersujud. Jika berani mengangkat kepala, tentara itu mengayunkan parang menebas leher mereka.

Sementara hampir semua wanita tua dan muda mengalami pemerkosaan atau pelecehan seksual. Cerita mereka menyayat hati.

Untuk lari dari wilayah Rakhine ke Bangladesh pun tak mudah. Para pengungsi itu harus menghindari kejaran tentara. Keluar masuk hutan dan menyeberangi Sungai Naf. Tak sedikit yang meninggal tenggelam di sungai ini.

Cara lain dengan berjejal menaiki perahu sederhana untuk masuk ke perairan wilayah Cox's Bazar. Tapi biayanya tidak murah, hingga ribuan takka. Satu mata uang Bangladesh ini nilainya Rp 150. Sebagai gambaran Pendapatan rata-rata warga miskin Bangladesh kurang dari 1.200 takka setiap bulan.

Para tukang perahu juga menerima pembayaran dengan perhiasan atau emas bagi orang yang tak punya uang. Namun perjalanan ini juga penuh resiko. Bukan cerita baru kapal yang ditumpangi malah karam dan puluhan orang tewas tenggelam.

Cerita pilu yang terus berulang. Di kamp pengungsian, kematian sudah diterima menjadi bagian dari hidup mereka. Pedih, tapi bagaimana lagi.

Siang itu merdeka.com melihat jenazah diusung empat pria di Kutupalong. Tiga anggota keluarganya menangis mengikuti usungan jenazah. Sementara yang lain cuma menoleh, lalu kembali dengan aktivitas masing-masing.

"Kematian sudah biasa di sini, Brother. Setiap orang di kamp ini pasti merasakan kehilangan sanak saudara," kata Nazam lagi.


Konflik di Rohingya tak bisa dilepaskan dari agama. Namun masalah antar etnis dan ekonomi juga jadi pemicunya. Konflik di akar rumput sebenarnya sudah puluhan tahun terjadi. Etnis Rohingya dianggap pendatang ilegal dan merupakan saingan ekonomi warga Burma di Rakhine.

Hal ini diperburuk dengan pemerintah Myanmar yang tak mengakui hak mereka sebagai warga negara. Membatasi akses warga Rohingya untuk mendapat pendidikan dan kesehatan.

Kerusuhan pertama pecah tahun 8 Juni 2012 lalu. Dilaporkan seorang wanita beragama Budha diperkosa dan dibunuh oleh sekelompok pria beragama Islam. Dengan cepat hal ini berkembang menjadi kerusuhan bernuansa SARA. Bus yang berisi orang-orang Muslim diserang sebagai tindak balasan.

88 Orang tewas dalam kerusuhan, sementara ribuan rumah milik warga Rohingya dibakar. Bulan Oktober kembali pecah kerusuhan yang mengakibatkan puluhan orang tewas.

Bulan Agustus lalu militer Myanmar membakar desa-desa Rohingya dan melakukan kekerasan secara terus menerus. Mereka juga mempersenjatai milisi lokal untuk bergerak menyerang warga Rohingya. Tentara berdalih memburu geriyawan Arakan Rohingya Salvation Army yang menyerang aparat keamanan.

Dokumen Human Rights Watch membeberkan tentara menjebak warga Rohingya di sepanjang sungai dan mulai memperkosa serta membunuh para pria, wanita dan anak-anak.

"Tentara Myanmar di sana tak hanya brutal tapi juga sistematis. Mereka melakukan pembunuhan dan kekerasan secara efisien yang hanya mungkin dilakukan lewat operasi yang terencana," kata Direktur HRW untuk Asia Brad Adams dalam laporannya.

Mayoritas pengungsi Rohingya masih punya harapan untuk kembali ke kampung halaman mereka. Walau melihat fakta di lapangan sulit rasanya militer Myanmar akan menyambut dan melindungi mereka yang kembali. Apalagi dengan sukarela membangun rumah orang Rohingya yang dulu mereka bakar lewat tangan milisi.

Rumah kenangan itu tak jauh dari Cox's Bazar. Hanya berada di seberang Sungai Naf. Tapi entah berapa orang dari nyaris satu juta pengungsi Rohingya ini yang benar-benar bisa pulang. [ian]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.