Mengupas Uang Negara untuk Belanja Vaksin Covid-19

Jumat, 2 Juli 2021 06:04 Reporter : Anggun P. Situmorang, Idris Rusadi Putra
Mengupas Uang Negara untuk Belanja Vaksin Covid-19 Infografis Vaksin. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Beberapa hari terakhir, gelombang penerimaan vaksinasi Covid-19 terjadi di berbagai daerah. Antrean vaksinasi terjadi di berbagai tempat. Memperlihatkan tingginya antusiasme masyarakat menerima vaksinasi Covid-19.

Kementerian, lembaga, pemerintah daerah hingga pelaku bisnis atau swasta semakin gencar menggelar vaksinasi. Beragam cara dilakukan. Ada yang dilakukan secara massal di stadion, GOR, atau puskesmas. Ada juga yang menggunakan sistem drive thru seperti di kantor kepolisian. Bahkan, ada maskapai penerbangan yang menawarkan paket tiket. Pembelian tiket gratis vaksin. Termasuk Kemenkes yang menerjunkan timnya, untuk menjemput bola melakukan vaksinasi keliling hingga RT dan RW.

"Swasta saat ini sangat berperan menyukseskan vaksinasi. Ini bukan sesuatu yang kita desain. Malah justru banyak swasta berinisiatif melalui promosi seperti give away, voucher dan lainnya untuk mendorong masyarakat agar divaksin," kata Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi.

uang negara untuk beli vaksin

Bukan tanpa alasan program vaksinasi digencarkan. Terlebih di tengah melonjaknya kasus Covid-19 di tanah air. Presiden Joko Widodo atau akrab disapa Jokowi menginstruksikan, dua juta orang divaksinasi per hari.

Jokowi punya target. Sebanyak 91,7 juta orang sudah menerima vaksinasi Covid-19 pada Desember 2021. Target itu memang tidak kecil. Namun bila satu hari bisa tercapai 1-2 juta orang disuntik vaksin, target Jokowi bisa terealisasi.

Kampanye vaksinasi memang sudah digaungkan sejak awal tahun. Otak-atik anggaran dilakukan untuk biaya pengadaan dan distribusi. Vaksinasi menjadi salah satu senjata dan ikhtiar Indonesia melawan Covid-19. Di samping pengetatan protokol kesehatan.

Tak hanya anggaran kementerian, pemerintah daerah (pemda) turut dilibatkan membiayai Vaksinasi gratis kepada warganya. Vaksinasi juga dibiayai melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). PEN sektor Kesehatan telah terealisasi sebesar Rp39,55 triliun sampai 18 Juni 2021. Dana itu sudah termasuk pengadaan 37,78 juta dosis vaksin.

Uang triliunan ini diperoleh dari hasil realokasi dana infrastruktur yang pengerjaannya beberapa tahun ke depan (multiyears). Tidak terlalu genting saat ini. Kedua, dana padat teknologi, bukan padat karya.

Ketiga, infrastruktur yang kebutuhan dananya masih biasa dipenuhi dengan kerja sama swasta. Pos lain adalah menggunakan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) dari APBN 2020.

"Vaksin-vaksin ini diharapkan akan memperkuat upaya pemerintah dalam mempercepat program vaksinasi nasional sehingga kekebalan komunal bisa segera tercapai," tulis Kepala Negara seperti dikutip dalam akun Instagram pribadinya @jokowi.

Anggaran Vaksin Covid-19

Anggaran negara merupakan kekuatan utama untuk mendatangkan vaksin ke tanah air. Kementerian Keuangan menganggarkan Rp35,1 triliun dalam APBN 2020 untuk program vaksinasi dan pengadaan vaksin.

Pemerintah telah mengalokasikan anggaran melalui APBN 2021 khusus untuk vaksin Covid-19 sebesar Rp13,92 triliun. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perbendaharaan Negara (DJPb), hingga tanggal 23 April 2021, anggaran vaksin tercatat telah terealisir Rp6,92 triliun.

Presiden Jokowi sudah meminta Menteri Keuangan Sri Mulyani untuk merealokasikan anggaran terkait ketersediaan vaksin.

"Saya menginstruksikan kepada menteri keuangan untuk memprioritaskan dan merealokasi dari anggaran lain terkait ketersediaan vaksin gratis ini sehingga tidak ada alasan bagi masyarakat untuk tidak mendapatkan vaksin," ungkap Presiden Jokowi.

vaksinasi covid 19 di polsek pamulang
©2021 Merdeka.com/Arie Basuki

Jenis Vaksin Digunakan di Indonesia

Sejak tahun lalu Indonesia sudah mulai mengimpor vaksin. Kementerian Kesehatan intens berkomunikasi dengan negara produsen. Vaksin pertama tahun lalu yaitu Sinovac dan vaksin Cansino pada Desember.

Hingga hari ini, beragam jenis vaksin sudah datang. Mulai dari Sinovac sebanyak 105,5 juta dosis, di mana 91,5 juta di antaranya bentuk bulk. Ada pula vaksin AstraZeneca COVAX Facility sebanyak 8,2 juta dosis, dan Sinopharm sebanyak 2 juta dosis.

Indonesia menggunakan tiga jenis vaksin, yaitu Sinovac, AstraZeneca, dan Sinopharm. Ketiga vaksin itu telah memperoleh Emergency Use Listing atau EUL dari WHO. Dengan memenuhi persyaratan internasional dalam hal kualitas, keamanan, dan efektivitasnya untuk digunakan pada masa darurat Kesehatan.

kegiatan vaksinasi di stasiun bogor
©2021 Liputan6.com/Herman Zakharia

Negara Asal Vaksin

Indonesia mengimpor vaksin dari berbagai negara. Vaksin pertama sekaligus paling besar berasal dari perusahaan farmasi China Sinovac. Vaksin impor kedua didatangkan dari pabrikan vaksin Amerika Serikat-Kanada Novavax. Ketiga dari kerja sama multilateral WHO dan Aliansi Vaksin Dunia (Covax-GAVI). Keempat, dari pabrikan Inggris AstraZeneca. Kemudian, kelima perusahaan farmasi gabungan Jerman dan Amerika Serikat Pfizer BioNTech.

Vaksinasi berhasil menekan angka penyebaran Covid-19. Di Eropa, Inggris misalnya, mampu menurunkan kasus harian di angka 5.000-an dari sebelumnya 60.000 kasus per hari. Setelah dosis vaksin yang diberikan mencapai 101,51 persen jumlah masyarakat.

Contoh lainnya adalah Amerika Serikat. Negara Paman Sam ini, mampu menurunkan kasus baru per harinya dari sekitar 300.000 menjadi 12.000 per hari. Setelah dosis vaksin yang diberikan mencapai 91,57 persen populasi.

Meniru negara itu, Indonesia sekuat tenaga memenuhi kebutuhan vaksinasi dalam negeri setidaknya 181,5 juta orang. Langkah ini guna mencapai Herd Immunity atau kekebalan kelompok. Vaksin jadi tonggak penting melawan gelombang kedua pandemi Covid-19.

Sekjen Perhimpunan RS se-Indonesia dr. Lia G. Partakusuma, SpPK(K), MM, MARS menjelaskan, vaksin merupakan salah satu upaya Indonesia untuk menangani pandemi Covid-19 yang memasuki gelombang kedua.

"Vaksinasi covid-19 sangat penting untuk disukseskan. Bila dikombinasikan dengan penerapan protokol kesehatan yang disiplin maka pandemi akan segera berakhir," ujar dr. Lia dalam Virtual Class "Ledakan Kasus Covid-19, Vaksin Kunci Akhiri Pandemi" Jumat (25/6/2021), seperti dikutip dari Liputan6.com.

vaksinasi sektor keuangan
©2021 Liputan6.com/Faizal Fanani

Selain itu, vaksin juga menjadi upaya agar tidak mengalami kondisi fatal saat terpapar Covid-19. Berangkat dari data, sekitar 80 persen orang yang terkena Covid-19 berhasil sembuh, tapi ada 20 persen yang bergejala dan lima persen di antaranya meninggal dunia. "Vaksin ini mengurangi risiko tersebut," tambahnya.

Perhitungan Kementerian Kesehatan, kebutuhan vaksin Indonesia 426,8 juta dosis vaksin. Pemenuhan vaksin dilakukan dengan pendekatan bilateral, multilateral, maupun dari dalam negeri. [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini