Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Loper koran bertahan di era digital

Loper koran bertahan di era digital Loper koran. ©2017 Merdeka.com/Marselinus Gual

Merdeka.com - Pagi itu pukul 05.00 WIB. Sepanjang pelataran toko tua di Kwitang, Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, puluhan motor dan sepeda parkir begitu saja. Tak lama kemudian, sebuah Toyota Avanza hitam menepi. Seorang laki-laki muda keluar dan membuka pintu belakang. Sejurus kemudian koran-koran itu beralih tempat dan tangan.

"Rakyat Merdeka dua, Pos Kota lima...(eksemplar)," teriak salah seorang loper koran. Dia merogoh sejumlah uang dari kantung celananya yang lusuh. Setelah koran itu pindah ke tangannya, lelaki tua itu bergegas mengayuh sepeda ontel ke arah Pasar Senen, Jakarta Pusat.

Pemandangan itu terjadi setiap hari. Di lokasi ini, segenap aktivitas pendistribusian berbagai media cetak dimulai. Agen, sub-agen hingga pengecer menunggu kertas berisi berita itu tiba dari penerbit. Setelah transaksi terjadi, koran-koran itu dirapikan lagi sesuai halamannya yang benar.

loper koran

Loper koran ©2017 Merdeka.com/Marselinus Gual

Supardi (47), salah satu dari pengecer koran itu. Dia dan rekan-rekan pengecer lainnya berpacu dalam waktu. Mereka tak menyediakan ruang agar matahari terbit dahulu sebelum koran-koran itu tiba di langganan masing-masing.

"Saya bangun jam empat lalu salat subuh. Salin sebentar lalu datang ke sini," cerita Supardi kepada merdeka.com beberapa waktu lalu.

Untuk koran yang terbit pagi, Supardi mengantarnya ke alamat pelanggan di sejumlah tempat di Jakarta Pusat dan Jakarta Timur seperti Kebon Sirih, Menteng, Cikini, Sudirman, Bundaran HI, Manggarai, MT Haryono, dan Pancoran.

"Biasanya kerja hingga jam dua. Setelah itu saya mengambil sedikit koran siang di jam tiga sore," tuturnya.

Supardi mengaku pekerjaannya sebagai loper koran sudah dimulai sejak tahun 1980 an. Kala itu dia masih muda belia dan di mana era kejayaan sebagai loper koran masih hangat-hangatnya. Supardi mengaku, hidupnya cerah meski hanya seorang loper koran.

Namun, era digital mengubah pangsa pembaca koran yang dijual Supardi dan rekan-rekannya. Kehadiran media berjaring internet (daring) mengubah peta pembaca sekaligus melengserkan sedikit demi sedikit tugas dan pekerjaan Supardi.

"Penjualan menurun drastis. Tidak seperti dulu lagi saya bisa jual ribuan eksemplar. Sekarang cuma ratusan aja," keluhnya.

Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia Suwarjono mengatakan, pembaca media yang lahir di era 80-an hingga saat ini, cenderung membaca media online ketimbang media cetak. Menurut dia, tahun 2016 pembaca media daring di Indonesia mencapai 130 juta orang dan penyebaran gadget bahkan melebihi jumlah penduduk Indonesia.

Akibatnya, pangsa media yang selama ini dikuasai media cetak mengalami penurunan drastis. Suwarjono mengatakan, saat ini kecenderungan pembaca banyak didominasi new media yang berbasis tiga layar yakni, televisi, handphone dan komputer atau desktop.

"Generasi pembaca terbesar saat ini didominasi digital native. Mereka yang lahir setelah 1980 dengan mengandalkan gadget dan internet sebagai sumber informasi," kata dia kepada merdeka.com di Jakarta, Senin (16/1).

Menurunnya, tren pembaca ini berakibat pada penutupan berapa media di Indonesia. Koran Sinar Harapan, Harian Bola, Jakarta Globe, Mingguan Cempaka dan sejumlah tabloid dan majalah lainnya tercatat sudah gulung tikar.

"Sudah banyak media cetak Indonesia yang gulung tikar. Bahkan tidak ada pengusaha yang berani membuat koran karena pasti rugi," ujarnya.

(mdk/bal)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP