Hot Issue

Klaim Pandemi Terkendali: Kenyataan Tak Seindah yang Diucapkan

Kamis, 15 Juli 2021 06:05 Reporter : Muhamad Agil Aliansyah, Lia Harahap
Klaim Pandemi Terkendali: Kenyataan Tak Seindah yang Diucapkan RSUD Cengkareng hadapi lonjakan Covid-19. ©Liputan6.com/Herman Zakharia

Merdeka.com - Pria itu menelepon dengan nada sendu. Mencoba tegar dan menahan sedih mendalam. Berbisik lirih di telinga. Memohon bantuan mencari Rumah Sakit untuk ayahnya yang kritis karena terpapar Covid-19. Coky berbagi cerita. Sulitnya mendapatkan akses kesehatan untuk sang ayah yang kritis.

"Kenyataan di lapangan memang tidak seindah yang diucapkan pejabat," kata Coky membuka perbincangan dengan merdeka.com, semalam.

Beberapa hari sebelumnya, Koordinator Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Pulau Jawa dan Bali yang juga Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan mengklaim penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia sangat terkendali. Ini disampaikannya usai melakukan rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo.

Sebagai pemegang tongkat komando PPKM Darurat Jawa-Bali, pensiunan jenderal TNI bintang empat ini salah satu sosok yang selalu dicari Presiden Jokowi. Dalam sehari, tiga kali Jokowi menelepon Luhut. Memantau perkembangan penanganan Pandemi Covid-19. Sekaligus implementasi PPKM Darurat.

"Jadi kalau ada yang berbicara bahwa tidak terkendali keadaannya, sangat-sangat terkendali," katanya dalam konferensi pers, Senin (12/7).

Luhut percaya diri dengan pernyataannya. Sehingga menantang pihak yang menyangkalnya, untuk menghadapnya. Dia menyiapkan data yang menujukan penanganan pandemi terkendali. Tak cuma itu, Luhut juga menjamin ketersediaan obat-obatan, oksigen hingga tempat tidur bagi pasien Covid-19.

Sikap optimistis pemerintah terkait penanganan Covid-19 juga disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Bahkan, Budi meminta masyarakat tidak panik meski angka kasus positif meroket dari hari ke hari.

"Nah sekarang kita dorong supaya itu masuk, jadi bapak ibu akan lihat lonjakannya, tidak usah panik terutama teman-teman media," ujar Budi.

rsud cengkareng hadapi lonjakan covid 19

Sulitnya Akses Kesehatan

Pernyataan para petinggi negeri ini tak dirasakan warga. Kepanikan terjadi di tengah masyarakat. Kalutnya hati saat mengetahui anggota keluarga kritis akibat terpapar virus Covid-19. Berjuang habis-habisan demi mendapatkan perawatan dari tenaga kesehatan. Semua tidak semudah yang diucapkan untuk sekadar menenangkan.

Coky kesulitan mendapatkan alat dan fasilitas kesehatan bagi ayahnya. Awalnya sang ayah menjalani isolasi mandiri di rumah pada Kamis (7/7). Kondisinya memburuk setelah dua hari. Saturasi oksigen turun. Coky dan keluarga mencari oksigen dan regulator di berbagai tempat. Jawaban yang diterima hanya satu kata. Kosong.

Dia tak patah arang. Hingga akhirnya mendapat pinjaman oksigen dari sebuah RS di Tanjung Priok. Persoalan belum selesai. Regulator belum didapat. Dia mencoba mencari di situs belanja online. Harganya di luar nalar. "Rp1 juta sampai Rp2,5 juta," ucapnya.

Meski mendapat oksigen, kondisi sang ayah tak kunjung membaik. Dia mencari RS yang bisa memberikan pelayanan kesehatan pasien Covid-19. Bukan hal mudah. IGD dan ICU beberapa RS penuh. Dia berkejaran dengan waktu. Hingga akhirnya sang ayah bisa mendapat tempat di sebuah RS swasta daerah Bekasi, Sabtu (10/7). Atas bantuan koleganya. Namun, RS itu tidak memiliki ventilator.

Senin (12/7) malam, RS memberi kabar. Ayah Coky harus segera dirujuk ke RS lain yang memiliki ventilator. Mengingat kondisinya semakin kritis. Surat rujukan dikeluarkan. Bersama surat lain. "Saya disuruh tanda tangan, surat yang menyatakan jika ada kemungkinan tidak tertolong. Seolah mereka pesimis," nadanya meninggi.

Dari lobi RS itu, Coky tak berhenti menghubungi kerabat dan teman-temannya. Meminta bantuan mencari RS rujukan pasien Covid-19 dengan kategori kritis. Banyak rekannya mengirimkan tautan versi pemerintah yang berisi informasi untuk mengecek ketersediaan kamar di RS.

Dari aplikasi itu Coky melihat ada beberapa RS yang masih menyediakan ICU atau IGD. Dia mencoba menghubungi. Faktanya, RS menyatakan IGD dan ICU penuh. Tidak sesuai dengan informasi yang tertera dalam aplikasi pencarian RS. Bahkan ada RS yang menyatakan, pasien sudah antre mendapat tempat di ICU sejak tujuh hari lalu.

"Lebih dari 10 RS saya telepon, semua bilang IGD penuh dan antre, ICU full. Jadi tidak seperti informasi yang bilang kalau masyarakat terjamin mendapat akses RS," imbuhnya.

Sepanjang malam tak bisa terlelap. Terus berusaha agar sang ayah mendapat perawatan terbaik. Setelah hampir 12 jam mencari, salah satu koleganya, dr. Reagan Aruan mendapatkan satu kamar di RSUD Ciracas untuk ayah Coky.

Kisah Coky hanya satu dari banyaknya masyarakat yang sulit mendapatkan akses fasilitas kesehatan. Di tengah pertaruhan nyawa pasien. Bagi masyarakat biasa seperti Coky, belum ada jaminan akses kesehatan. Dia hanya berharap pejabat negara menengok kondisi yang sebenarnya. Bukan sekadar mendapat laporan saja.

"Sesekali sidak, tengok kondisi di bawah. Banyak warga antre dan kesulitan. Ini tentang nyawa banyak orang," tutupnya.

kelangkaan oksigen di ibu kota

Krisis Oksigen

Luqman punya cerita hampir sama. Kabar kedua orangtuanya terpapar Covid-19 bak petir di siang bolong. Pikirannya diliputi kekhawatiran. Dia menghubungi satu per satu rumah sakit. Berharap ayah dan ibuya mendapat perawatan.

Hampir semua fasilitas kesehatan penuh pasien. Usahanya membuahkan hasil. Satu tempat tidur pasien dikabarkan tersedia. Dia memutuskan ibunda dirawat di rumah sakit. Sementara ayahnya di rumah. Persoalan tidak berhenti sampai di situ. Dia harus mempersiapkan tabung oksigen untuk membantu pernapasan ayahnya. Dia rela antre berjam-jam demi sebuah tabung oksigen untuk sang ayah tercinta.

"Antrenya dari pintu gerbang sampai pinggir-pinggir jalan, 5-6 meter," kata Luqman saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu (14/7).

Dia baru bisa mendapatkan oksigen malam hari. Tabung berukuran satu meter setengah terisi. Luqman terpaksa harus menyiasati penggunaan oksigen. Dia meminta sang ayah menghemat penggunaan. Sebab tabung berukuran semeter setengah hanya mampu bertahan selama dua hingga tiga jam jika dipakai terus-terusan.

Yanto juga harus berjuang keras demi menolong pasien kritis. Jelang malam, tetangganya yang terpapar Covid-19 mendadak sesak napas. Depot oksigen sudah tutup. Warga menyiasati membuat alat bantu pernapasan. Tidak mungkin membawa pasien ke rumah sakit. Lantaran tidak ada kepastian mendapat perawatan di kamar darurat.

tenaga kesehatan perawat pasien covid 19

Robohnya Tenaga dan Fasilitas Kesehatan Kita

Lonjakan kasus Covid-19 berdampak signifikan terhadap tenaga dan fasilitas kesehatan kita hari ini. Kondisi dilematis dihadapi perawat E. Bekerja di salah satu RSUD di Jakarta. Dia menceritakan kerja kerasnya menghadapi lonjakan pasien Covid-19. Mereka berhadapan langsung dengan pasien. Tidak tega rasanya melihat pasien berdatangan, sementara ruang perawatan tak tersedia. Dengan berat hati, mereka hanya bisa meminta pasien menunggu.

"Kondisi saat ini benar-benar membeludak pasien. Bahkan untuk masuk unit rawat inap saja harus waiting list. Waiting list itu tidak bisa ditentukan berapa lama waktunya," kata E.

Rumah sakit itu memiliki empat unit tempat tidur ICU dan 34 tempat tidur rawat inap. Saat ini, semuanya dalam kondisi terisi. Dia dan rekan-rekannya mulai kewalahan. Lonjakan pasien tak sebanding dengan fasilitas dan tenaga kesehatan.

Tidak heran jika saat ini banyak tenaga kesehatan terpapar Covid-19 lantaran imun menurun akibat kelelahan. Bahkan, sudah banyak tenaga kesehatan yang berguguran dalam perang melawan Pandemi Covid-19. Data yang dipaparkan LaporCovid-19, sebanyak 1.067 tenaga kesehatan di Indonesia meninggal dunia akibat Covid-19.

"Standar APD kita untuk dipakai di zona merah itu 3-4 jam, tapi karena kekurangan tenaga kita bisa pake APD di zona merah itu 5-6 jam. Itu mempengaruhi kondisi tubuh kita yang pakai APD. Asupan oksigen nakes berkurang juga, kelelahan. Dan itu bisa sebabkan imun kita rendah," katanya.

Dalam kelelahan, melayani pasien tetap dilakukan maksimal. Mereka harus bisa mentransfer energi positif. Agar pasien segera sehat. Begitulah yang dilakukan E dan rekan-rekannya. Kepada pasien, mereka selalu memberikan motivasi untuk sembuh. Meminta pasien tidak stres. Sebab itu akan membuat kondisi pasien kian menurun.

pasien covid 19 dirawat di tenda darurat rsud bekasi

Kondisi Nyata

Kondisi di rumah sakit saat ini memberi gambaran nyata. Pandemi belum sepenuhnya terkendali. Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Slamet Budiarto menyebut tiga indikator jika penanganan Covid-19 disebut terkendali. Pertama, angka infeksi Covid-19 menurun. Faktanya, presentase kasus harian dari laporan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Satgas Covid-19, justru meningkat tajam. Sejak pertengahan Juni 2021, catatan rekor kasus terus terjadi. Terakhir pada Rabu (14/7), kasus positif Covid-19 bertambah 54.517 menjadi 2.670.046 kasus.

Indikator kedua, angka kematian menurun. Jumlah pasien yang meninggal juga pernah berada di titik tertinggi pada bulan ini. Pada Rabu 7 Juni 2021, ada 1.040 pasien Covid-19 meninggal. Pada Minggu 11 Juni 2021, jumlah pasien meninggal juga cukup tinggi menyentuh angka 1.007 orang.

Namun tidak dipungkiri, Indonesia juga pernah mencatatkan rekor kasus sembuh harian Covid-19 pada 11 Juli kemarin. Ada 32.615 pasien Covid-19 yang sembuh dan menjadikan angka total kesembuhan dari Covid-19 sebanyak 2.084.724 orang.

Indikator terakhir, tingkat keterisian pasien Covid-19 di rumah sakit. Jika Pandemi terkendali, keterisian ruangan di rumah sakit berangsur turun. Kondisi hari ini justru tidak menunjukkan kabar gembira.

"Ya terkendali menurut Pak Luhut tapi melihat angka kematian yang sedemikian banyak itu menandakan belum terkendali. Menurut kami itu belum terkendali karena tiga indikator ini masih tinggi angka infeksi tinggi, angka kematian tinggi rumah sakit overload," kata Slamet saat dihubungi merdeka.com.

Ketua Umum (Ketum) Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Kuntjoro Adi Purjanto mencontohkan kondisi di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Kariadi Semarang. Tidak semua pasien tertangani lantaran fasilitas kesehatan yang sudah tak mampu lagi. Melonjaknya angka kematian akibat Covid-19 membuat pasien meninggal harus antre di kamar jenazah.

"Kita lihat aja di IGD lah. IGD itu kan yang antre banyak untuk yang masuk untuk dirawat banyak. Itu artinya tingkat keterisian rumah sakit itu rata-rata tinggi," kata Kuntjoro dihubungi terpisah.

Kalangan epidemiolog juga meragukan penanganan Pandemi yang disebut terkendali. Epidemiolog UI, Pandu Riono justru melihat virus Covid yang mengendalikan kehidupan manusia. Dia menilai muncul dan menyebarnya varian Delta di Indonesia menunjukkan kegagalan dalam mengendalikan pandemi.

"Pandemi di Indonesia itu dikendalikan oleh virus, virusnya naik ikut naik, bukan dikendalikan oleh Pak Luhut," tegasnya. [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini