Mildreport

Ketika Poros Bumi Bergeser

Jumat, 7 Mei 2021 03:04 Reporter : Rifa Yusya Adilah, Fellyanda Suci Agiesta, Iqbal Fadil
Ketika Poros Bumi Bergeser ilustrasi bumi. shutterstock ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Pencairan glasial akibat perubahan iklim bertanggung jawab atas pergeseran poros bumi. Kondisi ini terungkap dalam penelitian dalam jurnal Geophysical Research Letters. Penelitian tersebut dikemukakan pertama kali pada tahun 1990 silam.

Sebelum pertengahan 1990-an, data satelit menunjukkan kutub bergerak perlahan ke selatan. Kemudian berbelok ke kiri dan mulai bergeser ke timur dengan kecepatan yang bertambah, bergerak sekitar sepersepuluh inci per tahun.

Peneliti Sains Atmosfer pada Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Erma Yulihastin membenarkan hal ini. Dia mengatakan, pada tahun 1990 ada penemuan yang menyatakan bahwa pencairan es di kutub utara telah menyebabkan perubahan distribusi air di permukaan bumi. Sehingga, menyebabkan pergeseran kutub. Jadi yang bergeser, menurut Erma adalah kutub bumi, bukan poros bumi.

Dia pun menjelaskan lebih lanjut mengenai hal ini. "Pergeseran kutub bumi karena redistribusi massa bisa dijelaskan dengan hukum kekekalan angular momentum," kata Erma saat dihubungi merdeka.com, Selasa (4/5).

infografis poros bumi bergeser

Sebagai lokasi sumbu rotasi bumi, para peneliti menemukan pergeseran kutub ke arah timur pada tahun 1995. Hingga 2020 tercatat terjadi sebanyak 17 kali lebih cepat dibandingkan dengan 1981 hingga 1995. Temuan lain dari para peneliti, terungkap pergeseran poros bumi juga terjadi karena pemompaan air tanah dilakukan manusia.

Seperti dikutip dari The Guardian, kondisi ini dikarenakan air tanah setelah dipompa untuk kebutuhan manusia, sebagian besar akhirnya mengalir ke laut dan mendistribusikan kembali bobotnya ke seluruh bumi. Diperkirakan dalam 50 tahun terakhir umat manusia di seluruh dunia telah menghilangkan 18 triliun ton air dari bawah tanah yang dalam tanpa diganti.

Memang masih diperlukan penelitian lebih mendalam mengenai dampak pencairan gletser terhadap redistribusi massa yang menyebabkan pergeseran kutub bumi. Erma memperkirakan pergeseran bisa juga disebabkan karena pergerakan lempeng bumi atau pergerakan magma.

Menurut Erma, manusia tidak perlu mengkhawatirkan bergesernya kutub bumi. Karena kata dia, angka pergeserannya sangat kecil sehingga tidak akan berdampak signifikan terhadap kehidupan. Lagi pula ada gravitasi bulan telah berperan dalam menstabilkan planet bumi.

"Perubahan kutub bumi kecil sekali sehingga tidak berpengaruh terhadap kehidupan manusia, selain itu ada gravitasi bulan. Peran gravitasi bulan dalam menstabilkan planet bumi cukup penting," ujar dia. "Sehingga keseimbangan sistem bumi-bulan akan tetap terjaga. Jadi tidak perlu dikhawatirkan," kata Erma menambahkan.

Antara Peristiwa Alami atau Ulah Manusia

Pergeseran poros bumi telah menunjukkan bagaimana aktivitas manusia berkontribusi mengubah poros bumi. Kondisi ini di mata peneliti dari University of Zurich, Swiss, Vincent Humphrey, merasa bahwa pergeseran memang tidak cukup besar untuk mempengaruhi kehidupan sehari-hari

Beberapa ilmuwan berpendapat sejak pertengahan abad ke-20, telah terjadi percepatan emisi karbon dioksida dan kenaikan permukaan laut, pembunuhan satwa liar, dan transformasi lahan melalui pertanian, penggundulan hutan, dan pembangunan. Tak hanya itu saja, poros bumi juga sudah terlepas dari garis edarnya. Es yang mencair mengubah bagaimana berat bumi didistribusikan.

"Ini memberi tahu Anda seberapa kuat perubahan massa (bumi) ini begitu besar sehingga dapat mengubah poros bumi. Namun, pergerakan poros bumi tidak cukup besar untuk mempengaruhi kehidupan sehari-hari," kata Vincent.

Bumi berputar diibaratkan seperti gasing. Jika berat didistribusikan secara merata, Bumi akan berputar dengan sempurna, tanpa bergoyang ke satu sisi atau ke sisi lain. Tetapi jika beberapa bebannya tak seimbang, bergeser ke satu sisi atau sisi lain dan itu akan mengubah pusat massa dan sumbu rotasi atas. Alhasil Bumi berputar condong ke sisi yang lebih berat saat berputar.

Dalam beberapa kejadian, perubahan distribusi es yang mencair di inti terluar bumi dapat mengubah distribusi massa planet. Cara air didistribusikan di permukaan Bumi juga berperan besar. Jadi, jika gletser di wilayah kutub mencair dan air bergabung dengan lautan, berat air itu menyebar ke wilayah yang berbeda.

Redistribusi itu, kata studi baru tersebut, adalah pendorong utama dari pergeseran kutub yang telah diamati para ilmuwan dalam beberapa dekade terakhir. Ditemukan juga, percepatan itu sejalan dengan percepatan pencairan es di sekitar Kutub Utara dan Selatan karena naiknya suhu permukaan dan laut di Bumi.

Dari catatan yang dibuat peneliti, Greenland telah kehilangan lebih dari 4,2 triliun ton es sejak 1992, yang berakibat naiknya permukaan laut global setinggi 0,4 inci (10,14 cm). Tingkat pencairan itu bahkan meningkat tujuh kali lipat, dari 36 miliar ton per tahun pada 1990-an menjadi 280 miliar ton per tahun dalam dekade terakhir.

Adapun rumus hukum kekekalan momentum sudut yaitu L= I dikali w (L=Iw). Dalam hal ini w merupakan kecepatan sudut rotasi bumi dan I merupakan momen inersia planet bumi. Diketahui, momen inersia merupakan gaya yang dimiliki benda diam untuk cenderung mempertahankan keadaannya terhadap gaya rotasi yang diberikan.

"L=Iw=konstan, kalau I berubah karena perubahan bentuk atau redistribusi massa, maka w harus berubah. Bisa perubahan kecepatan rotasi bumi, atau perubahan poros bumi, maupun keduanya," kata Erma menjelaskan.

Glester Cair Lebih Cepat

Pencairan gletser Antartika juga semakin cepat. Pada 1980-an, Antartika kehilangan 40 miliar ton es setiap tahun. Dalam satu dekade terakhir, angka tersebut melonjak hingga rata-rata 252 miliar ton per tahun.

Vincent tetap berkeyakinan pergeseran poros Bumi merupakan akibat dari mencairnya es di Kutub Utara dan Selatan. Es yang mencair bergabung dengan lautan, dan menyebabkan ketidakseimbangan poros bumi. Aktivitas manusia juga berpengaruh pada pergeseran poros bumi, seperti penggunaan air yang berlebihan, aktivitas penggundulan hutan, pembangunan, dan lain sebagainya.

Sumbu rotasi Bumi sebenarnya memang tidak lurus ke atas dan ke bawah seperti sumbu planet Merkurius atau Jupiter. Sebaliknya, sumbu Bumi miring dengan sudut 23,5 derajat. Itulah sebabnya belahan bumi utara dan selatan mendapatkan jumlah sinar matahari yang berbeda-beda pada waktu yang berbeda sepanjang tahun, dan kita memiliki musim.

Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Herizal, menyampaikan pandangan berbeda dari berbagai peneliti terkait pergeseran poron bumi. Dia mengatakan bahwa sebenarnya pergeseran poros bumi yang selama menyebabkan perubahan iklim.

Jika ada perubahan energi yang diterima di permukaan bumi maka akan ada bermacam penyesuaian terhadap atmosfer (udara), hidrosfer (air), kriosfer (es dan permafrost), biosfer (makhluk hidup), dan litosfer (kerak bumi dan mantel atas). Untuk diketahui sistem iklim terdiri dari lima bagian tersebut yang saling berinteraksi.

"Energi matahari distribusinya dari poros bumi yang kemiringannya 23,5 derajat. Kalau kemiringan ini bertambah, pastinya ada perubahan energi yang diterima permukaan bumi. Ketika ada perubahan energi yang diterima permukaan bumi, pasti ada penyesuaian-penyesuaian lagi terhadap 5 bagian itu, makanya iklim akan berubah," kata Herizal saat dihubungi merdeka.com.

Diketahui, sumbu rotasi bumi tidak lurus ke atas dan ke bawah seperti sumbu Planet Merkurius atau Jupiter. Namun, sumbu Bumi miring dengan sudut 23,5 derajat. Kemiringan itu membuat matahari tidak selalu terlihat di atas khatulistiwa. Matahari akan terlihat berada di utara atau selatan bumi.

Peneliti Pusat Sains dan Antariksa LAPAN, Fitri Nuraeni, mengungkapkan kutub magnet bumi memang bergeser setiap tahunnya sejak jutaan tahun yang lalu. Bahkan kutub magnet Utara-Selatan Bumi sempat bertukar posisi pada 780.000 tahun yang lalu. Diperkirakan perubahan medan magnet ini akan berlangsung ribuan tahun.

Fitri kemudian menegaskan bahwa yang berubah bukanlah poros bumi namun kutub magnet bumi.

"780.000 tahun lalu, medan magnet bumi berbalik arah. kutub magnet bumi memang bergeser setiap tahun. Kutub yang bergeser bukan poros," kata Fitri saat dihubungi.

Menurutnya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari pergeseran kutub bumi. Karena kata dia, angka pergeseran tersebut sangatlah kecil. Hanya sekitar 1 derajat per tahun. Sehingga tidak akan berdampak langsung terhadap kehidupan manusia. Sekalipun penelitian terbaru menunjukkan bahwa pergeseran magnet bumi lebih cepat 10 kali lipat.

"Saking kecilnya pergeserannya memang cukup merubah perhitungan setiap 5 tahun sekali, kita akumulasi setiap 5 tahun," ungkapnya. Pergeseran kutub memang dari magnet di dalam buminya. Kondisi itu suatu hal alamiah.

Studi Paleomagnetik pada masa lalu telah menunjukkan bahwa medan magnet dapat mengubah arah hingga 1 derajat per tahun, tetapi studi terbaru menunjukkan bahwa pergerakan mencapai 10 derajat per tahun. Studi ini didasarkan pada simulasi komputer terinci dari inti luar Bumi yang terbuat dari nikel dan besi sekitar 2.800 kilometer (1.740 mil) di bawah permukaan Bumi.

Inti luar tersebut mengendalikan medan magnet di Bumi. Interaksi antara inti Bumi dan medan magnet sangat kompleks. Intensitas magnet dapat bervariasi dari waktu ke waktu dan di lokasi yang berbeda di inti dan di permukaan Bumi "Terkait medan magnet bumi bergerak 10 kali lipat lebih cepat, memang perhitungan dan buktinya seperti itu," dia menjelaskan. [ang]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini