Gadis pelumas dari Bongas
Merdeka.com - Jalan menuju kampung itu begitu rapih. Aspalnya tidak berlubang dan deretan rumah di sepanjang jalan nyaris tidak ada yang kumuh. Bahkan terlihat mewah. Itulah sekilas gambaran Desa Bongas Blok Pentil, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Warga sekitar kerap menyebut desa ini sebagai sapi berangas. Dari jalan lintas Pantai Utara, kita akan melewati Desa Bongas Blok Jamban lebih dulu sebelum tiba di Bongas Blok Pentil. Kedua desa ini berbatasan dengan Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Ketika merdeka.com ke sana akhir bulan lalu, nyaris tidak ada anak muda di sapi berangas. Saban siang, Desa ini sepi. Hanya beberapa orang tua asyik menggembala kambing menyusuri sungai kecil menuju Pantai Utara. "Ya seperti ini kondisinya, ramainya bulan puasa," kata Ketua Yayasan Kusuma Bongas, Syarifuddin, saat berbicang dengan peserta kunjungan lapangan Jurnalis Sensitif Tindak Pidana Perdagangan Orang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia.
Selama satu dasawarsa terakhir, Desa Bongas dikenal sebagai kampung penjual manusia dan pemasok tenaga kerja ke luar negeri. Awal terkuaknya ketika Yayasan Kusuma Jakarta menangani perdagangan manusia. Kebanyakan korban dari Bongas.
"Di tahun itu, orang sini tidak memiliki pendidikan," ujarnya. Ekonomi juga menjadi faktor penunjang jual beli orang terus marak di daerah ini. Dengan mayoritas penduduk bekerja sebagai buruh tani, iming-iming kerja dengan gaji besar di luar negeri atau Jakarta menjadi daya tarik.
Promotor atau agen masuk ke desa-desa menawarkan pekerjaan di Jakarta. Mereka biasanya mencari gadis-gadis desa mau bekerja di kafe dan restoran. Sejatinya, mereka bakal dijadikan pelacur. Sebagai sogokan, agen memberikan Rp 2 juta kepada orang tua korban. Kebanyakan gadis-gadis asal Desa Bongas dipekerjakan di lokalisasi Jakarta, seperti Kramat Tunggak dan Mangga Besar.
Sindikat ini kini beroperasi secara rahasia. germo menunjuk orang kepercayaan buat mencari gadis-gadis. Ironisnya orang tua yang mendapat tawaran itu justru menyuruh anaknya mau dengan harapan membawa pulang banyak uang. Fulus sogokan Rp 2 juta disebut uang bedak. "Kalau sudah satu minggu bekerja, germo akan memberikan pinjaman ke orang tua korban, mulai dari Rp 40 juta sampai Rp 50 juta," tutur Syarifuddin.
Bekas agen telah insyaf, Nono Taryono, mengaku dulu gampang merayu gadis-gadis desa. Selama 1995 hingga 1997, dia mampu mengirim 12 gadis untuk bekerja di sebuah rumah bordil di Pulau Sumatera. Sebagai imbalan, Nono mendapat komisi Rp 200 ribu per kepala dari germo. "Untuk saat ini, komisi dibayar per jam. Komisi kita ambil ke lokalisasi dengan melihat catatan tamu." (mdk/fas)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya