Dipilih pasien karena murah dan cepat

Selasa, 10 Januari 2017 08:16 Reporter : Intan Umbari Prihatin
Demo Tukang Gigi. ©2012 Merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Cepat dan murah. Dua hal itu yang diinginkan masyarakat ketika mereka membutuhkan layanan kesehatan. Meski lebih berisiko dibanding ke dokter gigi, jasa tukang gigi dipilih oleh sebagian masyarakat karena alasan biaya dan waktu.

Saat ditemui merdeka.com di salah satu tukang gigi di Jakarta Barat, Rozak mengaku datang ke tempat praktik tukang gigi tersebut untuk menambal giginya yang berlubang. "Saya datang ke sini mau nambal," kata Rozak sambil mengelus pipinya yang kelihatan kesakitan akibat giginya yang bolong.

Merdeka.com mewawancarai beberapa menit setelah Rozak ditambal giginya oleh tukang gigi. Menurut Rozak, keadaannya membaik setelah giginya ditambal. "Enggak apa-apa sekarang sudah agak lumayan, walaupun masih sedikit senut-senut," tukasnya.

Saat berada di dalam, ujarnya, peralatan yang dimiliki oleh tukang gigi yang menjadi langganannya mirip di klinik dokter gigi. "Di dalam ya ada kursi yang bisa naik turun gitu, ada peralatan dokter juga, tapi saya enggak ngerti," terangnya.

Rozak mengaku lebih memilih tukang gigi daripada dokter gigi karena di samping harganya relatif terjangkau untuk masyarakat menengah ke bawah sepertinya, juga cepat tanpa pemeriksaan terlebih dahulu. "Ya di sini cepat, murah lagi. Di dalam sih tadi enggak periksa-periksa. Tinggal ngomong mau diapain. Ya diperiksa dikit kenapa, ada yang sakit di sebelah mana," ujarnya.

Tukang gigi ©2017 Merdeka.com/intan umbari


Memang Rozak pun mengakui berobat ke dokter gigi lebih aman dan terjamin daripada ke tukang gigi. Tapi kondisi keuangannya tidak cukup selain biaya periksanya ditambah resep obatnya yang mahal. "Ya ke dokter gigi lebih bagus tapi ya saya gak kuat bayarnya," keluhnya.

Tidak hanya Rozak yang lebih memilih ke tukang gigi. Idah (60) yang sudah memiliki langganan tukang gigi di kawasan Jakarta Selatan, setiap dua tahun sekali selalu mengganti gigi palsunya. "Ya maklum, kalau di dokter gigi itu mahal, satu gigi bisa Rp 500 ribu. Kalau di tukang gigi langganan saya cuma Rp 150 ribu per gigi," kata Idah sambil tersenyum memperlihatkan gigi palsunya.

Dia juga mengakui lebih nyaman di tukang gigi karena tidak harus membayar lebih. "Cuma bayar gigi yang saya butuhkan berapa," kata Idah.

Di dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 39 Tahun 2014 tentang Pembinaan, Pengawasan Dan Perizinan, Pekerjaan Tukang Gigi, di Pasal 6 ayat 2 yang dimaksud dengan tukang gigi adalah setiap orang yang mempunyai kemampuan membuat dan memasang gigi tiruan lepasan. Sedangkan praktik mencabut gigi dan menambal tidak boleh dilakukan oleh tukang gigi. Aturan ini yang banyak dilanggar.

Lebih dipilihnya tukang gigi daripada dokter gigi oleh kalangan menengah ke bawah ini diakui oleh seorang dokter gigi yang memiliki klinik di Bekasi Drg Haidy Wicaksono. Menurutnya, murah dan cepat menjadi dua alasan utama profesi tukang gigi tetap bertahan. Tapi, lanjut dia, murah dan cepat itu kadang tidak memperhatikan akibat atau efek samping yang ditimbulkan selanjutnya.

"Mungkin banyak masyarakat yang belum tahu, mereka maunya cepat. Misalnya kan mau buat gigi palsu ya kan harusnya dicabut dulu, nunggu sembuh dulu kan prosesnya lama ya. Dan memakan biaya juga. Kalau tukang gigi kan, itu bisa. Padahal enggak boleh. Nanti kan bisa jadi bermasalah," terang Haidy kapada merdeka.com.

Namun, Haidy enggan mempermasalahkan itu karena bukan kewenangan dia. "Ya itu terbatas kemampuannya. Kita punya kompetensi sendiri-sendiri. Secara tidak langsung tukang gigi punya kompetensi masing-masing. Contoh kan ada akar gigi yang harus dicabut dan mereka tidak punya kompetensi untuk mencabut gigi," pungkasnya. [bal]

Topik berita Terkait:
  1. Kesehatan
  2. Gigi Palsu
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.