Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Brasil: Isu korupsi dan politisasi

Brasil: Isu korupsi dan politisasi mantan presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva. ©AFP

Merdeka.com - Dalam mitologi Romawi, keadilan hukum dilambangkan dengan sosok Justitia, seorang dewi yang tertutup matanya membawa timbangan dan pedang. Justitia seharusnya memang tak melihat siapa yang melakukan kesalahan agar ia tak tebang pilih dan tegas serta adil dalam memutus perkara.

Kekisruhan di Brasil saat ini karena isu korupsi mantan Presiden Luiz Inacio Lula da Silva, yang telah dipolitisasi sedemikian rupa oleh lawan politiknya melalui berbagai cara, telah mendorong kedua pihak mengerahkan masa dan mendorong menjadi isu politik sehingga sang Dewi Justitia nampaknya dipaksa membuka matanya karena saking banyaknya tokoh dari berbagai pihak yang diduga korupsi dan masing-masing ingin menjatuhkan satu sama lain.

Jumat pagi (4/3), Lula digelandang oleh polisi dari rumahnya di Sao Paulo, dalam operasi yang disebut lava jato (cuci mobil) yang ingin menyelidiki kasus korupsi besar-besaran yang melibatkan suap dari para kontraktor yang ingin mengamankan proyek dari Petrobas (Pertaminanya Brasil). Lula dan konco-konconya diduga cuci uang dari jutaan USD suap dalam bentuk uang dan barang. Lula dimintai keterangan selama 3 jam namun kemudian dilepas.

Penangkapan itu menimbulkan gejolak politik luar biasa. Majelis Rendah Kongres yang dikuasai Partai Pekerja (PP) di mana Lula dan Presiden Dilma Rouseff bernaung, menyatakan perang politik dan Lula dianggap sebagai tahanan politik. Terdengar kabar pula bahwa PP juga mendesak Roussef untuk memberi Lula jabatan menteri yang bisa melindunginya dari penahanan dan kemudian hanya bisa diadili di Mahkamah Agung dan terlepas dari cengkeraman Jaksa Federal.

Kalangan oposisi tak pelak memanfaatkan isu ini. Hari Minggu lalu (13/3) sekitar sepuluh ribu demonstran berarak di berbagai kota besar seperti Brasilia dan Rio de Janeiro menuntut pemakzulan Roussef. Boneka Lula dan Roussef berpakaian narapidana diarak dengan tuntutan supaya Roussef lengser dan korupsi dihentikan. Demonstrasi tandingan juga dilakukan oleh pendukung Lula.

Masalahnya banyak lawan politik yang menginginkan Lula dipenjara dan Presiden Rouseff dimakzulkan juga kecipratan atau mencipratkan diri dari suap dan sogok sehingga PP menuduh Jaksa tebang pilih. Penyelidikan atas Petrobras sejauh ini mengindikasikan melibatkan berbagai tokoh partai dari Partai Sosial Demokrat Brasil (PSDB) dan Partai

Sosialis pimpinan Marina Silva.

Seperti kita tahu, pemerintahan Brasil saat ini dipimpin oleh koalisi PP dan Partai Gerakan Demokratis Brasil (PGDB). Tapi aliansi ini justru diperlemah oleh tokoh PGDB sendiri sekaligus Presiden Kongres Brasil, Eduado Cunha yang mendekat ke oposisi kanan. Cunha yang saat ini juga dalam pemeriksaan skandal suap terkait Petrobras menginginkan perubahan sistem pemerintahan dari presidensial menjadi parlementer dan hal ini didukung oleh oposisi utama partai sayap kanan PSDB pimpinan Senator Aecio Neves yang mencalonkan diri pada pemilihan presiden tahun 2014 dan meminta pemakzulan Roussef.

Media massa pendukung oposisi juga gencar menciptakan opini publik negatif dan memotret Roussef yang pernah memimpin Petrobras tahun 2003-2010 sebagai orang yang bertanggungjawab atas skandal korupsi ini. Media juga tak henti menggambarkan PP sebagai partai korup dan birokratis yang salah dalam mengelola BUMN, tapi jarang sekali

mengkritik pemerintahan PGDB di Sao Paulo.

Lalu ke arah mana politisasi kasus korupsi ini akan menuju? Setelah santer berita Lula ditahan, mata uang Brasil, Real menguat 3 persen dan nilai saham Petrobras menjadi lebih mahal 14 persen. Rupanya para pemain saham meyakini bahwa koalisi baru opsisi akan mengambil alih kekuasaan yang dinilai akan lebih ramah kepada pasar dibanding Presiden Roussef.

Secara geopolitik, kalau Lula ditahan dan Roussef jatuh maka lengkaplah perubahan lanskap politik Amerika Selatan. Partai Konservatif yang lebih ramah pada pasar telah menang di Argentina dan kelompok kanan Venezuela yang makin menguat telah mengusulkan referendum untuk memakzulkan Presiden Maduro yang kiri.

Dalam organisasi regional Amerika Selatan Mercosur (Mercado Común del Sur atau Pasar Bersama Selatan) yang beranggotakan Argentina, Brazil,Paraguay, Uruguay and Venezuela, saat ini hanya Brasil, Venezuela dan Bolivia yang masih ogah masuk perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Eropa apalagi dengan Perjanjian Trans Pasifik ciptaan

Amerika. Jadi, bila oposisi kanan Brasil berjaya menjatuhkan Roussef maka lanskap politik Amerika Latin yang ramah pada arus perdagangan bebas akan mudah tercipta. (mdk/war)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP